Di Berlin Juga ada Pengamen

Pernah merasa kesal karena kerap dimintai uang oleh pengamen jalanan ketika sedang makan dilesehan? Pernah merasa dongkol kerana sedang enak enak bicara dengan kawan dalam angkot tapi tiba tiba diganggu oleh musik yang gak jelas oleh pengamen angkotan?

Atau pernah sambil duduk di depan rumah, tiba tiba pintu pagar di ketuk, hanya untuk mendengarkan dendang yang kadang bagus tapi seringnya malah hancur?

Dari berbagai kota dan negara yang pernah saya kunjungi, belum pernah saya temui kota yang benar benar bebas dari yang namanya musisi jalanan ini, mereka hampir selalu ada, dengan gaya dan cara mereka sendiri, mulai dari yang paling sopan dan alunan musik yang cukup lazis untuk didengarkan, hingga yang paling tidak sopan dengan musik yang awut awutan.

Pulang dari rumah kawan untuk diskusi tadi, saya bersepeda melewati jalan yang hampir tiap hari saya lalui. Jam ditangan memang sudah diangka 7 malam, namun cahaya matahari masih terang benderang, orang orang pun terduduk riang di depan cafe cafe yang ada di sepanjang jalan, suasana musim panas memang benar benar di manfaatkan oleh warga kota berlin saat ini.

Saat tiba di sebuah sudut jalan, saya menemui sekelompok orang yang berdiri melingkar, rupanya mereka sedang menikmati live show dari sebuah band beranggotakan empat orang. Dari jauh tadi memang saya sudah mendengarkan alunan musik pop rock nya, tapi baru melihat sumber suaranya setelah melewati jalanan ini.

Melihat kerumunan, saya juga berhenti untuk sekedar menikmati alunan musik yang gratis ini. Dari dekat saya melihat perlengkapan musik yang mereka mainkan, cukup lengkap, semuanya tersambung listrik, mulai dari gitar, bass, keyboard hingga ke drum nya. Orang orang juga ikut mengangguk atau bergoyang mengikuti alunan musik yang dinyayikan dalam bahasa jerman, setelah sebuah lagu selesai dimainkan,mereka juga mendapatkan tepuk tangan, saya juga ikut bertepuk tangan.

Tepuk tangan selesai, lagu lain kembali dimainkan, makin lama, makin ramai pula orang yang berhenti, tidak ada acara lempar koin, tapi seseorang tampak sedang membagikan brosur, ternyata itu imformasi mengenai kapan dan dimana band itu akan manggung, serta info buat mereka yang berminat untuk membeli CD nya, rupanya mereka band indie yang tidak sedang ngamen asal asalan.

Puas menonton, saya kembali mengayuh sepeda pulang, sambil terus membayangkan, seandainya musisi jalanan diindonesia juga melakukan hal yang sama, konser dengan teratur, bermusik dengan baik, sopan, dan tidak harus memaksa orang lain untuk mendengar dan memberikan uang atas gangguan yang mereka buat seperti yang sering kita temui di jakarta, maka terasa indahnya negeri ini.

Syukur, musisi jalanan belum begitu banyak bermunculan di Banda Aceh, sehingga saya tidak harus selalu menyediakan koin saat hendak ngopi, tapi disini penyakitnya lebih tinggi, yaitu para peminta sedekah dengan dalih difabel yang entah kapan bisa dibasmi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s