10 minggu bahagia bersamanya

„Alhamdulillah, positif“, begitu pesan whatsapp dari istri mucul di hapeku. penglihatanku masih kabur, lampu kamar belum dihidupkan, tertidur di bawah selimut, kaki tertempel di pemanas ruangan, suhu Berlin pagi itu masih di titik beku.

Aku coba bangkit, mencoba melihat pesan pesan sebelumnya “gk jadi ke prodia, tadi sudah test plano lagi, Alhamdulillah positif”, begitu pesan lengkapnya. Dikirim beberapa jam yang lalu, saat aku masih di alam mimpi, sedang istri di Banda Aceh sudah pagi. Continue reading

Best I Ever Had

Sinar surya di pagi Berlin hari ini cukup cerah, pun sisa salju masih tebal, putih dimana mana. Aku belum memulai aktivitas apapun, laptop lama yang terletak diatas meja kuhidupkan, setumpuk kuesioner yang belum seluruhnya ku entry terletak disebelah kirinya. Sarapan pagiku, segelas teh dan sebuah roti berisi coklat, ada disebelah kanannya. Sudah lazim kulakukan, sebelum memulai aktivitas, aku menyempatkan untuk sarapa alakadarnya, dan sambil sarapan, aku biasanya membaca berita yang ada di koran internet, serambi, detik, kompas, republika dsb. Continue reading

Antara ngangkang dan rokok

Jauh memang korelasi antara ngangkang dengan rokok. Tapi melihat konsekuensi keduanya terhadap kesehatan, hal ini menjadi menarik.

Pertama masalah rokok, saya yakin tidak ada orang Indonesia yang tidak mengerti dengan kata dan benda ini, walau tidak menghisap langsung, minimal pernah cium asapnya, Ketika di Angkot misalnya.

Well, merokok sudah dianggap sebagai prilaku yang diterima. Jarang sekali orang yang komplain, bahkan banyak yang bangga bisa merokok. Seorang kenalan yang perokok berat bahkan pernah berujar, “semua pekerjaan ini bisa kubuat karena ada rokok, kalo gk ada rokok dimulut, gak akan bisa kerja”.  Di tempat lain, saya pernah membaca berita tentang seorang nelayan miskin yang juga seorang perokok, dan anaknya putus sekolah karena kurang biaya. Saat ditanya, kenapa dia tidak berhenti saja merokok sehingga uangnya bisa dipakai untuk biaya sekolah anaknya, sang bapak dengan enteng menjawab “lebih baik anak putus sekolah dari pada putus rokok di mulut saya”. egois? Hmmm Continue reading

Subsidi BBM vs subsidi Kesehatan. Mana yang harus diutamakan?

Sadarkah kita bahwa dari setiap liter premium yang kita isi kedalam tangki sepeda motor atau mobil setiap hari, ada uang negara sebesar 4000 s/d 6000-an per liternya? Harga premium subsidi Saat ini adalah Rp 4500, sedangkan BBM tanpa subsidi seperti pertamax adalah sekitar Rp 9000-an, Jadi bisa dikurangi sendiri berapa besar subsidinya. Katakan saja besarnya uang negara dalam minyak tersebut adalah 4500 per liternya, maka jika kita mengisi 3 liter saja dalam tangki motor, ada sekitar Rp 13.500 yang kita pakai. Angkanya akan lebih besar jika diisi ke tangki mobil, katakan 30 liter saja, maka hitung sendiri betapa banyak uang negara yang dibakar (percuma). Continue reading

Antara Mahar dan Isi Kamar

Tulisan tentang ini pernah kutulis dulu, lama sekali saat masih ber-friendster ria, saat masih di bangku kuliah dan mendapat inspirasi dari teman-teman yang memang hobi membicarakan apa saja. Namun, tulisan itu kini hilang entah kemana, sejak friendster ditutup oleh operasionalnya sebagai jejaring sosial.

Baiklah, akan kutulis lagi dengan pendekatan berbeda, mungkin lebih kepada curhatan hati, setelah berbicara dengan seseorang tadi.

Well, mahar secara istilah syara’ mungkin dimaksudkan sebagai sebuah pemberian dari pihak lelaki kepada perempuan sebagai salah satu syarat sahnya nikah (mohon koreksi jika defenisi yang saya buat sendiri ini kurang tepat, sudah lama hana lop kitab soalnya).

Lain negara, lain budaya, lain pula pemberiannya. Ada emas, permata, uang, benda, hingga ada para sahabat yang hanya memberikan bacaan Alquran sebagai maharnya, wallahu a’lam. Yang pasti mahar itu harus nyata diucapkan saat ijab qabul, didengarkan oleh wali atau yang mewakiki, oleh saksi nikah dan mereka menyetujuinya. Continue reading

Depresi, Akhir Dari Salah Asuhan

Setiap saya pulang kampung, selalu saja ada cerita baru tentang orang kampungku yang kudengar. Ada beberapa kisah indah, seperti ketika si A menikah, si C punya anak, keluarga si D akhirnya punya mobil baru dan sebagainya, tapi tak jarang aku mendengar kisah sedih.

Cerita sedih tentunya ketika saya diberitahu bahwa seseorang telah meninggal, tetangga yang lumpuh, orang tua yang menderita stoke, dan sebagainya. Namun ada juga kisah sedih yang kadang diceritakan sambil tertawa, aneh memang, tapi begitulah kenyataanya.

Cerita sedih tapi gembira yang kumaksud adalah saat para tetangga bercerita tentang tetangga lain yang tiba-tiba mengalami gangguan jiwa. Gangguan jiwa atau gila atau dalam bahasa Aceh disebut pungo memang penyakit yang lazim ditemukan di masyarakat dan sering digunakan sebagai bahan candaan. Ironis memang, saat orang lain menderita kita malah membuatnya menjadi bahan tertawaan. Continue reading