Kisah Alpukat, Ketika Makanan Anjing jadi buahan Mahal

Membaca Postingan manufacturing hope ke 78 Dahlan Iskan tentang Potensi buah-buahan tropis, Aku jadi teringat kisah saat melakukan bakti sosial di kabupaten Bener Meriah Pertengahan Tahun 2004 lalu. Saat itu aku masih mahasiswa tingkat sarjana di Unsyiah, dan salah satu kegiatan yang sering aku lakukan adalah ikut bakti sosial. Kami terbiasa mengunjungi daerah pelosok yang tidak ada di peta, bahkan camat di daerah tersebut kadang lupa akan nama daerahnya. Di tahun 2004 itu saja, tidak kurang dari 4 baksos yang aku ikut serta di dalamnya, Baksos anak BSPD ke singkil, Baksos anak PEMA ke Terangon, Baksos Anak IAIN di Bener meriah, dan terakhir dengan anak PMI ke pulo aceh (dimana saat tsunami terjadi, kami sedang di tengah laut diatas boat nelayan dalam perjalanan pulang ke Banda Aceh).

Nah, kisah ini tentang Baksos di Bener Meriah

Dari Banda Aceh, kami berangkat dengan bus. Aku lupa jumlahnya tapi kalau tidak salah ada sekitar 100 lebih mahasiswa yang ikut, dan kami di BKO-kan di dua post terpisah. Sejak naik ke bus, keributan yang kami buat tidak pernah terhenti, kebetulan disitu ada kawan kawanku yang memang raja baksos “pat na baksos, pasti na nan awak kah”, (setiap ada baksos, pasti ada nama kaliah) begitu sebut salah seorang teman. Kami duduk di bangku nomor 3 dari depan, ada aku, si lay, deki en pak husen. Hanya itu kawan semobil yang ku kenal, lainnya banyak anak anak IAIN yang baru pertama kali ikut baksos. Karena memang kami konco yang pas, keributan dalam mobil tidak pernah berhenti, ada saja yang kami ceritakan, biasanya tentang kelucuan saat ikut baksos yang dulu. Penumpang lain semuanya diam, mungkin terlalu asik mendengar cerita kami yang lucu? Wallahu a’lam

Sebelum berangkat ke Bener Meriah, sedikit info yang aku tahu tentang daerah itu. Bener meriah merupakan kabupaten baru hasil permekaran dari Aceh Tengah, keduanya merupakan daerah penghasil kopi terbaik dan terbanyak di Dunia. Selain kopi, banyak sayur sayuran di daerah pesisir aceh berasal dari sana, selain dari berastagi tentunya. Nah, disamping kopi dan sayuran,  daerah ini juga penghasil buah buahan seperti Jeruk, Terong  Belanda, dan Alpukat. Kedua daerah ini terletak di dataran tinggi Gayo,  tempatnya dingin, tanahnya subur, surga buat petani.

Nah dari beberapa info yang kudapat, katanya buah buahan dan sayuran sangat murah disini, wajar memang karena mereka menanam sendiri tumbuhan tersebut. Tiba disana, aku tergabung dalam kelompok 1, dan menginap di sebuah SMP dekat daerah air panas (lupa namanya). Saat itu sudah mendekati bulan puasa,  sekolah sudah libur, dan kami bisa menggunakan ruang kelas sebagai tempat tinggal.

Perjalanan butuh sekitar 8 Jam dari ibu kota propinsi, tiba disana sudah malam dan tidak banyak aktivitas yang bisa kami lakukan. Baru besoknya kami mulai hunting, berkenalan dengan warga sekitar, mandi di Air panas, dan yang paling penting; mencari buah-buahan gratis🙂

Kenapa gratis? Karena memang orang gayo suka memberi, apalagi untuk mahasiswa yang mengunjungi daerah mereka. Kawan saya pernah bilang, jika orang gayo itu sangat pemurah, hingga ia tidak bisa berdagang, karena kalau ada yang meminta barangnya, mereka tidak tega meminta uangnya, apalagi jika orang itu saudara atau orang yang dianggapnya saudara. Wajar jika kemudian penjual di daerah itu banyak orang Aceh pesisir, bukan orang gayo asli. Mungkin orang gayo lebih senang bertani dari pada berdagang?

Di hari pertama kami langsung berkenalan dengan penduduk yang tinggal dekat sekolah dimaana kami menginap, pertanyaan pertama juga tidak jauh dari misi terselubung kami, “dimana pohon alpukat ditanam”?, dengan santai si ibu menjawab, “banyak tuh di hutan”, sambil menunjuk dengan dagunya ke arah pegunungan. Mendengar jawaban ini, secara refelk aku menjawab, “wah, udah lama gak makan pukat”, dan mendengar jawaban ini, si ibu tertawa geli, sambil bertanya kembali? “apa? Makan pokat? Suka? Disini gak ada yang makan, buah pokat biasanya di kasi anjing”, jelas si ibu sambil tersenyum. Mendengar jawaban ini, aku sempat merasa tersindir, tapi aku bisa memaklumi, karena memang sebelumnya ada kawan yang bilang penduduk disini tidak suka alpokat (tapi kalau sudah di banda Aceh, mereka mau beli jus pokat..hehe).

Setelah tanya jawab beberapa hal dengan si ibu, aku jadi tahu, bahwa memang alpokat di daerah gayo bukan di tanam khusus seperti mereka menanam kopi, tapi adalah tanaman yang tumbuh sendiri. Saat berbuahpun mereka tidak pernah memetiknya, biasanya ada agen yang datang dan memetiknya sendiri, dan mereka diberikan uang beberapa lembar ribu rupiah. Kalau tidak ada yang petik, ya jatuh ke tanah, dan menjadi makanan anjing.

Saat aku jelaskan bahwa harga Alpokat perkilo cukup mahal di Banda Aceh, si ibu merasa tidak pernah tahu tentang itu, bahkan saat dibuat jus pokat, satu gelas bisa berharga 5000-an (saat itu, kini sekitar 8000-an), padahal segelas hanya setengahnya saja yang dipakai. Harga sekilo juga bisa mencapai 7000-an di banda Aceh, harga yang biasa ditebus oleh agen ke pemilik pohon untuk sekarung kecil Alpokat yang mereka petik sendiri.

Hari hari berikut kami sibuk berkeling kampung, memberi ceramah, penyuluhan dan sebagianya. Sedang aku dan ketiga kawan tadi punya tugas khusus sebagai tukang sunat, iya kami memang sengaja diikutkan sebagai tim kesehatan. Entah berapa orang anak yang berhasil kami sunat dalam waktu itu, tapi jumlahnya kalau tidak salah — puluhan🙂.

Saat Baksos yang berlangsung 2 minggu itu berakhir, kami pulang dengan “oleh oleh” yang menggunung dari penduduk. Aku mendapat setengah sak karung alpokat, ada juga kol, bibit kopi, terong belanda, dan lainnya. Mobil L-300 yang membawa kami pulang sampai tidak sanggup lagi berjalan karena dibelakang dan diatasnya penuh dengan barang kami. Cuma karena sudah kami sewa, pak sopir tidak bisa protes. Pokat dan sayuran pemberian warga tidak hanya kami makan sekeluarga, tapi bisa di bagi bagi untuk tetangga di kampungku, sangking banyaknya.

§§§§

Kemarin, saat berbelanja di sebuah toko di Berlin, Jerman, Aku melihat sekotak buah alpokat berwarna hijau dengan label harga 1.49 euro tertempel di setiap buahnya, yang juga berarti harganya sekitar 18 ribu rupiah per buah. Buahnya kecil, hampir setengah ukuran rata-rata buah pokat yang diberikan warga bener meriah ke kami. Disamping kotaknya ada tulisan dari mana buah tersebut di impor, sebuah negara di Latin Amerika. Aku sempat memegang dan ingin membeli, karena memang sudah lama ingin makan buah pokat atau minum jus pokat, tapi melihat harganya, aku bungkam saja niatku. “biar nanti saja waktu pulang ke aceh, pingin ke takengon lagi buat makan sepuasnya”, pikirku coba menenangkan diri.

Well, seandainya warga Takengon tahu cara mengekspor buah Alpokat ini ke Eropa, mungkin mereka tak akan menyebut buah ini sebagai makanan anjing lagi, tapi takutnya lagi, jika buah ini berharga mahal, nanti adek2 mahasiswa yang baksos kesana tidak akan mendapatkan hadiah Pokat segoni seperti yang kami dapatkan dulu.

Hhmmmm….gimana baiknya ya?

Berlin, 20.05.2013

4 thoughts on “Kisah Alpukat, Ketika Makanan Anjing jadi buahan Mahal

  1. Kapan hari sempet heran pas denger ama daerah Sungai Penuh. Ternyata ada lagi nama daerah yg unik, Bener Meriah (mungkin klo di Jawa identik dengan Sidorejo hehehehehe)

    Penasaran dengan cerita pas bagian ini ==> “dimana saat tsunami terjadi, kami sedang di tengah laut diatas boat nelayan dalam perjalanan pulang ke Banda Aceh”

    eh menurutku, sebaiknya warga Takengon diajari cara mengekspor buah Alpukat, kan mereka punya potensi untuk itu. Nah untuk adek2 mahasiswanya jgn khawatir, biasanya ttp akan dikasih kok walopun ga sekarung goni hehehehe

    • oh, cerita tentang kami selamat dari tsunami sepertinya sudah pernah kutulis deh, tapi apa belum pernah ku posting? hehe…ntar kita liat lagi ya.

      iya, seharusnya mereka sudah mendapatkan bimbingan tentang hal ini, tapi siapa yang mau peduli coba? semua pada sibuk politik sama nonton gosip di TV…demi tuhaaan…:)

  2. Setuju sama pendapat Mbak Dian. Sebaiknya penduduk Takengon diberi penyuluhan soal keuntungan mengekspor alpukat ini. Soal mahasiswa, biasanya sih tetap akan dapat jatah koq 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s