Berbagi Ilmu Kesehatan Jiwa dengan Siswa SMA

Jam tujuh lewat beberapa menit pagi tadi, saya sudah lebih rapi dari biasanya. Biasanya jam segitu saya masih nongkrong di warung kopi depan rumah, sambil baca koran dan menyeruput kopi hitam pekat khas warung tradisional tersebut. Memang, saya baru memulai rutinitassetelah jam 8. Namun, pagi tadi saya harus buru-buru ke sebuah sekolah tingkat atas di Banda Aceh. Janji dengan kawan yang juga guru di sekolah tersebut harus saya penuhi. Mau tak mau, saya pun harus mengikuti jam masuk sekolah, 07.30 WIB.

Dengan skutik putih-biru, saya menembus jalanan kota yang hanya macet di dekat lampu merah. Ya, jam-jam segini adalah waktunya anak-anak pergi ke sekolah atau ibu/bapak yang berangkat ke kantor. Setelah menempuh perjalanan beberapa menit, saya pun tiba di tempat tujuan saya,  SMA 1 Banda Aceh. Teman yang hendak saya jumpai ternyata telah menunggu di pintu gerbang. Dia pun memperkenalkan saya ke bagian pengajaran dan selanjutnya kami meluncur ke sebuah kelas yang gurunya tidak ada. Saat ini sekolah yang terletak berhadapan dengan lapangan Blang Padang itu sedang “minggu tenang”. Para siswa baru menyelesaikan ujian semester. Jadi, sambil menunggupembagian rapor yang jatuh pada hari Sabtu, teman saya yang merupakan guru di sekolah favorit terebut mengajakku untuk berbagi dengan para generasi penerus negeri.Saya pun menyiapkan dua misi yang akan saya sampaikan pada siswa-siswa tersebut. Pertama, tentang informasi kuliah setelah mereka lulus SMA dan cara mendapatkan beasiswa ke luar negeri. Kedua, bisa dibilang inilah misi utama saya bertandang ke sekolah dengan logo Jeumpa Puteh ini; saya ingin memberikan informasi tentang kesehatan jiwa.

Saya hanya diberi waktu 2 jam pelajaran alias 90 menit untuk menyampaikan kedua hal tersebut. Oleh karena itu, saya harus pandai-pandai mengatur waktu agar bahan yang sudah saya siapkan dapat disampaikan dalam kurun waktu tersebut.

Ketika akan memberikan informasi tentang gangguan jiwa, saya biasanya memulai dengan melemparkan pertanyaan kepada para siswa. “Apa yang mereka ketahui tentang gangguan jiwa?” Mereka bebas menjawab dan tidak ada jawaban yang salah dalam hal ini karena memang saya ingin tahu seberapa jauh literasi mereka mengenai kesehatan jiwa.

Seperti yang saya tebak dan seperti yang telah banyak dituliskan di jurnal-jurnal ilmiah, literasi kaum awam, termasuk pelajar dalam hal kesehatan jiwa sangatlah rendah. Banyak mitos mitos yang berhubungan dengan gangguan jiwa mereka kemukakan, termasuk bahwa orang yang mengalami gangguan jiwa itu berbahaya, bisa mencederai, harus diasingkan, sering disebabkan karena guna guna, tidak bisa diobati, atau hanya orang pintar yang seharusnya mengobati penyakit ini.

Banyak mitos lain juga mereka sebutkan, dan akan terlalu panjang jika harus saya tuliskan disini. Intinya, teori yang menyatakan bahwa 70% orang awam tidak tahu sama sekali dengan gangguan jiwa dan kebanyakan yang mereka tahu adalah salah saya temukan pada kelompok ini, dengan persentasi yang jauh lebih tinggi tentunya. Setelah mendapatkan input yang lumayan, ceramah saya mengenai penyakit ini pun saya mulai. Saya selalu berusaha untuk memberikan penjelasan dengan bahasa yang mudah mereka pahami, serta dengan contoh-contoh yang sering mereka lihat.

Saya menekankan bahwa gangguan jiwa itu sangat luas, mulai dari yang ringan dan sering ditemui, hingga yang berat seperti psikosis atau depresi. Orang orang terkenal yang mengalami gangguan jiwa seperti David Becham, Drew Barrymore, hingga penyanyi Alanis Morisette juga ikut saya berikan sebagai contoh. Ini mnejadi bukti bahwa mereka yang juga mengalami gangguan jiwa tetap bisa bekerja, bergaul, dan produktif tanpa harus dipasung atau diasingkan seperti yang banyak kita temui di masyarakat.

Untuk mengurangi stigma dan menencourage mereka supaya mau mengungkapkan masalah jiwa yang sedang atau pernah mereka alami, saya juga mencontohkan diri saya sendiri yang mengalami  phobia tepatnya akrophobia beserta pengalaman yang kadang lucu tapi menyakitkan yang pernah saya alami. Selain pengalaman, saya juga bercerita bahwa gangguan ini sangat mengganggu dan saya harus berjuang sendiri untuk melakukan terapi dan berhasil.Tujuan saya menceritakan hal tersebut adalah agar mereka tahu bahwa gangguan jiwa itu bisa diterapi dan tidak perlu malu untuk mengakuinya.

Setelah sesi ini, para siswa sudah mulai angkat tangan dan mulai curhat dengan masalah yang mereka, teman atau keluarga mereka alami. Dari cerita mereka, saya menyimpulkan bahwa banyak di antara mereka yang mengalami gejala phobia, gangguan kecemasan, PTSD hingga gejala depresi. Untuk waktu yang singkat ini, saya hanya bisa menganjurkan mereka agar mau berkonsultasi dengan ahlinya.

Sesi tanya jawabpun saya buka sepanjang kuliah dan biasanya pertanyaan bertambah banyak seiring dengan berjalannya waktu. Waktu 90 menit ini terasa sangat singkat disaat keingintahuan mereka juga terus meningkat. Apa lacur, saya juga harus meninggalkan kelas ketika guru lain sudah menunggu di depan pintu kelas. Seoga lain kali saya kembali bisa berbagi tentang kesehatan jiwa dengan siapa saja. []

3 thoughts on “Berbagi Ilmu Kesehatan Jiwa dengan Siswa SMA

  1. barangkali kita perlu mengganti gangguan jiwa dengan istilah gangguan psikotik. atau psikosomatik (mohon dibetulkan jika salah). saya saat ini membaca buku the roadless travelled karya scott m. peck. buku yang luar biasa menjawab berbagai pertanyaan di bidang psikologi. bahkan resensi di sampul belakangnya ada pujian bahwa karya tersebut sekualitas dengan karya-karya napoleon hill.

    • kalau gangguan jiwa sepertinya tidak terlalu bermasalah deh, tapi kalau ada yang menyebut “orang gila” atau “pungoe, putoh kawat, dsb yang sebenarnya sangat tidak didengar dan terlalu menstigma mereka…

      wah, bukunya sepertinya menarik, ingin membaca juga🙂

  2. Uh bagi saya dunia berbau kejiwaan malah menarik. Padahal saya masih 15 tahun. Kelas 1 sma, tapi saya sudah jatuh cinta pada dunia ini sejak smp kelas 1. Well sepertinya beralasan juga. Karena saya berbeda dari yang lain. Saya menerka dan sepertinya saya salah satu penderita bipolar disorder. Teman-teman saya yang tahu saya mengalami gangguan jiwa menjauhi saya dan selalu menganggap saya aneh. Padahal saya bukan orang jahat… memang sedih mengingat betapa kurangnya pendidikan mengenai kejiwaan di masyarakat umum. Para orang tua juga sepertinya kurang paham bagaimana mengurus dan mendidik anak dengan baik. Buktinya saya adalah salah satu korban yang mengalami banyak trauma dan tekanan dari pengalaman masa lalu..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s