Seandainya Nasib Penderita Gangguan Jiwa Sebaik Penderita HIV-AIDS

Arloji di tangan saya telah menunjukkan pukul sembilan lebih lima belas menit. Kuliah tentang kesehatan jiwa yang sedang saya sampaikan pada siswa SMAN 1 Banda Aceh segera saya akhiri. Seorang guru yang hendak mengajar pada jam berikutnya telah berdiri di depan pintu. Meski masih banyak pertanyaan dari siswa yang begitu antusias mendengar penjelasan saya tentang gangguan jiwa, tetapi saya terpaksa menyudahinya. Selain karena waktu yang diberikan telah usai, saya pun harus segera meluncur ke aula sebuah hotel berbintang ternama di Banda Aceh. Acara sosialisasi tentang HIV-AIDS sedang diselenggarakan di sana dan kebetulan saya juga mendapatkan undangan untuk ikut sebagai peserta di acara yang disponsori oleh sebuah organisasi internasional.

Ketika saya tiba di sana, ternyata pemateri sedang menyampaikan materi tentang HIV-AIDS. Karena saya adalah seorang praktisi kesehatan, maka sekilas informasi yang disampaikan sudah saya ketahui sebelumnya. Namun, ada informasi baru yang saya dapatkan yaitu tentang peningkatan jumlah penderita HIV AIDS di Aceh yang kini mencapai 220 orang dan juga tentang banyaknya klinik dan rumah sakit yang bisa digunakan oleh penderita HIV ini untuk mendapatkan pengobatan. Continue reading