Rumor!

Rumor has it you love me
Rumor has it the world spins upside down
Rumor has it my only hope is you
And the rumors are true
I turn everything over

Begitulah lirik terakhir dari lagunya Switchfoot “I turn everything over“, membuatku kembali ke masa sekolah, tahun 1999, saat lagu itu pertama kali di dendangkan. Well bukan kisah cinta memang, tapi tentang asa dan pengharapan.

Tersebutlah si Zakir, teman sekelas yang hobi main gitar, tak ada waktu baginya selain untuk memeluk alat musik petik ini. Suaranya memang pas pasan, tapi petikan gitarnya bak professional. Walau dia tak pernah sekalipun belajar atau ikut les gitar, jadinya waktu istirahat lebih banyak di habiskan untuk main gitar, sembunyi sembunyi, biasanya dekat WC.

Untuk penyanyi, ada si Jal kribo. Suaranya berat, serak, tapi bisa berdendang lagu apa saja. Hampir semua pop dihafalnya, begitu juga lagu rock luar negeri. Nirvana sudah habis masanya saat itu, tapi “smell like teen spirit” masih sering dinyanyikannya. Well, walau semua lagu cocok dan bisa di setel dengan suaranya, sebenarnya si jal adalah penggemar dangsut sejati. Aku sendiri hanya menjadi pelengkap penderita, hanya bisa tepuk tangan sama request lagu.

Sore itu kami pulang sedikit telat dari sekolah, karena untuk makan siang kami sudah menyantap khenduri di rumah si Rahmi, yang memang dekat dengan sekolah. Jadinya kami menghabiskan waktu di jambo Pos Jaga desa, tidak pulang ke rumah. Aku tidak ingat persis siapa saja saat itu, karena ada juga anak kelas lain yang ikut bergabung, ikut bernyanyi lagu apa saja dengan petikan gitar si Zakir.

Azan asar, baru kami memutuskan pulang. Aku harus ke kebun, iya, saat itu musim rambutan dan aku harus menaikkan panyot (lampu teplok) ke atas pohon langsat, biar tidak di dekati kelelawar. Si Jal juga harus bergegas dengan rutinitasnya, memotong rumput untuk sapi peliharaannya. Si Zakir sedikit beruntung, tak ada kewajiban khusus yang harus dilakukan. Bapaknya PNS dan sekaligus kepala desa kampung kami. Jadi, sorennya dihabiskan dengan bermain bola. Aku hanya sekali kali bergabung jika kerjaanku di kebun cepat selesai.

Kami berpisah, tanpa ada cas cas, seperti biasa, bubar begitu saja.

Malam itu, selesai shalat isya di meunasah (mushalla), aku langsung bergegas ke rumah. Belum pun tiba di halaman, tiba tiba bunyi kontak senjata terdengar. Awalnya hanya dua tembakan, selanjutnya entah berapa kali senjata itu menyala, sangat dekat. Aku langsung tiarap, di atas tanah, menutup kepala, berharap tidak ada pelor kesasar yang mendekati. “AK 47 nyan, ”  (Itu senjata AK47), tiba-tiba ku dengar yahwa (paman) Ramli berbicara. Dia juga tiarap beberapa meter di belakangku, kami sama-sama baru pulangh dari meunasah.

“Na kah Mursalin di lua?” (Apakah kamu di luar, Mursalin?) Tanya mamakku dari dalam rumah, sepertinya dia sangat khawatir.

Pintu rumah semi permanen kami terbuka. Dia menghidupkan lampu. Aku segara meloncat kedalam, bunyi senjata berhenti sementara saat itu. Kulihat yahwa Ramli juga bangun dari tiarapnya, sambil menghapus debu di baju putihnya. “toe that, sue dari arah ujong baroh, sang bak rumoh keuchik” (dekat sekali suara senjatanya. kayaknya di rumah kepala desa), sebutnya membuat hipotesa, aku tidak menjawab, tapi langsung menutup pintu, dia juga kemudian menghilang kedalam rumahnya.

Belum juga aku menyimpan kopiah, bunyi senjata kembali menyala. Tanpa diperintah kami semua kembali tiarap. Kudengar mamaku terus mengucap, entah doa apa saja dia baca. Aku hanya diam, kecemasan yang mendelam tak bisa membuat tenang, apalagi berpikir. Saat saat seperti itu, hanya satu harapan, agar bunyi senjata segera berhenti, dan mereka segera pergi, tidak mendekat kea rah rumah kami.

Sekitar 10 menit kami tiarap, malam kembali sunyi, angin kembali berhembus, bunyi riak air di selokan belakang rumah terdengar kembali.

“bek jak saho lee, jak eh aju, meudoa bek dijak keuno” (jangan pergi ke mana-mana lagi. tidur terus sana. doain para tentara itu tidak ke rumah kita) titah mamaku. Tak ada yang membantah, aku masuk ke kamar, mencoba berbaring, tapi jantung terus berdenyut kencang,

Sejenak kemudian, sebuah mobil truk kudengar menjauh, untuk kemudian sunyi. “alhamdulillah, ka di woe,”(alhamdulillah, mereka sudah pulang ke markas) kudengar mamaku sedang bicara dengan nyakwa Ramlah, istri yahwa rRmli. Ingin aku keluar untuk mengetahui apa yang terjadi, tapi tidak dapat izin dari ibuku. Hanya sebuah kabar yang kutahu, ada yang di tembak di rumah kades, tapi tidak jelas siapa, “mungkin si Zakir,” begitu kata yahwa Ramli.

Aku kembali masuk kamar,  berharap bahwa itu hanya rumor! Aku belum siap kehilangan pemetik gitar terbaik di kampung ini.

&&&&

Subuh, aku terbangun oleh suara azan. Setelah itu, sebuah pengumuman di kumandangkan. Kami warga kampung di minta ke kuburan, menyiapkan pemakanan.

And the rumors are true
I turn everything over

Gitar si Zakir kini kehilangan pemilik dan aku tidak akan pernah bisa memainkannya!

Berlin, 11.05.13

6 thoughts on “Rumor!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s