Dipanggil Hadiah

“Kenapa gak pernah nulis lagi?” begitu protes istri beberapa hari lalu, benar memang, tulisan terakhir yang saya update ke blog ini sudah hampir sebulan lalu. untuk pertanyaan istri, ingin saya jawab “udah tau nanya”, tapi  saya diamkan saja, karena memang fokus saya saat ini bukan menulis blog, tapi menulis hal lain yang lebih tertantang dan wajib hukumnya.

Dan karena tidak tahu harus menulis apa, jadinya saya tuliskan saja pengalaman yang tidak lucu lucu sekali, namun sempat membuat saya “teu-hing” setelahnya. Continue reading

Ngopi gratis di Rumah Sakit Jiwa Berlin

Ada dua hal yang membuatku betah dan sering berkunjung ke rumah sakit jiwa yang terletak di jantung kota Berlin, Jerman. Pertama disana aku bisa lebih leluasa berkonsultasi mengenai penelitian dengan profesor pembimbingku dan yang kedua, sambil menunggu giliran bertemu, aku bisa minum minuman gratis yang disediakan untuk pengunjung, termasuk pasien atau mahasiswa sepertiku. Benar, gratis, dan yang tersedia tidak hanya kopi, tapi juga ada jus, teh, dan tentunya air putih. Air putihnya juga ada 2 pilihan, ada yang bersoda, ada juga yang tidak.  Kopi dan teh biasanya dimasukkan dalam termos, kita tinggal tuang kedalam gelas yang tersedia disana.  Kalau mau campur susu juga tersedia. Sedangkan jus nya berganti ganti, kadang jus apel, jus jeruk, jus buah, banyak dan aku hampir pernah men coba semuanya, gratis sih.

kopi di salah satu sudtWalau di kampung kami punya kebun kopi dan orangtuaku adalah pensiunan petani kopi, aku bukan orang yang selalu suka dengan biji goingseng hitam ini. Agak aneh memang karena kebanyakan orang Aceh adalah peminum kopi yang hebat, mungkin sama seperti orang Finlandia yang menjadi peminum kopi terbanyak didunia, bisa mencapai 12 Kg kopi per orang per tahun. Tidak ada statistik yang pasti memang untuk orang Aceh, tapi aku yakin angkanya bisa sebanyak itu. Buktinya kota Banda Aceh kini punya gelar baru “kota seribu warung kopi”. Karena bukan penggemar kopi, aku biasanya minum teh, biasanya campur “sedikit” susu dan gula tentunya.

Gaya minum teh-ku sekilas mirip gaya Inggris, teh campur susu, tapi ketika kupastikan hal itu ke seorang kawan yang asli berasal dari Liverpool, katanya campuran susu ke teh terlalu banyak, dan mereka jarang memasukkan gula sebanyak yang aku masukkan (ini gk usah dijelaskan lagi, hehe) Continue reading

Linto Kak dek ti Jadi Anggota Dewan!

Tersebutlah namanya siti, biasa dipanggil dek ti, anak bungsung enam bersaudara, walau usianya sudah tidak lagi muda, sudah kepala empat, tapi tetap saja para tetangga memanggilnya dek ti. “Dek” dalam bahasa aceh artinya adik, dan jika ada orang yang lebih muda dari dek ti memanggil namanya, kata-kata dek tetap saja di sematkan dan biasanya ditambah kata “kak” yang berarti kakak, sehingga panggilan lengkapnya adalah “kak dek ti”.

DSC_0410Pagi itu, sang surya masih malu malu menampkannya cahaya, masih bersembunyi dibalik gunong seulawan, seakan tidak mau lepas dari ikatan gelap malam. Di desa yang penuh dengan pepohonan rindang nan hijau itu, asap mengempul keluar daru “bara” rumah penduduk yang umumnya terbuat dari kayu. Begitu juga dengan rumah kak dek ti, dia sedang memasak nasi dengan kayu bakar untuk suami dan ibunya yang tinggal dengan mereka. Lazim bagi masyarakat Aceh orang tua tinggal dengan anak bungsu perempuan. Sedangkan saudara-saudara lain kak dek ti semuanya sudah merantau, menikah dan ikut pasangannnya, hanya kak dek ti yang, mau tak mau, betah tinggal dikampung untuk merawat orang tuanya semata wayang terserbut. Continue reading

Aku dan Hikayat Sandal Jepit

“Hei, kamu, yang duduk paling belakang, kamu pakai sandal jepit ya? kamu pikir kampus ini sawah kamu ya? keluar kamu….” suara sang dosen yang serak dan berat itu berteriak ke wajahku, seluruh mata di ruang kuliah juga kini menatapku, padahal aku sudah menyembunyikan sebisa mungkin, agar sandal yang kupakai tidak nampak ke dia, tapi matanya emang jeli, “dasar dosen obgyn, yang kecil2 selalu nampak di matanya” teriak batinku.

silopAku mengambil tas, bangkit dan kemudian menuju pintu keluar ruangan. Aku tahu, tak akan berhasil untuk membujuknya, merayu atau minta maaf. “Masih untung tidak di tanya siapa nama, nomor mahasiswa untuk di catat di buku merahnya” pikirku. Padahal pagi itu kuliah baru saja dimulai, semangat mahasiswaku masih tinggi tingginya, walau keringat di tubuh masih belum seluruhnya kering, hasil bergantungan di robur ijo dari jambo tape sampai Darussalam, plus jalan kaki ke kampus kami yang memang terletak paling belakang. hmmm…nasib. Continue reading

Artikel: Program Bebas Pasung di Aceh

Buat rekan2 yang mencari referensi, tulisan, atau artikel mengenai program bebas pasung 2010 di Aceh-Indonesia, berikut ada artikel yang kami presentasikan tahun kemarin di Vancouver Canada.

DSC_0297

Artikel lengkapnya sudah di print out dalam buku proceeding konferensi tersebut, tapi setelah di scan, hasilnya kurang bagus, jadinya kami upload aja yang aslinya disini.

DSC_0298

Silakan klik Marthoenis_Releasing the mentally ills from physical restraint_full Article berikut untuk mendownload tulisan lengkapnya.

Download Full Article

Sekian, semoga membantu,

salam sehat jiwa 😀

moersalin