Berbagi Ilmu Kesehatan Jiwa dengan Siswa SMA

Jam tujuh lewat beberapa menit pagi tadi, saya sudah lebih rapi dari biasanya. Biasanya jam segitu saya masih nongkrong di warung kopi depan rumah, sambil baca koran dan menyeruput kopi hitam pekat khas warung tradisional tersebut. Memang, saya baru memulai rutinitassetelah jam 8. Namun, pagi tadi saya harus buru-buru ke sebuah sekolah tingkat atas di Banda Aceh. Janji dengan kawan yang juga guru di sekolah tersebut harus saya penuhi. Mau tak mau, saya pun harus mengikuti jam masuk sekolah, 07.30 WIB.

Dengan skutik putih-biru, saya menembus jalanan kota yang hanya macet di dekat lampu merah. Ya, jam-jam segini adalah waktunya anak-anak pergi ke sekolah atau ibu/bapak yang berangkat ke kantor. Setelah menempuh perjalanan beberapa menit, saya pun tiba di tempat tujuan saya,  SMA 1 Banda Aceh. Teman yang hendak saya jumpai ternyata telah menunggu di pintu gerbang. Dia pun memperkenalkan saya ke bagian pengajaran dan selanjutnya kami meluncur ke sebuah kelas yang gurunya tidak ada. Saat ini sekolah yang terletak berhadapan dengan lapangan Blang Padang itu sedang “minggu tenang”. Para siswa baru menyelesaikan ujian semester. Jadi, sambil menunggupembagian rapor yang jatuh pada hari Sabtu, teman saya yang merupakan guru di sekolah favorit terebut mengajakku untuk berbagi dengan para generasi penerus negeri. Continue reading

Artikel: Program Bebas Pasung di Aceh

Buat rekan2 yang mencari referensi, tulisan, atau artikel mengenai program bebas pasung 2010 di Aceh-Indonesia, berikut ada artikel yang kami presentasikan tahun kemarin di Vancouver Canada.

DSC_0297

Artikel lengkapnya sudah di print out dalam buku proceeding konferensi tersebut, tapi setelah di scan, hasilnya kurang bagus, jadinya kami upload aja yang aslinya disini.

DSC_0298

Silakan klik Marthoenis_Releasing the mentally ills from physical restraint_full Article berikut untuk mendownload tulisan lengkapnya.

Download Full Article

Sekian, semoga membantu,

salam sehat jiwa 😀

moersalin

“Pasung”, A story of a chained man and a restrained girl

A man of silence

A 50–year-old man had sat in the dark. With both of his legs chained, he had barely moved. The chains had been quite old- brown and rusted. These chains had been linked with padlocks to a longer chain, which had been locked to a one and a half meter long, wood of a coconut tree. He had remained in the corner of a poor, wooden house kitchen and he hadn’t talked at all. He had been silent. For more than fifteen years, this had been his state.

Before he was locked up, he had a good trading business, by which he raised his kids and fulfilled his family’s needs. This was before business problems and military conflicts brought him misfortunes. He started acting strange, wandering in the village, suffering from a short-temper, and hitting villagers for no reason. The community labelled him a “crazy man”. The family tried to seek help from traditional or religious healers several times, but were unable to change his eccentric behaviour. Later the family offered a “normal” and commonly accepted “treatment” by restraining him with wood and chains, “pasung”. Continue reading