10 minggu bahagia bersamanya

„Alhamdulillah, positif“, begitu pesan whatsapp dari istri mucul di hapeku. penglihatanku masih kabur, lampu kamar belum dihidupkan, tertidur di bawah selimut, kaki tertempel di pemanas ruangan, suhu Berlin pagi itu masih di titik beku.

Aku coba bangkit, mencoba melihat pesan pesan sebelumnya “gk jadi ke prodia, tadi sudah test plano lagi, Alhamdulillah positif”, begitu pesan lengkapnya. Dikirim beberapa jam yang lalu, saat aku masih di alam mimpi, sedang istri di Banda Aceh sudah pagi.

Walau sudah telat beberapa minggu, dan tes kehamilan sudah dilakukan oleh istriku, tapi bukti positif hamil juga belum juga muncul di alat instan ini. Rasa penasaran bercampur khawatir, apa memang benar hamil? Atau ada penyakit? Tidak mau berjibaku dengan penasaran itu, dari pelosok bireun dimana ia bertugas, istri memutuskan untuk ke Banda Aceh, untuk bisa cek ke lab yang memang lebih mudah di akses di ibukota provinsi ini, sedang aku yang jauh di seberang, hanya bisa berdoa dan memeroleh info lewat pesan whatsapp, sambil sesekali telfonan tentunya.

Selesai shalat subuh, aku baru membalas, “Alhamdulillah, akhirnya saya jadi ayah ;D”, pesan pesan lain akan terlalu romantis jika harus aku tuliskan disini, intinya bahwa kami bahagia dengan amanah baru, amanah yang sudah lama kami tunggu, menjadi oran tua.

Hari hari berikutnya, tidak ada waktu yang terlewat tanpa membicarakan si jabang bayi, walau usia kandungan masih beberapa mingguan. Istriku juga sudah USG segala di puskesmas dimana ia kerja, hasilnya lansung di kirim ke aku, serta di announce lewat twitternya. Benar memang, kebahagiaan itu simple, disaat kita berharap akan memiliki sesuatu yang belum tentu kita miliki dengan kebahagiaan, itu juga membuat bahagia. Disaat orang bisa dengan mesranya selalu bersama, kami juga masih bisa bermesra walau hanya lewat pesat singkat semata, tapi tetap bahagia.

“tadi waktu ke kamar mandi ada flek, jadi khawatir“ begitu bunyi pesan yang kuterima kemarin pagi, kali ini aku sudah duluan terbangun, aku tanya dimana posisi istriku saat itu, ternyata dia sedang di puskesmas, sedang bertugas. Aku Tanya info lebih dalam tentang flek tadi, dan mendapat gambaran jelas, darah segar, seperti hari pertama mens. Tahu info seperti ini, aku sudah tidak bisa konsentrasi lagi, tidak bisa berbuat apa, sampai sarapan pagi aku lupa. Istriku terus terusan kukirim pesan, hingga akhirnya ia memutuskan untuk ke bireun, konsul dengan spesialis Obgyn.

„abortus incomplete, harus di curet“ begitu pesan yang aku dapat setelah ia berkonsul dengan sang ahli. Aku bertanya kapan di curet, ia bilang secepatnya, „nanti malam, atau besok pagi“. Sudah tahu bahwa keguguran seperti ini harus di operasi, aku tetap kekeuh  „gak bisa di tunggu“?, aku yakin istriku tertawa dengan pertanyaan bodoh seperti itu, kareta dia pasti tahu kalau aku juga tahu tentang keadaan kandungan istriku saat itu, „masih ada sisa konsepsi sayang, harus dikeluarkan“ jawab istriku mencoba menenangkan, kali ini aku hanya bisa pasrah.

Kini aku seperti orang bodoh, yang mondar mandir dalam kamar, laporan yang baru setengah ku kerjakan langsung ku kirim ke profesorku, aku minta maaf jika gak bisa konsen, aku lagi depresed karena keadaan istriku saat itu, begitu pesan yang ku kirim lewat email. Aku yakin profesorku bisa mengerti dengan keadaanku, karena dia memang seorang psikiater. Syukur dia tidak membalas emailku, padahal biasanya ia langsung response, “mungkin dia lagi sibuk, atau memang mau membiarkanku tenang dulu“ begitu prasangkaku ke wanita turki ini.

Aku kembali ber chatting  dengan istri, saat itu dia sudah di ruang rawat, tangannya sudah terpasang infus, tapi masih sempat membalas pesan2ku. Aku coba telepon beberapa kali, tapi susah masuk. Walhasil, hanya lewat whatsapp ini aku bisa memantau keadaannya. Waktu operasi kian dekat, aku tetap berusaha menelfon, dan akhirnya masuk. Kami berbicara lama, entah apa saja, bukan untuk memperoleh kabar memang, tapi lebih untuk mengusir ke khawatiran. „Tenag saja, Cuma 30 menit saja kok“ begitu katanya mencoba menenangkanku. Terlihat lucu memang, karena aku bukan orang awam dengan hal hal ini, aku juga pernah ikut mengoperasi orang, pernah menolong persalinan, bahkan kalau untuk ukuran sunat atau khitan, entah berapa ratus burung yang sudah pernah aku potong. Tapi kini keadaannya berbeda, yang menjadi pasien adalah istriku, dan yang akan dikeluarkan juga anakku, darah dagingku.

„sudah dulu ya, mau di dorok ke OK“, begitu percakan terakhir dengan istriku, telepon terpaksa kumatikan, ada perasaat menohok didada, ada perasaan cemas bercampur bingung, afek ku terasa datar, tapi aku jujur, tak ada air mata yang mengalir „kesedihan yang mendalam kadang membuat mata kita tak bisa mengeluarkan airnya“ begitu kata istrku suatu waktu, dan mungkin begitulah keadaanku saat itu. Gagal menjadi seorang ayah, harus merelakan si buah hati yang baru berusia 10 minggu untuk pergi, tidak bisa menemani sang istri saat ia sangat membutuhkanku disisinya, dan bicara dengan ia saja tidak bisa.

Kembali, untuk mengusir perasaan aneh ini, aku coba membaca buku, nonton youtube, shalat (karena memang sudah asar), tapi tak satupun yang bisa mengalihkan pikiran dari mengingat sang istri, syukur waktu shalat aku bisa sedikit konsen, sehingga tidak kelebihan atau kekurangan rakaat.

Tiga puluh menit kemudian, aku telepon istriku, yang mengangkat justru saudaranya „belum siap bang“ begitu sebutnya. 30 menit kemudian, aku telepon lagi, lagi2 yang mengangkat orang yang sama dengan jawaban yang sama, plus nasehat „tenag saja, jangan khawatir, doa doa aja disitu“. Kembali telponya kututup. Selanjutnya setiap 15 menit aku telpon, kadang masuk, kadang tidak, kalaupun masuk, jawabannya itu itu saja. Aku kini kembali mondar mandir dalam kamar seperti orang OCD, afek datar seperti orang depresi, tak ada ketenangan sama sekali. Prasangka buruk kini mulai menyelimuti, „jangan jangan ada komplikasi, salah anastesi, dokternya pingsang di meja operasi, perawatnya salah kasih injeksi, dan sebagainya. Karena istriku bilang 30 menit, tapi kini sudah 2 jam, belum ada kabar2 juga. Setelah kehilangan sang buah hati, haruskah aku kehilangan seorang istri yang baru beberapa bulan kunikahi? Ya Allah, smoga saja tidak.

Dua jam lebih menunggu, aku kembali menelfon, kini suara yang menjawab sangat kukenal, suara manja dengan serak serak beceknya. Ia mengaku masih pusing, sehingga kusuruh istirahat dulu dan nanti kutelfon lagi. Bagiku yang penting ia sudah keluar dari kamar tanpa ventilasi itu dengan selamat dan aku kini lega. Belum beberap menit, sebuah pesan masuk „telfon lagi“, kini aku tersenyum, kebiasaannya kini kembali, dan aku yakin kesadarannya juga telah seperti dulu. Karena ketika dia sadar, ia akan sangat manja, sedang saat dibawah alam sadar atau saat tertidur, ya sama lah seperti manusia lainnya😀

Calon bayi yang baru berbagi kebahagiaan selama 10 minggu dengan kami kini telah pergi, dua buah nama telah kusiapkan, satu jika ia cewek, satunya jika ia cowok. Tapi nama ini terpaksa kutunda sementara, semoga adiknya nanti bisa mengambil nama ini.

Selamat jalan wahai anakku,

dan terima kasih telah berbagi bahagia dengan kedua orang tuamu,

 walau hanya 10 minggu.

Calon bayi kami telah pergi, tapi istriku kini ceria kembali, akupun bisa kerja dan menulis laporanku lagi. Jauh memang dengan istri, tapi selain ada teknologi yang membuat kami tetap bisa berkomunikasi, perasaan kami tetap dekat dan selalu bersama, Sejauh apapun jarak memisahkan raga ini. Dan disaat kami bisa menjaga perasaan kami untuk selalu bersama, bukankan itu bahagia?

Berlin 26.03.13

27 thoughts on “10 minggu bahagia bersamanya

  1. Terharu membaca cerita ini ..~_~..
    Kondisi yang sangat sulit, kehilangan calon bayi saat kalian sedang terpisah jarak, tapi syukurlah bisa terlalui dengan baik.
    Istrinya mas, wanita yang kuat ya😀
    Semoga segera dipulihkan kesehatan istrinyanya dan kalian berdua kembali diberikan “kepercayaan” untuk memiliki buah hati.

  2. Semua pasti sudah diatur oleh Yang Kuasa…..semangat untuk menapaki hari berikutnya yah. pasti ada rencana lainnya dibalik semua ini. Sangat terharu membaca tulisan ini…..salam dari Bali

  3. Ga kebayang gimana kalutnya perasaanmu, Bang. Jauh dari istri di saat-saat genting. Semoga kalian dikasih kekuatan dan dianugrahi lagi bayi yang sehat dan kuat ya.. Amin..🙂

  4. Pingback: Negatif atau Positif

  5. Semua orang pasti mendapat cobaan dari Allah, ini cobaan kecil, gpp…. Allah pasti melindungi hambanya yg taat… nanti kalo sudah kumpul keluarga, pasti akan mendapat gantinya yg lebih baik ….. good luck!

  6. innalillahi wa innailaihi raji’aun, smoga bagah allah brie geulantoe yang laen, sebelum jih mabruk ‘ala zawaj, hana lon teu droen ka meunikah, bak lon kunjong bak blog liza baroe lon teupu ..

  7. Saya menangis membaca kisah ini, saya tau persis perasaan, harapan, dan rasa sedih yang dialami… Beberapa bulan lalu, saya mengalami kejadian yang tidak persis sama, tapi membuat calon bayi yang kami harapkan juga harus dikeluarkan di usia kehamilan 10 minggu. Saya masih menyimpan foto tespack, foto usg, walau tak pernah saya buka lagi. Sehari2 saya tampak ceria seperti biasa, tapi seringkali di saat sendiri atau hanya berdua suami, rasa sedih itu datang tiba2.. Mudah2n istrinya tetap kuat ya, dan selalu ada support dari pasangan🙂.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s