Benarkah hobi memotret makanan itu gangguan jiwa?

Sebuah kicauan muncul di twitter, sebuah berita tentang hobi orang jaman sekarang, ritual memotret makanan sebelum dimakan. Dan yang membuat saya tertarik adalah judulnya, yang katanya kebiasaan memotret makanan tersebut bisa saja mengalami gangguan jiwa. What??foto makanan

Karena kedua topik itu berkaitan erat dengan hobi dan pekerjaan saya, hobi photo  dan kerja di kesehatan jiwa, link nya pun saya buka. Sebuah berita dari media nasional online, yang ternyata juga hasil saduran dari media asing, terlihat disana. Setelah membaca seluruh isi beritanya, saya tidak langsung percaya begitu saja, tapi juga mencoba membaca info  langsung dari sumber berita tersebut.

 Adalah Dr Valerie Taylor, psikiater dari kanada yang menyampaikan masalah kebiasaan memotret makanan untuk kemudian di share di media sosial. Menurutnya, jika ada orang yang terlalu terobesesi untuk terus menerus memfoto makanan, sehingga ia mulai melupakan orang di sekelilingya, bisa saja itu gangguan jiwa. Menurut observasi dia, dengan adanya telepon gengam yang di lengkapi dengan kamera canggih, serta kemampuan dari handphone tersebut men-share hasil jepretan secara online dan ontime, ada orang yang kini lebih banyak menghabiskan waktunya untuk kegiatan motret dan share ini. Lebih parah, ada yang mulai mengabaikan lingkungan, dan orang tersebut mau membelanjakan berapun uang untuk memesan makan untuk di foto, bukan di makan. Khas gangguan jiwa.

 Namun, menurut hemat saya, jika hanya iseng memfoto untuk kemudian di shari dengan kawan-kawan di media sosial, dan kegiatan itu dilakukan tanpa adanya obsesi plus kompulsi, makan belum tentu itu gangguan jiwa. Apalagi jika memang makanan tersebut unik dan jarang terlihat, “ie bu phet” misalnya, yang hanya ada pada waktu tertentu di daerah tertentu pula (daerah kampung saya, dah hanya ada pada bulan puasa :D)

 Saya sendiri sering memotret makanan untuk kemudian saya kirim ke istri karena memang baik saya atau dia belum pernah melihat sebelumnya, fondue misalnya. Hobi seperti ini tidak lantas di kategorikan gangguan jiwa. Sekali lagi, hanya jika sudah mulai mengganggu aktivitas sehari-hari dan mulai mengabaikan lingkungan atau membahayakan diri, maka saat itu diagnosa gangguan jiwa mulai bisa ditegakkan.

 Nah, diagnosa yang mana? Sepertinya belum tertulis di ICD 10, atau tim APA yang sedang merevisi DSM bisa memasukkan gejala ini. Bagaimana dengan PPDGJ? Kita tunggu saja.

Note: untuk bait terakhir, ini hanya khusus mereka yang bekerja dengan jiwa saja, bukan untuk khalayak umum😀

Sekian,

Berlin 09.05.13

14 thoughts on “Benarkah hobi memotret makanan itu gangguan jiwa?

  1. Kalau memotret makanan saja lantas dituding mengalami gangguan jiwa, lalu apakabarnya para fotografer makanan yang sangat berjasa membantu terciptanya buku2 resep yang menarik untuk dibaca?

    Sepakat dengan ini ===”Sekali lagi, hanya jika sudah mulai mengganggu aktivitas sehari-hari dan mulai mengabaikan lingkungan atau membahayakan diri, maka saat itu diagnosa gangguan jiwa mulai bisa ditegakkan.”

  2. ahahahaha.. yang bener jadi gangguan lambung, Bang, karna jadi laper gara2 ngeliat foto Bang Tunis di postingan ini..

  3. Aku termasuk yang jarang foto makanan, tapi bekalangan hal itu bermanfaat juga apalagi jika makanannya unik dan patut diceritakan di blog hihihi

    • benar juga si…ini maksudnya yang emang gk nyaman hidupnya tanpa memotret makanan….hehe..
      kalo sekedar jepret doang buat nambahin koleksi blognya ya gk masalah kok🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s