Berpacu dengan waktu

wpid-DSC_0067.jpgOh, morning sun
Before you arise
Before you’ll come and shine again on us
Let me find, let me find, let me find

Some comfort in the night
I don’t mind what I’ve lost
I’ve reached the shore
And nothing ever changed
In a thousand waves
A million waves
Oh still, I look for love (The waves, Elisa)

Tersadar, seiring dengan perjalanan waktu, waktu itu terasa semakin menyempit, menyingkat, padat. Dulu aku mengeluh betapa waktu itu begitu panjang, hingga yang di nanti tak kunjung datang. Saat baru masuk kuliah, serasa waktunya Continue reading

Linto Kak dek ti Jadi Anggota Dewan!

Tersebutlah namanya siti, biasa dipanggil dek ti, anak bungsung enam bersaudara, walau usianya sudah tidak lagi muda, sudah kepala empat, tapi tetap saja para tetangga memanggilnya dek ti. “Dek” dalam bahasa aceh artinya adik, dan jika ada orang yang lebih muda dari dek ti memanggil namanya, kata-kata dek tetap saja di sematkan dan biasanya ditambah kata “kak” yang berarti kakak, sehingga panggilan lengkapnya adalah “kak dek ti”.

DSC_0410Pagi itu, sang surya masih malu malu menampkannya cahaya, masih bersembunyi dibalik gunong seulawan, seakan tidak mau lepas dari ikatan gelap malam. Di desa yang penuh dengan pepohonan rindang nan hijau itu, asap mengempul keluar daru “bara” rumah penduduk yang umumnya terbuat dari kayu. Begitu juga dengan rumah kak dek ti, dia sedang memasak nasi dengan kayu bakar untuk suami dan ibunya yang tinggal dengan mereka. Lazim bagi masyarakat Aceh orang tua tinggal dengan anak bungsu perempuan. Sedangkan saudara-saudara lain kak dek ti semuanya sudah merantau, menikah dan ikut pasangannnya, hanya kak dek ti yang, mau tak mau, betah tinggal dikampung untuk merawat orang tuanya semata wayang terserbut. Continue reading

Dua Janda Srikandi

Scene: Bara Rumoh Aceh, lam krak, sore

“Hati saya masih seperti dulu, cinta saya akan negeri ini tidak akan pernah berubah, betul suami saya kini dengan bersama kaphe, tapi ini hanyalah cara kita untuk mengetahui taktik dan merebut senjata mereka”. Sebut cut nyak dhien sambil tertunduk, kedua tangannya mencoba membetulkan kain yang menutup kepalanya karena ditiup angin.

Senyap, hanya bunyi angin bertiup, dan bunyi ayam jantan sekali kali berkokok. Butuh beberapa saat hingga teungku fakinah, ulama perampuan dari lam krak, untuk menjawab sahabatnya sesama pejuang. Continue reading

Suatu pagi di atas Becak.

Selesai sarapan nasi goreng putih masakan ibunya, Ami bergegas ke kamar, mengambil tas, merapikan jilbab dan memakai sepatu, siap berangkat ke sekolah.

Aulia, adik satu satunya Ami yang masih duduk di kelas 3 SD sedang kesusahan memakai sepatu yang mulai sobek dan menyempit di depan rumah kecil mereka, sedangkan ayah Rahman sedang mengelap becak mesin kesayangannya.

Beberapa menit kemudian, ketiganya sudah didalam becak yang melaju lamban membelah pinggiran Kota Banda Aceh, mengantar anaknya sekolah dan selanjutnya “narik becak” adalah pekerjaan rutin Ayah Rahman sejak 7 tahun lalu, pasca Tsunami.

Ami yang kini duduk di kelas 1 SMA mulai merasa risih, merasa dirinya sering menyusahkan ayahnya untuk mengantarnya kesekolah setiap pagi. saat teman-teman sekelasnya sudah berangkat kesekolah sendiri, ia masih saja diantar ayahnya, tidak hanya sekarang, tapi sejak dia kelas satu SD dulu. Continue reading

Kereta Terlambat, Uang Kembali

Rasa kantuk benar-benar menjadi musuh saya kali ini. Serangan jetlag memaksa mata untuk beberapa kali tertutup tanpa sengaja. Kalau di tanah air, saat ini adalah jam tidur malam. Perjalanan udara yang lebih dari 15 jam dari tanah air ke Jerman harus kusambung lagi dengan kereta cepat ICE dari Munich Hbf ke ibukota Jerman, Berlin. Jadinya, perjalanan darat lebih banyak kuhabiskan untuk tidur, sambil sekali-kali membaca jika aku bisa tersadar-sadar ayam.

Di antara ambang kesadaran itulah, aku mendengar pilot kereta beberapa kali mengumumkan bahwa perjalanan dari kota Munich ke Berlin kali ini akan terlambat karena beberapa alasan, salah satunya karena adanya perbaikan rel kereta. Beberapa kali pula aku merasa kereta melambat hingga benar-benar berhenti total di pinggir sebuah desa dekat dengan kota Jena. Lebih dari setengah jam kereta berhenti di sana dan sopir juga terus-terusan mengumumkan progres pekerjaan dan rencana perjalanan selanjutnya. Penumpang dibagikan air putih, tapi tak ada makanan. Bebeberapa saat kemudian, kereta ditarik ke sebuah stasiun kecil terdekat dari sana, saya lupa menulis nama stasiunnya. Di sana penumpang dibiarkan untuk turun dan menikmati udara bebas yang mulai mendingin. Saya juga keluar, membeli roti yang ada di toko kaca tanpa penjual. Lumayan untuk mengisi perut yang memang terakhir kali terisi lebih dari 4 jam yang lalu. Penumpang lain juga melakukan hal yang sama, tapi lebih banyak yang menjadi ahli hisap sepertinya. Continue reading

Penumpang Malaysia yang Sombong!?

Sebagai penumpang pemula, aku masih sering memilih kursi yang berada didekat jendela saat membooking tiket pesawat, hal itu juga kulakukan untuk penerbangan ini. Walau kadang terasa aneh karena penerbangannya malam dan tak ada yang bisa aku lihat, kecuali saat landing dan take off saja.

Penumpang disampingku kali ini orang adalah seorang pria dari malaysia, aku tahu setelah mendengar dia bercakap sekilas saat aku minta lewat didepannya tadi, sedangkan penumpang satunya lagi seorang bule perempuan, yang nyaris tak pernah bicara, bahkan langsung memilih untuk menutup matanya dengan kain hitam dan meninggalkan sign “dont disturb me” di sandaran kursinya.

Merasa sebagai tetangga serumpun, akupun mulai mengajak orang malaysia tersebut bicara, tapi respon yang kudapat malah kata-kata “iya” atau “tidak”, tidak lebih dari itu. Senyumpun sangat jarang dia lemparkan, malah terlihat memiliki afek datar dan kadang-kadang kecemasan. Merasa tidak begitu diperdulikan, aku lebih memilih diam, sambil memonton filem-filem yang ada didepanku. Continue reading

“Orang dulu” memang hebat!?

Labi-labi arah seulimeum bergerak lamban meninggalkan kota Banda Aceh, tidak banyak penumpang di dalamnya, walau suasana sudah mendekati lebaran. Sejak beberapa tahun terakhir memang, hampir setiap orang memiliki sepeda motor sebagai alat transportasi, imbasnya, angkutan umum yang dulunya sempat menjadi primadona, kini mulai berkurang populasi dan peminatnya.

Seorang pria tua duduk di dalam angkutan tersebut, memakai sarung, baju putih panjang tangan, plus kopiah hitam menutup ubannya. Sekitar satu meter di sampingnya, sorang anak muda sibuk membaca catatan kuliah, mencoba konsentrasi, walau sekali-kali terganggu oleh goyangan labi-labi ketika melewati jalan berbatu yang tak kunjung selesai dikerjakan.

Tepat di depan anak muda, sorang wanita tua, penjual sayur di pasar, juga duduk dengan santainya, sebuah ranjang sisa jualannya terletak di lantai angkot, dalam jangkauan kakinya. Continue reading