Oh Acehku! Kenapa kau bodoh berkali kali?

Miris, menyedihkan, dan memalukan. Mungkin begitulah kesimpulan Anda setelah membaca berita tentang persentase siswa SMA di Aceh yang tidak lulus Ujian Nasional (UN) pada tahun 2013. Nomer satu dari nasional? Yup, tapi nomer satu dari belakang alias peringkat terakhir di bawah Papua. Kali ini kambing mana yang mau dicat hitam? Institusi mana yang hendak disalahakan? Atau siapakah orang yang pantas menjadi terhukum?

acehKita (baca: Aceh) masih terlalu bangga dengan gelar daerah istimewa yang disandangkan, istimewa di bidang pendidikan, agama, dan kebudayaan. Kini,  dari ketiga penghargaan itu, mungkin tak ada satupun yang bisa kita andalkan. Tidak dipungkiri jika pendidikan di daerah kita pada masa lalu patut diacungi jempol. Jangankan dari daerah lain di negeri ini, mahasiswa dari luar negeri pun rela keluar dari tanah kelahiran mereka demi menuntut ilmu di bumi Serambi Mekah ini. Sekarang? Tidak perlu jauh-jauh mengintip prestasi ini-itu, lihat saja berita hari ini. Dulu kita bisa berbaganga hati dengan kuatnya nilai agama Islam yang mengalir dalam darah para penerus bangsa. Kalau sekarang? Agama tidak lebihdari alat kampanye partai. Maksiat terjadi di mana-mana. Lalu keistimewaan terhadap budaya? Mungkin hanya budaya duduk di warung kopi yang dulu dianggap simbol pemalas yang kini malah dibanggakan.

Saat kita masih menderita akibat konflik, alasan untuk tertinggal dari daerah lain mungkin dapat diterima akal sehat. Konflik berkepanjangan menyebabkan pembangunan infrastruktur dan sumber daya manusia menjadi terhambat. Malah sekolah yang merupakan sarana pendidikan banyak yang dibakar saat itu. Nah, sekarang kurang apa lagi? Kesejahteraaan guru jauh lebih baik dari sebelumnya, infrastruktur malah cukup hebat dan megah berkat milyaran dana otonomi khusus. Apa lagi hambatannya? Atau apakah karena orang Aceh memang terlahir bodoh? Tidak! Saya tidak setuju dengan statement itu. Tidak ada orang yang terlahir bodoh, tetapi orang yang membodohkan diri sendiri yang banyak. Malas belajar, budaya mencontek, KKN yang meraja lela, kepingin yang gampang saja dan tidak mau berusaha, mudah terbawa arus, dan lain sebagainya itulah yang banyak kita jumpai pada generasi sekarang ini.

Hasil uji sertifikasi guru beberapa waktu lalu juga memprihatinkan. Banyak sekali guru di Aceh yang tidak lulus ujian tersebut. Alasan yang mereka berikan juga sangat klise. Kurang persiapan. Lalu, apa artinya mereka mengajar bertahun-tahun? Apakah itu bukan persiapan?

Ibu saya adalah seorang guru dan kepala sekolah di sebuah SD yang terletak di pelosok Aceh. Setiap saya pulang kampung, entah curhatan apa saja yang keluar dari mulutnya. Mulai dari panggilan dari kantor yang sebentar-bentar untuk ikut rapat. Namun sesampai di sana, hanya ada acara makan-minum dan bagi-bagi uang serta ceramah dengan topik yang itu-itu saja dari pihak dinas. Ibu saya juga bercerita tentang guru yang sangat jarang masuk mengajar dan murid yang maunya main saja… Wallahu a’lam.

Banyak guru yang sangat semangat mengajar ketika masih berstatus bakti. Akan tetapi, setelah mereka diangkat menjadi PNS, masuk ke sekolah untuk mengajar hanya seminggu sekali. Tidak ada yang protes? Ada. Banyak yang tidak setuju dengan kelakuan sang guru. Tapi mereka hanya berani di belakang dan tidak berani di depan. Ini dikarenakan suami guru malas itu memiliki kenalan yang duduk di kursi DPRA.

SDPrilaku murid juga masih banyak yang perlu dibenah. Pernah suatu hari ibu saya bercerita tentang seorang murid SD yang nakalnya naudzubillah.  Di sekolah ada saja keonaran yang dibuatnya. Di rumah ia pun demikian. Tetapi orang tuanya hanya diam dan tidak menghukum sama sekali. Alasannya sang bapak sibuk dan si ibu takut pada anaknya. Apapun yang anak itu minta, pasti dituruti.Walhasil, ketika dia meminta dibelikan sepeda motor, orang tuanya langsung memenuhi. Bayangkan, anak SD sudah berani membawa motor ke sekolah. baru dua minggu dia mengendarai motor, sang anak sudah tahu cara menabrak sapi dan kisah anak itu berakhir di meja operasi.

Yang lebih parahnya lagi, ada murid kelas 1 SD yang menurut penuturan ibu saya, suka mencium murid perempuan yang cantik di kelasnya. Saat murid itu tertangkap basah sedang mencoba mencium teman sekelasnya, ibu saya menanyakan perihal keanehan perilakunya itu. Tanpa rasa bersalah ia menjawab, “lon nonton bak tiphi, buk. Cewek lagak dicom,” (saya nonton di TV, bu. Cewek cantik dicium). Kalau masalahnya seperti ini, siapa lagi yang patut kita salahkan?

Setiap kali saya ke warnet yang terletak di pasar kecamatan untuk mengirim tugas, di sana saya melihat warnet itu penuh dengan anak berseragam sekolah SMP dan SMA. Keesokan harinya pun demikian. Mereka rela duduk berjam-jam di depan layar komputer sambil bermain game online . Sambil bermain, mereka juga asyik menghisap rokok. Rasanya hidup mereka hanya sebatas game online dan asap rokok. Pemilik warnet pernah mengatakan bahwa ada di antara anak-anak itu yang tidak pulang seharian, “saya ngga berani meralang. Ayahnya anggota,” cerita pemilik warnet itu pasrah. Mungkin  Mungkin anak-anak itu berpikir, untuk apa serius sekolah kalau nanti waktu ujian kunci jawaban sudah diberikan guru. Atau kalaupun tetap tidak lulus , masih ada ujian pakat C. Nanti masih bisa juga jadi anggota dewan atau bahkan pejabat di pemerintahan.

PR yang Masih Menumpuk

Masih banyak pekerjaan rumah bagi kita untuk memperbaiki dan membangun pendidikan di Tanoh Rencong ini. Salah besar jika selama ini jika yanga ada di benak kita adalah untuk meningkatkan mutu pendidikan cukup hanya dengan membangun gedung yang indah dan megah. Terlalu banyak waktu terbuang  jika hanya digunakan untuk rapat dan rapat. Terlalu banyak dosa jika guru yang sudah menerima gaji tapi tidak pernah masuk untuk mengajar. Juga berdosa jika guru bisanya hanya memarahi murid ketika murid bertanya dan guru tidak bisa menjawab. Mungkin para guru tidak hanya dibutuhkan untuk bisa mengajar, tapi bagaimana bisa memberikan sentuhan psikologis. Orang tua juga harus aktif berperan.  Mungkin harus ada suatu hari dimana setiap orang tua diwajibkan untuk datang dan duduk dalam ruang sekolah bersama dengan anak-anaknya. Biar mereka tahu apa pekerjaan anaknya dan juga merefresh kembali ilmunya yang dulu pernah dipelajarinya.

Di negara maju, guru tidak hanya diajarkan bagaimana cara mengajar, tapi mereka juga tahu kondisi psikologis muridnya. Menyotek adalah haram dan memalukan. Hal itu sudah diajarkan sedini mungkin. Kita malah ada guru di sekolah yang memberikan jawaban buat muridnya dengan tujuan sekolahnya terkenal dan reputasinya sebagai sekolah favorit terjaga. Bukankah ini mengajar kebohongan?

Sekali lagi, terlalu banyak PR dalam bidang pendidikan. Untuk mencari jawabannya berpulang pada kita sendiri.  Mau berubah dan memperbaiki ke arah yang lebih baik atau sebaliknya. Karena jika kita terus berdiam diri, bersiap-siaplah dengan gelar baru ; Aceh Pungo dan Bangai.

Berlin, 24.05.13

11 thoughts on “Oh Acehku! Kenapa kau bodoh berkali kali?

    • Iya, parah sekali emang sudah. sepertinya kita harus buat program “Aceh blogger mengajar”, hehe. jadi setiap blogger harus kunjungin sekolah sebulan sekali, hari sabtu gt…materinya terserah.
      kalo yg saya amati, siswa udah bosa dengan guru yg itu2 trs dan cara mengajar yang begitu2 trs…🙂
      gmn gmn?

  1. Walaupun judulnya tentang Aceh, tetapi “permasalahan”nya itu permasalahan Indonesia pada umumnya. Sama, persis, plek dengan kondisi disini😦

    – Soal kelulusan siswa, jika hanya 1 atau 2 orang yang tidak lulus, mungkin saja faktor X ada di anaknya yang bisa saja karena sakit, kurang persiapan, dll. Tapiiiii jika yang tidak lulus lebih dari 80% (tahun lalu malah ada yg 100% tdk lulus), sebaiknya pihak sekolah dan dinas pendidikan terkait perlu berbenah.
    – SDM guru juga begitu. Guru2 yang lolos sertifikasi tidak selalu memiliki kemampuan yang lebih baik daripada guru yang tidak lolos karena disini banyak juga kasus guru yang “menjahit”kan dokumen2 untuk sertifikasi, tinggal bayar beres trus lolos sertifikasi. Miris ya😦
    – Ada tren sekolah2 lebih berorientasi pada hasil daripada proses belajar. Banyak sekolah menargetkan kelulusan dengan NEM tinggi. Bagus sebenarnya, tetapi cara yg ditempuh kurang mendidik karena akhirnya mereka melegalkan praktek curang dalam ujian.

    • setuju, di kampung saya pun permasalahannya sama entah kenapa tahun ini hasilnya pada lulus 100%

      saya ingat waktu SMA, dapat guru yang gak kompeten bukannya ngajar siswa; beliau habis kita kerjain tiap masuk kelas karena siswa lebih menguasai materi dasar yang diajarkan

      • Saya juga setuju jika masalah pendidikan di negara kita sudah kronis, tapi di aceh itu menurut pribadi saya sudah kronis. pendekatan mengajar sekarang sepertinya sudah harus di upgrade, siswa harus lebih diberi kreativitas tapi focus. sekarang saja coba lihat, ganti menteri juga ganti kurikulum plus ganti buku. oke lah jika bukunya gratis atau disubsidi atau siswanya sanggup beli, kalau tidak? banyak juga pelajaran yg kadang tidak penting tp malah dipaksakan. belum lagi masalah guru yg memang tidak punya jiwa untuk mengajar dan guru yg kadang tidak tahu harus mengajar apa dan bagaimana.

        hmmm….banyak sih yg mau di komentarin, tapi….sudahlah….:)

  2. Setuju sama mbak Dian. Apa yang terjadi di Aceh juga terjadi di daerah lain. Lagian, dengan kekacauan UN tahun ini, sangat besar kemungkinan kecurangan terjadi dimana-mana. Bahkan di daerah yang dengan bangga mengaku bahwa siswanya lulus semua.

  3. Hana pat bantah!

    Perlu diterapkan belajar melalui video agar murid tidak mudah bosan, dan sudah dibuktikan oleh Khan Academy yang investornya adalah Bill Gates, bahwa belajar yang demikian sangat efektif, cepat dicerna oleh murid.

    Videografer dan Grafis designer perlu direkrut untuk menciptakan karya2 untuk bahan belajar murid2 di Indonesia umumnya dan di Aceh khususnya.

    • Nyan lon pih sangat setuju,

      tapi apa kita udah punya SDM untuk memmbuat yang seperti itu? maksudnya apa ada orang kita yang mau membuat secara non for provit seperti khan akademy? meunyo na, lon siap mendukung semamu lon🙂

  4. Saya tidak berusaha membela siapa-siapa ataupun menyalahkan siapa-siapa, karena saya pikir banyak sekali hal yang harus diperbaiki disini, mulai dari muridnya yang mungkin kurang termotifasi, gurunya yang kurang terinspirasi, program pendidikannya yang terlalu dogmatis dan pemerintahnya yang kurang memperhatikan perlunya pendidikan – mulai dari yang dasar sekali.
    Rasanya kita semua sekarang harus banyak melihat ‘kebun tetangga’….

    • iya, sangat setuju, tulisan diatas juga tidak bermaksud untuk menyalahkan siapa siapa, tapi cara introspeksi yang sedikit keras, yang kami anggap cocok untuk orang aceh yg kadang keras kepala🙂 (termasuk saya :))

      btw, terima kasih sudah berkunjung🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s