Pemuda Warung Kopi

Banda Aceh layak mendapatkan gelar sebagai kota cyber dan kota seribu warung kopi. Gelar ini sepertinya bertentangan satu sama lain, “what the internet has to do with the caffee in Banda Aceh?”. Well, simbiosis mutualisme telah terjadi antara kedua hal ini. Pemilik warung kopi memasang wifi hotspot di warungnya, kemudian masyarakat datang untuk menikmati kopi sambil berinternet ria, seperti yang saya lakukan.

Bahkan dengan modal 6000 rupiah, kita sudah bisa menikmati segelas kopi, dan internet super kencang (selama 2 jam), dengan rincian 5000 untuk harga segelas kopi, dan 1000 untuk paket internet speedy untuk 2 jam. Kalau mau lebih murah juga bisa, cari saja warung kopi yang free wifi dan harga kopi lebih murah. Di warkop langganan saya di lambhuk, segelas kopi masih hanya 3000 rupiah sedangkan internetnya gratis tis tis. Jadi untu nge-net disini, saya hanya butuh 3000 rupiah saja, sedangkan lamanya ngenet tak pernah dibatasi. Jika memilih opsi murah ini, kekurangannya hanya satu, kecepatannya turun drastis seiring banyaknya pelanggan warung yang ikut ngenet.

Sayangnya, besarnya fasilitas ini masih hanya digunakan sebagian pemuda penghuni warung kopi ini hanya untuk main game saja, atau main fb ( juga main game). Coba seandainya mereka bisa menggubakan peluang ini untuk ngeblog, jualan, berbisnis dan sebagainya, niscaya manfaat intetnet murah ini akan membawa kebaikan finansial buat para pemuda warung kopi ini, semoga.

One thought on “Pemuda Warung Kopi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s