Dari Ubuntu ke Macbuntu hingga Lubuntu, enaknya pakai Linux Distro

Tampilan laptop saya waktu pakai macbuntu, harap maklum karena foto  pakai hape

Tampilan laptop saya waktu pakai macbuntu, harap maklum karena foto pakai hape

Saat membeli laptop untuk pertama kali di awal 2007, saya tidak tahu kalau OS microsoft XP yang terisntall di laptop itu adalah bajakan. Saya pikir OS itu merupakan default yang sudah terinstall setiap kali kita membeli laptop maupun PC, pengetahuan saya tentang Operating System (OS) saya saat itu sangat terbatas, masih hanya sebagai pengguna. Setelah baca-baca, saya jadi tahu bahwa OS itu tidak hanya XP, tapi ada juga OS punya Apple dan yang gratisan disebut Linux. Nah, salah satu versi linux dikenal dengan Ubuntu, ini bukan singkatan dari usus buntu ya, tapi memang begitu sebutannya.

Penasaran dengan OS gratisan ini, saya coba install berbarengan dengan windows XP bajakan saya, jalannya lumayan cepat, tapi karena spek laptop tidak mencukupi, akhirnya saya uninstall lagi setelah beberapa bulan pakai, kembali hanya pakai XP bajakan.

Akhir tahun lalu, hasrat saya untuk “hijrah” ke Linux kembali menggebu, walau di laptop saya sudah terinstall OS windows 8.1 berlisensi, begitu juga software – software yang terinstall di dalamnya seperti microsoft office, stata, dsb, semuanya berlisensi atau memang gratis untuk dipakai seperti VLC player. Tapi karena ada sebuah laptop lama yang saya beli tahun 2010 lalu untuk adik saya, kini tak terpakai lagi. keinginan eksperimen saya dengan linux kembali muncul, dan jadilah laptop ini sebagai ladang percobaan saya.

Awalnya saya ingin install linux Ubuntu terbaru, tapi spesifikasinya tidak mencukupi. Setelah tanya -tanya, ada kawan yang sarankan Linux mint, atau Xubuntu, tapi saya tidak tahu harus cari kemana softwarenya dan jika harus di download, internet di warkop warkop sekitaran Banda Aceh masih belum kuat (kuat sih, tapi harus nunggu lama). Kemudian ada kawan yang merupakan ketua MIT (Masyarakat Informasi Teknologi) yang menyarankan untuk pakai Macbuntu, saya jumpai beliau dan langsung saja saya serahkan itu laptop untuk di “oprek” si ahli IT ini. Beberapa hari kemudian, si laptop bermerek dell ini kembali ke tangan saya dengan OS baru dan tampilan mirip Apple Macbook. Sayangnya karena tidak bisa konek ke wifi, saya tidak bisa meng update software Linux nya dan akhirnya saya disarankan untuk pindah ke Lubuntu.

Software Lubuntu yang besarnya sekitar 600MB saya download gratis di internet. Kemudian saya install di USB sebagai live OS, merasa nyaman dengan tampilan dan kompatible dengan spesifikasi, langsung saja saya install di harddisk laptop. dan ternyata masalah kembali terulang, tidak bisa konek wifi nya. Kembali prof IT itu saya ganggu, minta dicarikan solusi, dan beliau lagi lagi ajak kupi darat di sebuah SMA, kebetulan MIT yang beliau pimpin sedang mengadakan pelatihan IT buat anak anak SMA. Saya datang kesana dengan semangat baru, berharap masalah wifi ini bisa terselesaikan dengan segera. Tiba disana, langsung saja laptop ini di utak atik dengan bahasa aneh, sudo ini itu yang saya tidak pernah ngerti. Katanya driver laptop saya memang tidak kompatibel dengan linux, sehingga harus di download dan di instal secara manual. Dengan petunjuk dari user yang juga punya masalah sama, kami bisa menginstall danYES….wifi nya bisa berjalan.

Dengan berhasil konek ke wifi, maka fungsi laptop sudah sempurna. Dengannya saya bisa konek gratis di warkop, update software, install software -software baru yang ada di Lubuntu software center, browsing, dan sebagainya. Segera setelah shalat magrib, saya langsung menuju ke warkop langganan untuk meng-update software, juga menginstall program program lain yang saya rasa perlu.

Nah, buat yang masih pakai windows bajakan, mungkin ini saatnya migrasi ke Linux, terserah versi mana, sesuaikan saja dengan selera, kebutuhan dan kemampuan komputer/laptopnya. Memang sih, pakai windows bajakanpun tidak akan membuat abua Bill Gates jadi miskin, tapi sampai kapan jadi “pencuri”? padahal di saat yang sama, aplikasi gratis nan halal ada diluar sana.

Keuntungan pakai Linux tidak hanya gratis, tapi juga punya support community yang besar, jika ada masalah, tinggal buka internet dan ketik apa masalah yang kita hadapi, jawaban pasti sudah ada disana. Jika pakai windows bajakan, selain suka hank atau macet karena tidak pernah atau tidak bisa di update (bajakan sih), pakai Linux akan selalu gratis dan updatenya juga tersedia luas. Selain itu, jika windows bajakan yang dipakai sudah tidak bisa jalan, biasanya kita minta di install ulang dan ini sangat makan biaya, pengalaman saya mereka bisa minta 50 ribu, sebaliknya untuk Linux akan selalu gratis. kalaupun tidak ngerti, kita tinggal tanya atai minta tolong ke komunitas (seperti yang saya lakukan), dan mereka tidak pernah minta uang untuk ini, malah mereka dengan senang hati akan menularkan ilmu mereka ke kita yang newbie ini.

Untuk mereka yang tinggal di sekitaran Banda Aceh dan Aceh Besar, jika punya masalah, ingin tanya tanya atau ingin di install kan Linux di laptopnya, coba saja  kopdar bareng kawan – kawan pengguna Linux yang sering nongkrong di Darussalam. Selain bisa dapat laptop “rasa baru”, juga bisa nambah teman baru dan mungkin “calon keluarga” baru. Komplit bukan?

Ditulis di OS Lubuntu, pakai aplikasi Abiword🙂

Lambhuk, 25 Februari 2014.

10 thoughts on “Dari Ubuntu ke Macbuntu hingga Lubuntu, enaknya pakai Linux Distro

  1. Terakhir nyentuh ubuntu dkk nya kapan ya😀 , terlalu nyaman klo mogram dsb di windows..dan tlalu malas klo hrs ngulang belajar di os yg laen😀 *anak IT apa anak IT ini😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s