Berbagi Ilmu Kesehatan Jiwa dengan Siswa SMA

Jam tujuh lewat beberapa menit pagi tadi, saya sudah lebih rapi dari biasanya. Biasanya jam segitu saya masih nongkrong di warung kopi depan rumah, sambil baca koran dan menyeruput kopi hitam pekat khas warung tradisional tersebut. Memang, saya baru memulai rutinitassetelah jam 8. Namun, pagi tadi saya harus buru-buru ke sebuah sekolah tingkat atas di Banda Aceh. Janji dengan kawan yang juga guru di sekolah tersebut harus saya penuhi. Mau tak mau, saya pun harus mengikuti jam masuk sekolah, 07.30 WIB.

Dengan skutik putih-biru, saya menembus jalanan kota yang hanya macet di dekat lampu merah. Ya, jam-jam segini adalah waktunya anak-anak pergi ke sekolah atau ibu/bapak yang berangkat ke kantor. Setelah menempuh perjalanan beberapa menit, saya pun tiba di tempat tujuan saya,  SMA 1 Banda Aceh. Teman yang hendak saya jumpai ternyata telah menunggu di pintu gerbang. Dia pun memperkenalkan saya ke bagian pengajaran dan selanjutnya kami meluncur ke sebuah kelas yang gurunya tidak ada. Saat ini sekolah yang terletak berhadapan dengan lapangan Blang Padang itu sedang “minggu tenang”. Para siswa baru menyelesaikan ujian semester. Jadi, sambil menunggupembagian rapor yang jatuh pada hari Sabtu, teman saya yang merupakan guru di sekolah favorit terebut mengajakku untuk berbagi dengan para generasi penerus negeri. Continue reading

Advertisement

Ngopi gratis di Rumah Sakit Jiwa Berlin

Ada dua hal yang membuatku betah dan sering berkunjung ke rumah sakit jiwa yang terletak di jantung kota Berlin, Jerman. Pertama disana aku bisa lebih leluasa berkonsultasi mengenai penelitian dengan profesor pembimbingku dan yang kedua, sambil menunggu giliran bertemu, aku bisa minum minuman gratis yang disediakan untuk pengunjung, termasuk pasien atau mahasiswa sepertiku. Benar, gratis, dan yang tersedia tidak hanya kopi, tapi juga ada jus, teh, dan tentunya air putih. Air putihnya juga ada 2 pilihan, ada yang bersoda, ada juga yang tidak.  Kopi dan teh biasanya dimasukkan dalam termos, kita tinggal tuang kedalam gelas yang tersedia disana.  Kalau mau campur susu juga tersedia. Sedangkan jus nya berganti ganti, kadang jus apel, jus jeruk, jus buah, banyak dan aku hampir pernah men coba semuanya, gratis sih.

kopi di salah satu sudtWalau di kampung kami punya kebun kopi dan orangtuaku adalah pensiunan petani kopi, aku bukan orang yang selalu suka dengan biji goingseng hitam ini. Agak aneh memang karena kebanyakan orang Aceh adalah peminum kopi yang hebat, mungkin sama seperti orang Finlandia yang menjadi peminum kopi terbanyak didunia, bisa mencapai 12 Kg kopi per orang per tahun. Tidak ada statistik yang pasti memang untuk orang Aceh, tapi aku yakin angkanya bisa sebanyak itu. Buktinya kota Banda Aceh kini punya gelar baru “kota seribu warung kopi”. Karena bukan penggemar kopi, aku biasanya minum teh, biasanya campur “sedikit” susu dan gula tentunya.

Gaya minum teh-ku sekilas mirip gaya Inggris, teh campur susu, tapi ketika kupastikan hal itu ke seorang kawan yang asli berasal dari Liverpool, katanya campuran susu ke teh terlalu banyak, dan mereka jarang memasukkan gula sebanyak yang aku masukkan (ini gk usah dijelaskan lagi, hehe) Continue reading

Benarkah hobi memotret makanan itu gangguan jiwa?

Sebuah kicauan muncul di twitter, sebuah berita tentang hobi orang jaman sekarang, ritual memotret makanan sebelum dimakan. Dan yang membuat saya tertarik adalah judulnya, yang katanya kebiasaan memotret makanan tersebut bisa saja mengalami gangguan jiwa. What??foto makanan

Karena kedua topik itu berkaitan erat dengan hobi dan pekerjaan saya, hobi photo  dan kerja di kesehatan jiwa, link nya pun saya buka. Sebuah berita dari media nasional online, yang ternyata juga hasil saduran dari media asing, terlihat disana. Setelah membaca seluruh isi beritanya, saya tidak langsung percaya begitu saja, tapi juga mencoba membaca info  langsung dari sumber berita tersebut. Continue reading

Artikel: Program Bebas Pasung di Aceh

Buat rekan2 yang mencari referensi, tulisan, atau artikel mengenai program bebas pasung 2010 di Aceh-Indonesia, berikut ada artikel yang kami presentasikan tahun kemarin di Vancouver Canada.

DSC_0297

Artikel lengkapnya sudah di print out dalam buku proceeding konferensi tersebut, tapi setelah di scan, hasilnya kurang bagus, jadinya kami upload aja yang aslinya disini.

DSC_0298

Silakan klik Marthoenis_Releasing the mentally ills from physical restraint_full Article berikut untuk mendownload tulisan lengkapnya.

Download Full Article

Sekian, semoga membantu,

salam sehat jiwa 😀

moersalin

Serunya Mengajar Antropologi Medis

Membaca kembali sari sari jawaban yang diberikan mahasiswa saat aku mengajar Med Antro dulu, membuatku rindu untuk mengajar mata kuliah ini. Bukan jurusanku memang, tapi entah kenapa aku jadi tertarik dengan mata kuliah ini. Waktu S1 dulu aku malah tak tahu sama sekali maksud dan tujuan mata kuliah antropologi medis, yang aku ingat hanya “ek ek, orang kampung lebih senag beol di hutan atau di sungai, dan sebagainya (tau kan siapa dosennya?). Namun pandanganku berubah total saat harus mengambil mata kuliah ini di program master kampungnya Peter Debye (gak tahu kan siapa dia? hehe, dia adalah pemenang Continue reading

Juara Lomba Suami Setia

Jika ada kompetisi lomba suami setia, maka gelar itu akan kualamatkan kepada salah seorang tetanggaku. Sebut saja namanya Gani atau tepatnya Yahwa Gani. Aku memanggilnya Yahwa karena memang usianya sedikit lebih tua dari orang tuaku (yahwa: paman dalam Bahasa Aceh, sebutan untuk orang yang lebih tua dari ibu atau bapak, sedangkan yang lebih muda disebut “Apa”). Yahwa Gani bukanlah seorang tokoh yang disegani oleh masyarakat. Ia tidak kaya juga tidak terkenal, yang mengenalnya paling tetangga, teman sesama pekerja dan keluarga tentunya. Hartanya juga tidak pernah banyak, malah selalu menjadi langganan mustahik zakat fitrah setiap tahun. Dengan kata lain, beliau adalah orang dengan kehidupan yang pas pasan.

Aku telah mengenal Yahwa Gani sejak aku masih kecil. Ketika aku masih suka bermain tanah, lelaki itu telah akrab denganku. Anak keduanya adalah kawan sepermainanku. Sayangnya, dia telah kembali kepangkuan ilahi dalam usia yang masih belia. Alasan kematiannya sampai sekarang masih belum bisa kuterima dengan akal sehat; digigit tawon. Memangnya gigitan tawon itu bisa menyebabkan seseorang meninggal dunia? Anak Yahwa yang pertama kadang juga ikut bermain dengan kami, tetapi kami tidak begitu dekat karena ia seorang perempuan. Continue reading