Aku dan Hikayat Sandal Jepit

“Hei, kamu, yang duduk paling belakang, kamu pakai sandal jepit ya? kamu pikir kampus ini sawah kamu ya? keluar kamu….” suara sang dosen yang serak dan berat itu berteriak ke wajahku, seluruh mata di ruang kuliah juga kini menatapku, padahal aku sudah menyembunyikan sebisa mungkin, agar sandal yang kupakai tidak nampak ke dia, tapi matanya emang jeli, “dasar dosen obgyn, yang kecil2 selalu nampak di matanya” teriak batinku.

silopAku mengambil tas, bangkit dan kemudian menuju pintu keluar ruangan. Aku tahu, tak akan berhasil untuk membujuknya, merayu atau minta maaf. “Masih untung tidak di tanya siapa nama, nomor mahasiswa untuk di catat di buku merahnya” pikirku. Padahal pagi itu kuliah baru saja dimulai, semangat mahasiswaku masih tinggi tingginya, walau keringat di tubuh masih belum seluruhnya kering, hasil bergantungan di robur ijo dari jambo tape sampai Darussalam, plus jalan kaki ke kampus kami yang memang terletak paling belakang. hmmm…nasib.

Keluar dari ruang, aku hanya bisa kesal dan menggurutu sendiri, secara pelajaran objin lumayan enak di cerna, belum lagi jika pak dosen menampilkan foto foto yang …..(khusus dewasa), tapi sudahlah, nanti foto fotonya bisa kulihat di buku anatomi, dan catatan kuliahnya bisa pinjam si sriek, pun aku juga hampir tidak pernah mencatat dikelas, bisanya hanya menjadi pendengar, sambil berimajinasi saat dijelaskan dosen, kalaupun aku mencatat, setelah keluar aku tidak bisa membaca lagi tulisanku…

Dari dulu aku protes dengan peraturan “wajin pakai sepatu”, secara aku adalah penggemar sandal jepit, dan sepatu sering membuat kakiku kepanasan, belum lagi uang untuk beli beli sepatu jauh lebih mahal dibanding sandal jepit, walau belinya di toko payung, tetap saja sepatu lebih mahal dari sandal jepit.

Sandal jepit, selain murah meriah, juga multi fungsi. Bisa dipakai ke kebun, jalan-jalan ke pantai, bisa juga dibawa masuk ke jamban. Kalau kotor mudah dibersihkan, tahan air dan juga tahan panas. Satu satunya musuh sandal jepit adalah saat ke mesjid, sangking praktisnya seirng banyak yang incar. Dan aku sudah sering mengalami kehilangan sandal ini. Terakhir waktu shalat tarawih di Mesjid raya, begitu shalat selesai, aku keluar dan tak lagi menemukan si sandal. Dengan kaki telanjang, aku langsung naik kereta dan menuju ke toko payung yang banyak buka lapak waktu malam di depan BNI. sebagai wujud aktualisasi diri, dalam hati aku berujar “Terima kasih wahai pencuri sandal yang tzelah mencuri sandalku, dengan ini aku punya sandal baru”🙂

&&&&

Katanya sekarang di Jerman sedang musim panas, dan orang-orang juga berpakain serba minim, baju you can see, celana aikensii, betis everyone can see. Tak mau kalah, tadi ke kampus aku juga pakai sandal jepit yang khusus kubawa dari kampung, khusus ku beli di pasar seulimeum. Anehnya, aku tidak dikeluarkan sama profesorku, padahal dia melihatnya dan santai-santai aja. rupanya dia juga pakai sandal ke kampus🙂.Seorang kawan asal Brazil sempat nanya perkara sandal jepit hitam merek swallow ini. “where did you get your flip flop from?” tanya nya penasaran. “Home” jawabku singkat. “Did they import it from our country, Brazil?” Tanya nya lagi, sambil menjelaskan bahwa dia juga suka pakai sandal jepit dan dikampungnya ada pabrik besar pembuat flip flop.

“what?” “kapuke awak kah tok yang jeut pueget silop situek nyoe?” jawabku dalam bahasa portugis yang cukup fasih, tapi dia nampaknya kebingunngan. Aku tak mau melanjutkan debat, sambil menunjuk ke arah dosen yang sedang menjelaskan pelajaran di depan dengan semangatnya.

Dan, jika aku bisa meminjam pintu kemanasaja doraemon, aku pingin kembali ke kelas saat aku diusir dosen objin dulu, mau kubilang, “dok, profesor di jerman aja gk ngusir aku karena pakai sandal jepit, mereka biasa saja, bisa mengerti kalau cuaca kita panas dan akan bertambah panas saat pakai sepatu. Sudahlah, tak usah ikut ikutan peraturan wajib sepatu, yang kaya hanya yang punya pabrik dan yang punya toko, termasuk toko payung. sudahlah, tak usah ikut2an gaya barat yang semua orangnya pakai sepatu saat musim dingin, sesuaikan saja dengan keadaan negara kita yang letaknya di khatulistiwa. Lebih baik pakai baju apa adanya, asala sopan dan menutup aurat, bukan menuntut seragam berlebihan yang akahirnya banyak orang tidak bisa ikut perlajaran karena tidak punya seragam.

Kalau dia bersikeras, aku mau bilang lagi, “pak, seharusnya silop situek yang mirip dengan silop swallow ini kita lestarikan, karena orang Brazil mau mematenkan barang ini. Hana pateh sit? kakeuh lah.

Hidup sandal Jepit🙂

Berlin 05.06.2013

4 thoughts on “Aku dan Hikayat Sandal Jepit

  1. “kalaupun aku mencatat, setelah keluar aku tidak bisa membaca lagi tulisanku” <<= pernah banget mengalami yg seperti ini haahahahaa. Apalagi pas presentasi dan nyatet masukan dr dosen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s