Beda Hunting sunset di Banda Aceh dengan di Berlin

Mau membandingkan serunya hunting matahari tenggelam di sekitaran Banda Aceh dengan di Berlin? susah untuk dibedakan.  Yang satu hanya kota kecil di pinggir pantai dengan penduduk hanya 174 ribu orang, satunya ibukota negara dengan penduduk lebih dari 3 juta. Namun yang namanya matahari tetap sama, hanya ada satu dan yang kita lihat hanya itu itu saja, tapi kenapa indah? karena penciptanya adalah yang maha kuasa, yang memberikan keindahan disetiap ciptaannya.

DSC_0397

Well, jika di Banda Aceh, saya sering hunting sunset di sekitara alue naga (kebetulan dekat rumah di Darussalam dulu), Pantai ulee lheu (sambil makan jagung bakar) atau di pantai lhoknga dan lampuuk. Jika huntingnya di pantai Ulee lheu, maka diikuti dengan shalat magrib di Mesjid Ulee lheu, sedang jika di lampuuk ya shalatnya di Mesjid Lampuuk. Baru setelah magrib pulang ke rumah, indah bukan?

DSC_0406

Tapi sejak tinggal di Berlin, ritual seperti itu sama sekali tidak bisa saya lakukan. pertama karena letak berlin yang di tengah tengah pulau dan tak ada pantainya, jadi tidak bisa hunting di pantai sambil makan jagung atau minum airkelapa muda, karena ketiga bahan itu tidak ada sama sekali. Apalagi jika musim dingin, dimana matahari hanya tersenyum sebentar, barang beberapa jam, kemudian menghilang.

Dan saya baru sadar jika ritual hunting sunset dan shalat magrib di mesjid juga bisa dilakukan di ibukota jerman ini. How come? Seperti aku sebutkan tadi, matahari itu hanya satu dan saat tenggelam, pasti berwarna oranje dan menawan, bedanya mungkin jika di pantai, matahari tenggelam kedalam laut, sedang saat dikota besar, tenggelamnya di balik gedung, tapi percayalah, aromanya tetap sama.

DSC_0410

Seperti tadi sore usai jalan-jalan disekitaran Alexanderplatz, dengan mendayung sepeda saya pulang lewat Oberbaum Bridge. Diatas jembatan banyak orang sedang bersantai dan memegang kamera, rupanya di sebelah kanan saya matahari tepat akan tenggelam. Wow, langsung saja parkir sepeda dan keluarkan hape, maklum kamera DSLR nya terpaksa ditinggal di kampung karena di bajak istri🙂. Bukan hanya saya, banyak orang yang lewat juga berhenti dan memotret momen yang sedikit langka di negara barat ini. wajar memang karena matahari hanya bisa mereka lihat saat musim panas saja seperti sekarang ini.

Mesjid Omar

Nah, bagaimana dengan ritual shalat? nah dekat dengan jembatan tadi, sekitar 500 meter ada mesjid terbesar yang bernama mesjid Omar (Omar ibn Al khattab Moschee Berlin). dari rumah ke mesjid, saya cukup mendayung sepeda kurang dari 10 menit.

Wah, jika kedua hal ini bisa saya lakukan tiap sore, rasanya bakalan betah di Berlin, tapi bagaimana dengan pantai? atau waktu musim dingin yang biasanya bersalju tebal? hmm…pulang kampung aja deh.

Saleum

Berlin, 080813

Note: salah satu foto diatas juga diikutkan dalam turnamen foto perjalana

4 thoughts on “Beda Hunting sunset di Banda Aceh dengan di Berlin

  1. Dimanapun tetep sama yg nama nya matahari yaaa hahaha. Karena dimanapun kita, langit kita akan sama dan Tuhan pun juga ada, jadi kangen menunggu sunset di dermaga sambil menunggu sholat maghrib🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s