Perjalanan Timnas U-19 di Piala AFC 2014

image

Ekspekstasi yang terlalu tinggi dari seluruh rakyat Indonesia diletakkan diatas anak muda berusia remaja ini. Memang  setelah bertahun tahun bangsa ini haus dengan gelar sepak bola, baru tahun 2013 kemarin mereka berhasil iftar dari puasa tadi. Mereka yang sebelumnya tak ada yang kenal, anak anak dari pelosok negeri hasil blusukan sang pelatih indra sjafri, berhasil unjuk gig. Sejenak bangsa ini mulai membuka lembaran harapan baru. Walau pada akhirnya target lolos ke piala dunia U-20 harus dikubur sementara,  mereka setidaknya sudah membuka ruang harapan yang sudah berkarat, dimakan polemik sepakbola indonesia, dimakan politikus yang ingin menjadikan olah raga yang dulu dipakai oleh bapak bangsa sepeti bung Hatta sebagai alat perjuangan, tapi belakangan dipakai politikus busuk sebagai alat untuk kampanye kepentingan mereka.

Tidak pernah menang, dibobol 8 kali dan hanya mampu mencetak 2 gol, garuda muda harus angkat kaki duluan, rakyat indonesia juga kehilangan hiburan, mematikan TV duluan.

Nah, kemudian haruskan mereka yang sempat membuat kita bangga langsung dilupakab begitu saja? Haruskan program pembinaan dilanjutkan? Bagaimana dengan cara blusukan? Bagaimana tanggung jawab klub terhadap pembinaan anak muda harapan bangsa?

Dasar kompetisi sepakbola di indonesia seharusnya merupakan sebagai wadah pemersatu bangsa, alat untuk membuat orang bergerak, berolah raga, bertemu kawan, berbicara hobi, menghilangkan stress, sama sama ke lapangan menonoton bola, itu sepak bola. Jika kemudian ada yang menjadikan olah raga ini untuk kepentingan bisnis semata, itu berarti ia sudah mengkhianati nilai olahraga itu sendiri, apalagi jika digunakan sebagai alat politik, itu berarti pengkhianat bangsa.

Sepakbola di Indonesia harus dimulai dengan pembinaan, sportivitas dan persahabatan. Bukan dengan permusuhan, modal preman masuk ke lapangan sudah harus di hapus, apalagi perjudian dan pengaturan skor pertandingan.

Pembinaan harus dimulai sedini mungkin, dan tidak boleh hanya terpusat di kota kota besar saja, tetap di kampung, lampoh u, pelosok dan sebagainya, karena ini olah raga rakyat, yang semua orang bisa memainkan.

Belajar dari Jerman
Jika Indra safri baru berhasil mengumpulkan ratusan anak anak muda saat ia blusukan, itu tak seberapa dengan apa yang dilakukan jerman. Saat gagal total di piala dunia tahun 2000, mereka mencari  36.000 an anak usia 11 hingga 14 tahun yang berbakat sepak bola, untuk kemudian dibina secata berkelanjutan.
Hasilnya tahun 2010 kemarin, mereka menjadi finalis piala dunia, dan 2014 kemarin bisa mengangkat juara. Bukan proses instan bukan?

Nah, jika dari 80 juta rakyat jerman, hasil blusukannya ada 36.000  orang, berarti seharusnya Indra sjafri dan PSSI harus punya database dan rencana pembinaan untuk lebih dari 200.000 orang anak. Dan tunggulah 12 tahun kemudian, kita bisa berbicara banyak di sepak bola.

Semoga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s