Serunya Mengajar Antropologi Medis

Membaca kembali sari sari jawaban yang diberikan mahasiswa saat aku mengajar Med Antro dulu, membuatku rindu untuk mengajar mata kuliah ini. Bukan jurusanku memang, tapi entah kenapa aku jadi tertarik dengan mata kuliah ini. Waktu S1 dulu aku malah tak tahu sama sekali maksud dan tujuan mata kuliah antropologi medis, yang aku ingat hanya “ek ek, orang kampung lebih senag beol di hutan atau di sungai, dan sebagainya (tau kan siapa dosennya?). Namun pandanganku berubah total saat harus mengambil mata kuliah ini di program master kampungnya Peter Debye (gak tahu kan siapa dia? hehe, dia adalah pemenang nobel bidang kimia tahun 1936, kuliahnya di RWTH Aachen, tempat Pak habibie kuliah dulu, tapia lahir dan besar di kota tetangganya, Maastricht, Belanda).

Yup, program coordinator sekaligus pembimbing thesisku adalah seorang antropolog medis, topic penelitiannya banyak, dan tahun lalu dia jadi profesor di almamaterku itu. Karena keseringan diskusi dengan dia, akhirnya aku terpengaruh dengan gaya atau pendekatan penelitian antropologisnya. walau saat menulis thesis, aku hanya mengambil sedikit pendekatan ini.

Pulang ke kampung, dapat tawaran ngajar. Selain mengajar riset, aku malah minta ngajar med antro, agar buku cecil helman (alm) “culture, health and illness” yang sudah terekam dikepalaku tidak terbuang pecuma. selain itu, aku juga terlanjur cinta dengan explanatory model gaya arthur Kleinmann, yang memang meneliti masalah kesehatan jiwa di China dengan pendekatan ini.

Nah, apa yang membuatku menarik untuk mengajar mata kuliah ini? jawabannya karena selain bisa share ilmu, aku juga dapat pengetahuan gratis dari mahasiswaku. kok bisa? itulah uniknya mata kuliah ini, mahasiswa punya kesempatan untuk mengexplore budaya dan kebiasaan mereka, yang awalnya mereka anggap biasa, tapi sebenarnya unik dan menarik, karena biasanya kebiasaan tersebut hanya ada di suatu tempat tertentu, suatu waktu tertentu, tapi bisa saja ada di waktu dan tempat yang lain, yang jauh dan malah tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

Contohnya saja tentang Explanatory model mengenai depresi. setiap orang punya latar belakang budaya dan ilmu pengetahuan untuk menyebutkan apa penyebab depresi, Bisa mengalami gangguan jiwa, pengobatan gangguan jiwa, dan sebagainya. oleh Kleinmann, penjelasan ini dibagi dalam 3 sistem yang besar: popular, folk dan professional. kaum profesional akan mengatakan bahwa penyebab depresi karena adanya ketidak seimbangan hormon di otak. Jawaban dari folk sector (tabib, dukun, tokoh agama, dsb) bisa saja mengatakan kalau depresi ini karena di guna2, kurang ibadah, atau karena melanggar norma2 yang ada dimasyrakat. Sedangkan kelompok popular mungkin akan mencoba menggabungkan kedua pendapat tersebut dan menyimpulkan bahwa orang depresi karena diguna guna sehingga putus saraf diotaknya, sehingga ia berprilaku aneh, seude, stress dan sebagainya.

nah, dari jawaban ketiga kelompok tadi, mana yang benar? atau mana yang salah? hmmm

Menariknya, sebagai antropolog, kita tidak punya hak untuk menentukan mana jawaban benar dan mana jawaban yang salah. Karena setiap jawaban yang diberikan akan memberikan informasi penting, dan juga menunjukkan bagaimana seseorang atau suatu kelompok budaya tertentu, berprilaku sesuai dengan pengetahuan dan pengalamannya tersebut. contohnya, jika seorang dokter yang sakit depresi, kemungkinan besar dia akan minum anti depresan, sebalikyan jika dukun atau orang yang berobat kedia yang mengalami gangguan tersebut, kemungkinan besar akan di rajah, untuk mengusir pengganggu tadi.

Pada akhirnya, kelompok popularlah sebagai kelompok paling dominan yang menetukan apa dan bagaimana harus bersikap dan bertindak terhadap suatu penyakit. jika mereka lebih percaya dengan sistem profesional, maka mereka akan berobat ke RSJ, sedang jika kepercayaannya masih didominasi oleh pengetahuan dari folk sector, mereka akan minta dirajah atau di buatkan air penangkal, dan sebagainya. Dan jika pengetahuan mereka sudah bercampur antara kedua kelompok sebelumnya, maka dia akan berobat ke RSJ, sambil tetap membawa air penangkalnya.

seru juga ya :D!

Berlin 13.04.13

3 thoughts on “Serunya Mengajar Antropologi Medis

  1. Riset itu menyenangkan ya? Apalagi selama proses riset bisa mendapatkan temuan-temuan😀
    Punya pembimbing tesis seorang profesor yang suka penelitian sepeertinya seru ya? banyak ilmu yang bisa ditimba pada beliau
    *baca postingan ini mendadak pengen sekolah lagi*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s