Bersahabat dengan Kopi, Kembali Menjadi orang Aceh?

Pulang kampung kali ini agendaku sangat padat. Lebaran Idul Fitri kemarin selain aku harus  berkunjung kekeluarga besarku,  aku juga harus berkunjung ke keluarga besar istri, maklum ini adalah lebaran kami pertama setelah menikah dan ritual memperkenalkan ke keluarga besar masing masing saat lebaran adalah hal wajib yang tidak boleh dilewatkan.

Sebagai pasangan baru, setiap berkunjung ke rumah saudara atau kerabat saat lebaran, kami biasanya membawa sesuatu yang biasa di sebut “boh jaroe” atau buah tangan, bawaannya bisa berupa kue, roti, atau hanya sekedar gula dan kopi. Sebagai gantinya, setiap berpamitan pulang, kami selalu mendapatkan salam tempel yang secara budaya aceh lebih dikenal sebagai “teumeuntuk”. Teumeuntuk merupakan pemberian dari pihak keluarga istri atau keluarga suami kepada pasangan yang di bawanya. Misal saat berkunjung ke rumah keluarga istri, maka teumeuntueuk diberikan kepada saya, sebaliknya saat saya membawa istri saya kerumah keluarga saya, misal ke rumah bibi saya, maka saat mau pulang bibi saya akan memberika n teumeuntuek tersebut kepada istri saya. Semakin besar keluarga, semakin banyak yang harus di kunjungi, semakin banyak buah tangan yang harus disiapkan dan dibawa, dan semakin banyak pula “teumeuntuek” yang diterima. Ah budaya aceh memang gimana gitu.

Puas berkunjung dan mendapatkan “teumeuntuek” dari setiap rumah yang kami kunjungi, agenda lain sudah menunggu. Kami harus kembali ke kontrakan kami di sekitaran Banda Aceh dan kembali bekerja tentunya. Istriku sibuk menjaga rumah sakit umum yang jarang di kunjungi pasien (jangan tanya kenapa ya?) sedang aku sibuk bolah balik rumah sakit jiwa yang jarang di kunjungi keluarga pasien (tanya, kenapa?).

Di sela sela kesibukan ini juga, aku berusaha untuk bisa bertemu dengan kawan kawan lama, dan tempat pertemuan tentunya di warung kopi. Sambil ngobrol kesana kemari, tentunya kami harus pesan minum. Jika dulunya aku selalu memesan teh panas, teh setengah panas, teh tarik atau sanger, kali ini aku bertekat menjadi orang aceh sebenarnya dengan mencoba memesan kopi, sudah sering aku menjadi korban ledekan teman kalau kalau aku bukan orang Aceh asli karena aku bukan penggemar kopi seperti kebanyakan orang Aceh yang lain.

Sedikit budaya minum kopi

Ngopi di warung, seingatku, dan sesuai dengan pesan nenekku,  dulunya bukanlah hal yang begitu lazim dilakukan, dalam artian dulu orang hanya duduk sebentar saja di warung kopi, hanya untuk segelas kopi  atau setengah gelas alias kopi pancung plus beberapa kueh, kemudian pergi untuk bekerja dan sebagainya. Yang tidak sempat malah hanya pesan kopi untuk dimasukkan kedalam kertas plastik untuk kemudian diminum di tempat kerjanya. Beda dengan sekarang dimana warung kopi selalu diduduki selama berjam – jam sambil berinternet ria, nonton india atau nonton bola dan sebagianya. Tidak heran memang jiwa warung kopi sekarang selalu kepenuhan dengan pengunjung, bahkan sering tak cukup kursi. Warung kopi kini sudah berubah fungsi.

Sejauh pengamatanku dulu, cara dan waktu minum kopi juga berbeda beda tergantung tempatnya. Di kampungku di sekitaran seulimum misanya, warung kopi kebanyakan terletak di jalan umum yang biasa dilewati orang, baik ke sawah atau ke kebun.  Ada juga warung kopi yang terletak  di persimpangan masuk ke desa. Nah yang kulihat dulu, warung kopi hanya ada pengunjung waktu pagi dan sore saja. Pagi orang datang untuk minum segelas, dan baru minum kopi lagi setelah pulang dari sawah atau kebun nantinya. Disaat orang tidak ada pada waktu jam jam siang, si penjual kopi lebih fokus pada menjual barang kelontong, karena biasanya selain menjual kopi, warung tersebut juga menjual peralatan pecah belah. Ada juga penjual kopi yang hanya membuka warungnya diwaktu pagi dan sore atau malam saja, siangnya dia juga sama seperti orang kampung lain, ikut ke sawah atau berkebun.

Pemandangan lain kutemukan di daerah lamlhom-lhoknga, dimana pasarnya yang banyak warung kopi hanya ada sebentar waktu pagi dan baru ramai pada waktu malamnya, sedangkan waktu siang hampir semua mereka ke kebun cengkeh yang memang sedang terkenal saat itu. Sayangnya saat beberapa waktu lalu saat aku berkunjung kesana, suasananya rupanya sama seperti daerah lain dimana warung kopi hampir buka 24 jam, mungkin karena cengkeh tak ada seperti dulu lagi, sehingga orang mau tak mau harus menghabiskan waktu di warung kopi? Wallahu a’lam.

Kuphi ija brok

Kenapa aku bukan penggemar kopi seperti lazimnya orang aceh? mungkin karena ada pengaruh dari kata kata nenekku yang sering diucapkan kepadaku waktu kecil dulu. Nenekku pernah bilang “peu mangat that kupi ijabrok nyan, mangat kuphi ta peuget keudro” artinya, apa enaknya kopi kain busuk itu, enakan kopi buatan sendiri. Maksud kain busuk itu adalah saringan yang dipakai untuk membuat kopi di warung warung tadi, menurut nenekku itu adalah kain busuk berwarna hitam karena terus terusan dipakai untuk menyaring kopi, sehingga ia menyebutnya ija brok atau kain kotor. Sejak saat itu, mungkin juga aku mulai merasa “hana mangat” setiap kali melihat orang menggunakan saringan kopi dari kain lusuh ini.

Pertanda malas

Selain menyebut kopi yang di jual di warung sebagai kopi kain busuk, nenekku juga sering bilang, kalau yang suka nongkrong di warung kopi adalah pemalas, karena ia tidak bekerja disaat orang lain bekerja. Pernah memang ada sekelompok pemuda di kampungku dulu yang menghabiskan waktu hampir seharian di warung kopi, kopi yang di pesan pancung lagi. Biasanya pagi pagi ia udah kesungai mandi, kemudian pulang dan pakai baju yang rapi, rambutnya tak pernah lupa disisir bak “boh amplam teu piep”, kemudian menuju ke warung kopi, menghabiskan waktu di sana, sambil baca koran serambi semua halaman dan setelah itu diikuti nonton filem india, sampai siang. Saat azan zuhur tiba, ia baru pulang untuk makan siang  dan kemudian ia ke meunasah (surau), bukan untuk salat zuhur, tapi untuk bobok siang di sana. Sorenya biasanya ia main bola dan malamnya kembali ke warung kopi, kali ini nonton sinetron sambil pesan kopi pancung dan membayarnya pakai bon alias utang.🙂

Peminum kopi terbanyak

Walau orang aceh terkenal dengan kopi dan kebiasaan minum kopinya, dan ini dibuktikan dengan banyaknya warung kopi, sehingga provinsi ini mendapatkan gelar baru sebagai kota sejuta warung kopi, namun gelar peminum kopi tebanyak perkapita  di dunia masih di pegang oleh orang Finlandia. Namun, aku yakin angka atau jumlah kopi yang diminum warga aceh tak kalah banyaknya, sayangnya belum sampai saat ini belum ada angka statistik yang menunjukkan berapa liter kopi yan diminum orang aceh perkapita pertahun. Dan jika angkanya cukup banyak, maka ada hal lain yang kini harus kita khawatirkan, karena saat membaca laporan DSM 5 terbaru dimana adiksi kopi menjadi salah satu diagnosa dari gangguan jiwa, maka bukan tidak mungkin kedepan prevalensi atau angka penderita gangguan jiwa di aceh yang kini mencapai 14 persen, bisa meningkat drastis karena banyaknya orang yang sudah teradiksi kopi di daerah ini. Tingginya angka peminum kopi secara langsung juga ikut menyumbang jumlah angka penderita gangguan jiwa di provinsi ujung paling barat indonesia ini. Hmmm..

Besok pagi ngopi dimana ya? Hehe…

4 thoughts on “Bersahabat dengan Kopi, Kembali Menjadi orang Aceh?

  1. “Tingginya angka peminum kopi secara langsung juga ikut menyumbang jumlah angka penderita gangguan jiwa di provinsi ujung paling barat indonesia ini” <—- hahahah..serius??? udah bs berhenti ngopi bnran kali ni😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s