Biaya perjalanan dinas pejabat Aceh

image

Saya baru sadar, kenapa asa orang yang rela membayar jabatan, padahal semua kita tahu bahwa jabatan itu amanah dan tidak semua orang mampu menjalankan amanah tersebut. Dulu orang selalu menghindar saat ditawarkan akan sebuah jabatan, dan ketika mereka menerima jabatan tersebut, mereka benar benar menjalankannya.
Sekarang yang terjadi adalah kebalikannya, orang menggunakan berbagai cara untuk memperoleh jabatan. Selain dengan kolusi dan nepotisme, membeli jabatan sudah lumrah dah dianggap hal yang wajar dilakukan sekarang ini. Wajar memang saat mereka memimpin, mereka melakukan berbagai cara untuk mengembalikan modal yang sebelumnya digunakan untuk membeli jabatan tadi.

Dulu saya berpikir, kenapa orang mau jadi pejabat, padahal jelas jelas pejabat itu banyak kerjaanya, banyak tanggung jawabnya, dan gajinya biasanya tetap sama dengan orang lain (dalan hal ini PNS), belakangan saya diberitahu kawan kalau pejabat itu banyak tunjangannya, jadi wajar kalau orang berlomba lomba menjadi pejabat.

Rupanya, pengetahuan saya juha terbatas saat itu, orang menjadi pejabat bukan karena tunjangan, tapi juga karena banyaknya fee yang masuk kekantongnya. Kawan tersebut malah bilang, tunjangan jabatan itu tak seberapa, tapi fee nya itu yang luar biasa. Hebatnya lagi, fee tsb tidak tertulis dan hanya pejabat itu saja yang tahu berapa jumlahnya.

Melihat tabel biaya perjalanan dinas diataa, saya jadi bwekerut dahi, masa biaya penginapan semalam bisa berjuta juta? Mau tidur di hotel apa ya? Kemudian ada uang harian lagi? Apa maksudnya ini? Bukankah mereka sudah di gaji? Wallahu a’lam. Mungkin beginilah peraturan tak tertulis di negeri ini.

Bicara perjalanan dinas, saya teringat dengan pejabat di jerman, dimana setiap mereka melakukan perjalanan dinas, mereka harus membayar semua uang transportasi, makan dan penginapan dari uang mereka sendiri, dan uang ini tidak pernah di reimburst karena dianggap mereka telah menerima gaji. Sangat wajar jika mereka jadinya malas menjadi pejabat dan hanya mau menjadi staff saja. Satu satunya keuntungan menjadi pejabat disana hanya karena beban pekerjaan fisik mereka berkurang karena punya anak buah yang bekerja untuk mereka, sedangkan gaji, hampir tak ada bedanya.

Nah jika sistem di jerman ini diadopsi ke indonesia, saya yakin tidak akan ada lagi orang yang mau menjadi pejabat dan yang mamanya perjalanan dinas akan menjadi sesuatu yang langka.

Tapi apa mungkin?? Hmmm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s