Berpacu dengan waktu

wpid-DSC_0067.jpgOh, morning sun
Before you arise
Before you’ll come and shine again on us
Let me find, let me find, let me find

Some comfort in the night
I don’t mind what I’ve lost
I’ve reached the shore
And nothing ever changed
In a thousand waves
A million waves
Oh still, I look for love (The waves, Elisa)

Tersadar, seiring dengan perjalanan waktu, waktu itu terasa semakin menyempit, menyingkat, padat. Dulu aku mengeluh betapa waktu itu begitu panjang, hingga yang di nanti tak kunjung datang. Saat baru masuk kuliah, serasa waktunya sangat lama hingga masa lulus tiba, begitu banyak ujian semester yang harus di lalui, begitu banyak praktikum dan ujian praktik yang harus diikuti, begitu banyak wajah dosen yang harus di hadapi, begitu banyak uang yang harus dikeluarkan untuk biaya sekolah, inginnya waktu tamat segera datang dan gelar sarjana bisa segera di tempelkan di belakang namaku yang hanya satu suku kata ini.

Tapi kini, semuanya berubah setelah gelar sarjana kudapat, pekerjaan juga sudah ada, walau kadang putus nyambung dan harus pindah pindah seperti orang pacaran LDR, tapi satu hal yang pasti kurasakan, bahwa waktu seperti semakin menyempit. Walau zaman kuliah dulu aku sibuk sebagai pemain belakang layar di kampus, aku masih bisa berkeliling Aceh, walau dalam bingkai bakti sosial, masih sempat mengaji dan mengajar anak anak sekitaran kos untuk mengaji, masih sempat nonton bola semalamam kalau memang sedang maraton pertandingan bagus liga eropa sana. Di dunia kerja seperti sekarang, hal ini sangat sulit untuk bisa dilakukan, harus mencuri waktu, mencuri kesempatan disela kesibukan yang entah apa aku lakukan.

Waktu dan kesempatan sepertinya semakin mahal, lebih mahal dari dolar, euro dan poundsterling yang terus melangin, parahnya lagi, waktu itu hampir tak terbeli.

Ah, daripada terus mengeluh dengan penyempitan waktu, kenapa tidak mencintai, memanfaatkan dan menggunakan waktu yang sempit itu sebaik baiknya? bila orang barat sana menganggap waktu itu sebagai uang, maka aku ingin menjadikan waktu itu sebagai kesempatan, peluang dan anugrah untuk dimanfaat dan disyukuri, toh jika waktu dianggap uang, belum tentu uang itu bisa membahagiakan bukan?

Lambhuk, 30.08.13

One thought on “Berpacu dengan waktu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s