Linto Kak dek ti Jadi Anggota Dewan!

Tersebutlah namanya siti, biasa dipanggil dek ti, anak bungsung enam bersaudara, walau usianya sudah tidak lagi muda, sudah kepala empat, tapi tetap saja para tetangga memanggilnya dek ti. “Dek” dalam bahasa aceh artinya adik, dan jika ada orang yang lebih muda dari dek ti memanggil namanya, kata-kata dek tetap saja di sematkan dan biasanya ditambah kata “kak” yang berarti kakak, sehingga panggilan lengkapnya adalah “kak dek ti”.

DSC_0410Pagi itu, sang surya masih malu malu menampkannya cahaya, masih bersembunyi dibalik gunong seulawan, seakan tidak mau lepas dari ikatan gelap malam. Di desa yang penuh dengan pepohonan rindang nan hijau itu, asap mengempul keluar daru “bara” rumah penduduk yang umumnya terbuat dari kayu. Begitu juga dengan rumah kak dek ti, dia sedang memasak nasi dengan kayu bakar untuk suami dan ibunya yang tinggal dengan mereka. Lazim bagi masyarakat Aceh orang tua tinggal dengan anak bungsu perempuan. Sedangkan saudara-saudara lain kak dek ti semuanya sudah merantau, menikah dan ikut pasangannnya, hanya kak dek ti yang, mau tak mau, betah tinggal dikampung untuk merawat orang tuanya semata wayang terserbut.

 “Boh peunyie hana lee, hana lagee jameun lee, eungkot pih han item deng le lam rhap yang ta peuget lam kreung, abeh pliek ta siprek, meu di peutoe han”, sebut bang mae membuka pembicaraan, sambil meniup asap di kopi hitam yang baru di sajikan kekasih hatinya tersebut. Bang mae, begitu dia dipanggil walau nama yang tertulis di KTP nya adalah ismail. Ia berprofesi sebagai “toleng” alias toekang lengkap, kata-kata yang hanya dikenal dikalangan pemuda kampung tersebut untuk orang yang pekerjaannya serabutan, apapun yang bisa menghasilkan uang akan dilakukan, persis seperti bang mae. Saat musim sawah, dia bisa jadi pembajak tanah, tanam padi, hingga potong padi. Saat musim sawah selesai, dia berkebun, menanam apa saja yang bisa ditanam di tanah milik tetangga yang dipercayakan kepadanya. Biasanya tomat, cabai, kacang panjang, hingga jagung manis. Kadang hasil taninya bagus, tapi tak jarang juga gagal panen.

Saat bukan musim panen dan bukan musim berkebun, dia bisa menghabiskan waktunya di sungai, menjala ikan, menangkap udang atau apapun yang bisa di ambil dari sungai untuk kemudian dijualnya di pasar kecamatan, “yang peunteng meusap dapu” begitu kebanyakan orang kampung menamsilkan. Dan pagi itu, bang mae curhat dengan istrinya, akan langkanya buah penyu dan ikan yang dulunya sangat mudah didapat di sungai yang membelah kampung mereka.  Iya, dulu saat bang maen masih lajang, ia sering pagi-pagi ke sungai, berharap ada penyu yang bertelur dan telurnya bisa diambil. Biasanya yang diambil sebagian, sedangkan sebagian lagi dibiarkan disitu, supaya bisa menetas dan menjadi penyu dewasa kemudian hari. Namun sejak “investor cina” masuk kampung, jangankan menyisakan telur penyu yang ditanam di pasir tepi sungai, induk penyu pun kalau nampak muncul di sungai akan di tembak, untuk kemudian dijual ke cina tadi dan dijadikan makanan.

Akibat dari perilaku berburu tanpa pandang bulu tadi, populasi penyu yang dulu pernah banyak di sungai kini hampir tidak pernah terlihat lagi, mungkin sudah punah sama sekali. Begitu juga dengan curhatan bang mae tentang “rhap”nya yang tidak pernah lagi disinggahi ikan. Dulu, hanya butuh 2 hari untuk bisa memanen rhap, kini hal ini hampir tidak pernah ada yang melakukan lagi, karena populasi ikan di sungai sangat berkurang. Begitu juga dengan udang, dulu sambil  (maaf) buang hajat di sungai, kita bisa menangkap udang yang lalu lalang dibalik batu, kini “ka lhee boh beukah jeu hana meurumpok udeung”, sebut bang mae.

Ironis memang, perilaku manusia yang hanya mau instan dan tak pernah mempedulikan lingkungan, kini mulai terlihat efeknya, dan orang yang paling merasakan efenya adalah mereka yang hidupnya dekat dengan alam, seperti bang mae.

Kak dek ti tidak membalas curhatan suaminya, dia sibuk mengaduk kuah leumak boh labu di dapurnya. Ia paham betul, saat suami sedang bingung untuk mendapatkan mata pencaharian, atau sedang bingun harus melakukan apa hari itu untuk mendapatkan uang, ia akan memulai dengan berkeluh kesah akan susahnya mencari pekerjaan. Kak dek ti akan terus diam, karena sesudah makan nasi, suaminya akan mengambil parang, pergi kemana saja angin membawanya, berharap ada sebuah pekerjaan yang bisa ditemukan. Sambil sama-sama menyantap nasi di pagi, tiba-tiba kak dek ti berkata ke suaminya “peken han neu ek keu anggota dewan?”

Bang mae pun teu rhok, sekian!

2 thoughts on “Linto Kak dek ti Jadi Anggota Dewan!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s