Ngeblog pakai hape Asus Zenfone 3

Lama sekali sudah tidak nge post disini. Padahal ini adalah blog resmi saya, sstelah multiplay dan friendster tentunya.

Well, gak banyak yang bisa aaya cerita untuk sekarang ini, kerana memang sedang sibuk ngejar tulisan lain yg lebih penting.

Oh iya, jni ngepost nya pake hape asus zenfone 3, yang merupakan hadiah dari istri yang ulang tahun :), hebat kan? Dia yg ultah, dia yg ngasi hadiah 🙂

ini coba masuin foto yg diambil pakai hape asus zenfone 3 ini ya

Itu pemandangan di tanah sawah yang mau dibangun rumah insya Allah.

Kalau ini pemandangan sore2 di Ulee lheu

Indah bukan? Itu aja dulu 🙂

Advertisements

Beda Islam dengan Arab

☘☘☘🕷🕷🕷☘☘☘🕷🕷🕷
*BILA INGIN MEMAHAMI ISLAM, BACALAH TULISAN DI BAWAH INI DENGAN FOKUS DAN SABAR*
*Islam atau Arab*
Tulisan ini untuk mengajak umat muslim Indonesia lebih kritis dalam memahami tentang “ISLAM dan ARAB’ dengan kebudayaannya, sehingga kita tidak terperangkap dalam kesesatan pemikiran yang sempit tentang
                   *I S L A M*
1. Menjadi Muslim berbeda dengan menjadi orang Arab, maka “ISLAMISASI” jelas-jelas berbeda dengan “ARABISASI”.
2. Islam itu bukan ajaran Arab, walaupun :

» Al-Qur’an berbahasa Arab, 

» dan Nabi Muhammad dari kaum Arab. 

Islam itu ‘Jalan Hidup’, ‘Prinsip Hidup’ bukan keyakinan orang Arab.
3. Faktanya …

» Turunnya ajaran Islam justru ‘ditentang’ oleh kaum Arab di masa itu karena Islam datang mengubah 

» Tradisi, 

» Keyakinan, 

» Kebiasaan jahiliyah orang-orang Arab.
4. Islam datang kepada kaum Arab membawa ‘Tatanan yang Baru’ sama sekali, baik dalam hal 

» Tradisi, 

» Kebiasaan, 

» Akhlak, 

» Hukum, 

» dan juga Cara Hidup.
5. Perlu dicatat … !!!

Karena Al-Qur’an dan Nabi Muhammad berbahasa Arab, maka ‘Bahasa Arab’ juga tidak bisa dipisahkan dari ‘Agama Islam’ karena Kitab Sucinya adalah berbahasa Arab.
6. Juga sebuah kewajaran bahwa Agama Islam awalnya disebarkan oleh orang Arab karena memang agama Allah yang pamungkas ini berasal dari sana.
7. Mengenai tokoh-tokoh besar Agama Islam ini adalah orang Arab itu pun wajar saja, karena merekalah kaum awal yang beragama Islam.
8. Jadi bisa dikatakan :

» Arab belum tentu Islam, 

» dan Islam tidak harus Arab, 

» yang jelas Islam itu pasti berdasarkan 
                 “Al-Qur’an 

                       dan 

                As-Sunnah”
9. Juga salah besar, bila dikatakan bahwa “Islamisasi sama dengan Arabisasi”, lantas menolak Islamisasi dengan dalih, 
“Ini Indonesia, bukan Arab” 
10. Apa bedanya ?

Jelas beda sekali, menjadi Arab atau bukan Arab itu adalah ‘TAKDIR’, sedangkan mengambil Islam atau mengabaikannya, itu adalah ‘PILIHAN’
11. Islam itu ya Islam !!!

Tidak perlu ada pandangan : 
   “Disana Islam Arab, 

disini Islam Nusantara”, 
ini pandangan yang mungkin niatnya baik tetapi justru berpotensi

“MEMECAH BELAH ISLAM”. Sebaiknya dihindari.
12. Islam itu ya Islam !!!

Panduannya Kitabullah dan Sunnah, Khulafaur Rasyidin dan juga Tabiin, Tabiut Tabiin, Ulama Salaf, apapun Madzhabnya.
13. Adapun menjadi Muslim, tidak berarti meninggalkan budaya lokal. 

» Bila bertentang dengan Islam tinggalkan saja …

» dan bila tidak silahkan dilanjutkan.
14. Apa standar meninggalkan dan melanjutkan budaya setelah jadi Muslim ?

Ya AQIDAH, bila bertentangan dengan Aqidah, ya mutlak harus ditinggalkan.
15. Misalnya seperti budaya 

» Membuka Aurat, 

» Menyembah pohon, 

ya harus tinggalkan. 

Beda dengan 

» Arsitektur, 

» Aneka Makanan (halal), 

ya boleh dilanjutkan.
16. Islam masuk ke Cina, arsitektur masjid mirip pagoda, boleh saja tetapi sembahyang leluhur dengan hio, ya ditinggalkan, itu contohnya.
17. Islam masuk ke Indonesia, maka batik tetap lestari, bahkan menyerap nilai Islam, boleh saja tetapi menyembah batu dan patung harus dihapuskan.
18. Dalam Islam mudah saja, selama tidak dilarang syariat, amalkan saja. Namun bila sudah ada larangan syariat, maka : 
        *Islam yang harus*

            *diutamakan*
19. Maka di dalam Islam, semua produk (fisik atau non-fisik) selain Aqidah, boleh saja diadopsi termasuk teknologi juga karena termasuk “produk non-aqidah”.
20. Kita mencukupkan diri pada Kitabullah dan Sunnah, itu yang terbaik.
21. Kesimpulannya …

» Belajarlah Islam, 

» Kaji terus Islam, jangan berhenti, 

» Taati Allah dan Rasulullah semata, 

» karena kita akan kembali kepada-Nya.
22. Kesimpulan lain, jadi Muslim kamu 

» gak harus pakai sorban, 

» gak harus berjubah, 

» yang jelas Pikiranmu, Lisanmu, Amalanmu, 
   Harus ber-Azas Islam. 
23. Jangan sampai terbalik, 

» kamu pakai sorban, 

» pakai sarung, 

» mengenakan peci, jubah, 

tetapi pola pikirmu dan referensimu liberal, jauh dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah.
24. Lebih bagus kamu memakai 

» Batik, 

» Kemeja, 

» Kaos, 

» Celana, 

lalu setiap kamu mikir, lisan, amal, semua berdalil : 
                “Kitabullah 

                         dan 

                    Sunnah”. 
25. Lebih bagus lagi, kamu memakai peci, memakai sarung, mengenakan sorban, berjubah dan semua pikiran, lisan, amalmu, azasnya Kitabullah dan Sunnah, itu.
Jadi di dalam Agama Islam
*Aqidah dan Akhlak-lah* yang harus diutamakan … bukan simbol.

Tempat Wisata di Sekitaran Banda Aceh

Ini cuma share gambar saja, mengenai tempat-tempat wisata disekitaran Banda Aceh dan Aceh Besar. Kita mulai dengan ulee lheu ya. Yang mau nyeberang ke sabang pasti tau daerah ini. Nah, dekat pelabuhan ada view yang menarik intik dikunjungi. Saya gak tau namanya, tapi pastinya tempatnya menarik 🙂


Selanjutnya adalah pantai lampuuk yang fenomenal itu. Dekat pantai ini ada mesjid lampuuk, yang jadi saksi bisu tsunami 2004 silam


Selanjutnya adalah taman sari. Kalau sore2 enak ni bawa keluarga kemari.


Cukup saja sekian dulu

Orang Arab Yang “Sombong”!

​Tulisan Sumanto Al Qurtubi,  

Professor Warga Negara Indonesia, dosen di King Fahd University for Petroleum and Gas, Arab Saudi, Riyadh, Saudi Arabia sbb. :
“Saya membuat tulisan ini bukan utk merendahkan bangsa saya, Indonesia tercinta. Bukan juga utk menyerang bangsa Arab, khususnya Arab Saudi tempat di mana saya berdomisili saat ini.
Tujuan tulisan singkat ini : 

utk membangunkan teman2, kakak dan adik2 saya dan sesama saudara WNI dimana saja berada. Agar bisa memilih dan memilah,  mana yg bisa dijadikan panutan/pedoman serta mana pula yg harus diwaspadai. 
Harapan “saya hanya satu:

Semoga Indonesia selalu dirahmati oleh Allah Tuhan Alam Semesta Pencipta langit dan bumi beserta segala isinya, dan anak2 bangsa ini termasuk saya agar tidak jadi bangsa yg inferior (rendah diri),    dan tidak mudah menjadi beo 

(suka meniru niru).
Begini, saya melihat hubungan antara Arab (khususnya Arab Teluk), Barat (khususnya Amerika) dan Indonesia (khususnya yg pro Arab) itu unik, menarik dan lucu…
Negara2 Arab, khususnya teluk itu “sangat Barat” dan jelas2 pro Amerika dan Inggris. Hampir semua produk2 Barat dan ecek-ecek (restoran fast foods barat) sampai yg berkelas utk kalangan berduit semua ada di kawasan ini. Mall-mall megah dibangun utk menampung produk2 Barat tadi.. 
Warga Arab menjadi konsumen setia karena mereka hobi shopping. Orang2 Barat mendapat “perlakuan spesial” disini, khususnya yg bekerja di sektor industri (gaji tinggi, fasilitas melimpah). 

Mayoritas org2 Arab jg sangat hormat  pd org2 Barat.
Saya sering jalan bareng bersama “kolega bule” ke tempat pameran barang2 branded tsb dan mereka menganggap saya “jongosnya” ! 
Bagi org2 Arab, non-bule dari manapun asalnya dan apapun agama mereka adalah “kelas buruh”, sementara org bule, sekere dan sebego apapun mereka, beragama atau tidak beragama dianggap “kelas elit”. 
Mereka baru menaruh rasa hormat, kalau sdh tahu “siapa kita”.. Sejumlah universitas2 beken di Amerika juga membuka cabang di Arab Teluk selain Saudi (Georgetown, New York Univ., Texas A&M, Camegie Melon Univ.dll).
Di bawah bendera King Abdullah Scholarship, Saudi telah mengirim lebih dari 150 ribu warganya utk belajar di kampus2 Barat, khususnya Amerika, Kanada & Eropa juga Australia.
Tidak ada satupun yg disuruh belajar ke Indonesia!!! Sementara (sebagian warga Indonesia) memimpikan belajar di Arab Saudi !!
Lucunya para fans/penyembah Arab Saudi dan Arab2 lainnya di Indonesia, mereka mati2an “men-tuan-kan” Arab, sementara Arab sendiri tidak “menggubris” mereka (penyembah Arab). Para “Cheerleaders/Pengidola” Arab ini (para fans Arab di Indonesia) juga mati2an anti Barat padahal org Arab mati2an membela org Barat.
Kita bertutur memakai istilah bahasa mereka (akhi, ukhty, antum dan berbagai istilah Arab lainnya); 

padahal mereka merendahkan kita. 
Kita seolah “Gagal Paham” untuk membedakan Islam dan Arab. 
Islam menghargai kita, sedangkan Arab menganggap indonesia “bangsa budak”.
“Saya bukan anti Arab atau pro-Barat. Saya adalah saya yg tetap orang kampungan Jawa. Daripada “menjadi Arab” atau “menjadi Barat” akan lebih baik kita “menjadi diri kita sendiri” yg tetap menghargai warisan tradisi & kebudayaan leluhur kita.
Itulah orang Arab Saudi, mereka menganggap kecil terhadap orang Indonesia di hotel, di kantor, bahkan mrk menyangka saya cuma tenaga profesi ecek-ecek, mrk tanya gaji yg disangka hanya 2 ribu 3 ribu real. 

Waktu saya bilang jumlah gaji saya, mrk baru tahu jumlah gaji saya sama dengan org Amerika dan Inggeris dan mrk tanya kok bisa segitu. Saya jelaskan saya pernah training di Inggris dan Amerika.
Itulah kenyataannya dan yg menggaji saya, perusahaan barat di Abu Dhabi yg tdk menganggap rendah karyawannya berdasarkan kebangsaan atau nationality profiling.
Mudah2an pemerintah tidak mengirim lagi TKI /TKW sehingga mrk tdk menganggap org Indonesia “bangsa budak”. 

Tetapi mengirim tenaga terdidik terutama yg menguasai bahasa Inggris.
Sekali lagi  ….Saya bukan anti Arab dan juga bukan anti Barat. “Saya cuma org Jawa, Indonesia yg dipercaya sbg org yg bekerja sbg tenaga ahli yg dibayar sesuai dgn keahliannya.
Suatu hari -dan ini bukan sombong, -saya  bangga ketika saya keluar dari  hotel di Jedah dijemput oleh sopir Arab berasal dari Thaif. Karena biasanya yg jadi sopir siapa lagi klo bukan org Indonesia.
Mudah2an kita tidak jadi Bangsa budak dan budak diantara bangsa lain. 

SEMOGA