Q3: Apa orang gila bisa sembuh?

Lagi lagi, ini pertanyaan yang paling sering ditanyakan. Apakah orang gila sembuh atau tidak tergantung pada jenis penyakitnya, tingkat keparahannya, pengobatan, faktor individu serta dukungan dari lingkungannya.

Banyak jenis gangguan jiwa yang dulu dianggap tidak mungkin disembuhkan, dengan berbagai pendekatan terapi , kini prognosanya menjadi lebih baik. Maksudnya, jika dulu orang yang mengalami gangguan jiwa tinggal menunggu hari saja, kini malah banyak orang ganggun jiwa yang sembuh, bisa bekerja dan malah incomenya lebih banyak dari orang yang merawatnya (baca: dokter atau perawat). Pun demikian, faktor-faktor yang disebutkan diatas sangat berperan.

Secara umum, orang  yang mengalami gangguan jiwa, kemungkinan sembuhnya terbagi dalam tiga kelompok. Sepertiga pertama adalah sembuh total, sepertiga kedua adalah sembuh tapi masih membutuhkan pengobatan untuk beberapa waktu tertentu, sedangkan sepertiga terakhir adalah tidak sembuh, dalam artian harus selalu mendapatkan pengobatan dan perawatn ekstra. Kelompok terakhir ini yang biasanya “dibuang” ke rumah sakit jiwa dan menjadi pasien abadi disana.

Untuk bisa masuk dalam kelompok pertama, yang sembuh total, ada bebera syarat yang harus dipenuhi, pertama mendapatkan pengotan sedini mungkin setelah orang tersebut mengalami gejala gangguan jiwa untuk pertama kali. Walau hal ini sangat relatif dan tergantung dari faktor-faktor lain seperti  faktor individu, genetis dan lingkungan, penelitian menunjukkan semakin pendek DUP -nya maka prognosanya semakin baik.

Pada kelompok kedua, selain harus mendapatkan obat yang rutin dan teratur, pasien juga membutuh kan dukungan keluarga yang baik. Keluarga disini berperan untuk tetap mengingatkan pasien untuk terus minum obat, dan memantau jika jika si pasien mengalami serangan gangguan jiwa. Mereka yang rutin mau minum obat biasanya dapat terus bekerja, dan bisa tetap produktiv seperti orang normal lainnya.

Yang sering mejadi masalah adalah saat pasien tersebut merasa sembuh dan tidak mau minum obat lagi. Hal ini tidak hanya bisa memacu kembali serangan gangguan jiwanya, tetapi juga memperparah kedaaan dan proses pengobatannya. Saat merasa sudah sembuh, pasien sering menurunkan dosis sendiri atau malah tidak minum obat sama sekali tanpa berkonsultasi dengan dokter sebelumnya. Oleh karena itu, dukungan keluarga sangat dibutuhkan untuk terus menerus mengingatkan sipasien agar tetap mau minum obat. Jika keluarga baru tahu belakangan bahwa pasien sudah menurunkan dosis atau tidak minum sama sekali, sebaiknya segera menghubungi dokter untuk konsultasi, walau kondisi pasien baik baik saja. Ingat, relaps bisa datang kapan saja dan dimana saja.

Kelompok terakhir yang secara klinis mungkin bisa dikatakan “susah untuk sembuh” juga tidak seharusnya tinggal di rumah sakit jiwa, tapi bisa saja dikeluarga, jika memang ada anggota keluarga yang bisa menjaganya. Namun jika tidak, model yang dilakukan di Aceh layak ditiru. Model yang mereka sebuat “filial jiwa” ini sebenaryan adalah rumah sakit jiwa jarak jauh. Namun tidak seperti di RSJ dimana mereka dikurung selama 24 jam, disini mereka diberi kebebasan untuk tetap beraktivitas, bermain bahkan bercocok tanam.

Menurut pengakuan seorang kawan perawat di Filial jiwa Jantho, ada memang sebagian pasien yang “sangat susah untuk diajarkan”, bingung harus berbuat apa, dan sebagainya. Namun karena melihat kawan kawan lain yang keadaannya lumayan, ia akhirnya bisa mengikuti perintah tersebut. Misalnya saat disuruh untuk mencangkul tanah, pasien yang sudah parah ini biasanya tidak tahu atau kurang paham, tapi karena melihat pasien lain mencangkul, maka akhirnya ia juga bisa mencangkul, sekali lagi, ini butuh kesabaran ekstra dari perawat yang menjaganya.

Ingat, setiap individu itu unik dan setiap pasien jiwa itu juga unik, tapi mereka juga punya hak untuk bisa menikmati hidup seperti orang normal lainnya.

9 thoughts on “Q3: Apa orang gila bisa sembuh?

  1. Prosedur memasukkan seseorang ke RSJ itu yg harus diatur tegas,jangan sampai RSJ menjadi tempat penjara atau pembuangan orang yg difitnah,akibat persaingan bisnis,atau tdak disukai penguasa atau pd kasus perebutan warisan keluarga dll. disalahgunakan

  2. Prosedur memasukkan seseorang ke RSJ itu yg harus diatur tegas,jangan sampai disalahgunakan untuk memfitnah,menjadi penjara bagi korban fitnah,orang yg tidak disukai atau mau disingkirkan krn rebutan warisan keluarga,persaingan bisnis,orang yg tidak disukai lingkungan,dll,penyalahgunaan. IDI perlu mengatur ini. supaya dokter Jiwa pun tak melakukan malpraktek

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s