Mobil Listrik Dahlan Iskan, Kenapa?

Akhir akhir ini, berita tentang mobil listrik di indonesia cukup heboh, dimulai dengan pembuatan dan tes jalan mobil buatan Dasep Ahmadi, hingga kecelakaan mobil mewah sekelas Ferrari yang dirancang oleh Danet Suryatama. Dan tokoh sentral dari kedua mobil ini adalah sang menteri BUMN saat ini, Dahlan Iskan. Sangking sentralnya peran pak mentri, berita berita tentang mobil listrik di nusantara hampir selalu dikaitkan dengannya.

Mobil Listrik

Beliau sendiri mengaku bahwa sudah saatnya Indonesia punya mobil nasional, merek nasional, di rancang oleh putra bangsa, dibuat dan diproduksi di negeri ini. Cukup gerah dengan banyaknya mobil jepang yang lalu lalang di jalanan negara, sedang punya merek lokal tidak ada sama sekali. Nah, apakah cita cita beliau cukup logis dan realistis? hmmm…pasti bisa buat kaum optimnistis, tapi hampir impossible buat kaum pesimistis, sedang untuk mavia import, bisa…tapi sebaiknya tidak……(tambahin sendiri).

Sebelum membahas bisa atau tidak, dan apa kemungkinan dibalik alasan kuat beliau, saya teringat sebuah kuliah umum yang disampaikan oleh seorang professor yang ahli Energy alternative disebuah universitas di Jerman. Cukup panjang kuliah yang beliau sampaikan, mulai dari mulai langkanya minyak bumi, ketergantungan manusia yang berlebihan terhadap BBM, efek pemanasan global akibat penggunaan minyak bumi, hingga masalah peperangan, yang menurut beliau juga di latar belakangin keinginan untuk menguasai (perdagangan) minyak bumi. Pernah memang saya membaca bahwa salah satu alasan penyerangan Amerika terhadap Irak yang berakhir dengan pemancungan saddam husein bukan karena “ingin mengembalikan demokrasi di negeri 1001 malam” tetapi lebih karena alasan politik dan ekonomi karena saddam husein tidak mau lagi minyaknya di bayar dengan dolar amerika, tetapi dengan mata uang mereka sendiri atau euro (saya lupa pastinya), yang karena penggantian mata uang untuk transaksi minyak ini membuat ekonomi amerika goyang. 

Well, saya tidak mengerti seluruhnya tentang hal ini, bisa saja ini teori konspirasi, bisa juga nyata, walllahu a’lam.

Kembali ke profesor Jerman tadi, dari sejam lebih ceramahnya tentang energi alternative, saya dapat menyimpulkan bahwa ketergantungan manusia akan BBM seharusnya mulai harus dikurangi. Karena menurut beliau, energi terbarukan – atau yang sebenarnya lebih cocok disebut – “energy yang selalu ada”, hampir selalu tersedia di sekitar kita dengan jumlah yang tak terbatas, murah dan aman, energy matahari misalnya. Beliau menegaskan, selama bumi ini masih bisa berputar, dan matahari selalu bersinar, kita akan selalu memanfaatkan sinar matahari ini sebagai sumber energy. Masalah dengan energy listrik ini hanya dengan panel solar yang masih relative mahal dan yang lebih murah belum di temukan, serta masalah storage atau penyimpanan. Dengan riset yang lebih intensive, kedua masalah ini bisa diselesaikan.

Sumber energi yang tak terbatas lain adalah panas bumi, dan saat menyebut ini beliau mengkhususkan kepada negara negara yang kaya dengan gunung berapi, untuk tidak menganggap gunung tersebut sebagai masalah, tapi sebagai peluang. Seorang kawan yang sedang mengambil s3 di jerman jurusan biothermal malah pernah berargumen, bahwa lebih dari 60% sumber panas bumi dunia adanya di Indonesia, sedang Jerman hanya punya teknologi, dan memang, menurut pengakuan seorang kenalan orang asli jerman yang kuliah di RWTH Aachen, bahwa negara mereka hampir tidak pernah punya gempa bumi, salah satunya karena mereka tidak punya gunung berapi.

Untuk masalah panas bumi ini, kendala yang dihadapi tentu besarnya investasi tahap awal yang dibutuhkan. Belum lagi masalah teknology yang harus kita bayar karena kurangnya riset kita tentang masalah ini. Pun demikian, jika teknologi panas bumi ini bisa digunakan sebagai sumber listrik, maka negara kita bisa menyala siang dan malam.

Selain matahari dan panas bumi, nusantara juga kaya dengan “sumber daya yang selalu ada” lainnya, Gelombang laut dan tenaga angin misalnya. Bayangkan saja, negara datar miskin angin seperti Belanda saja mau menjadikan kincir angin sebagai sumber listrik mereka, sedangkan kita yang anginnya selalu kencang tak pernah mau berpikir lebih untuk menggunakan sumber energi ini. Tamsilannya seperti ini, sangking sedikitnya angin yang bertiup di Belanda, untuk menaikkan layang layang aja susah, sedangkan di Indonesia, jangankan untuk naik, layang layangnya malah bisa putus karena kencangnya angin.

Well, kembali ke mobil listrik Dahlah Iskan. Saya menebak, alasan utama dibalik kekeuhnya beliau untuk memperjuangkan mobil listrik tidak hanya semata mata untuk kebanggaan, tapi juga didasari oleh rasa bosan harus bergantung selalu dengan minyak bumi, yang karena subsidi besar besaran, negara indonesia sudah berutang banyak dan bisa saja bangkrut. Bayangkan berapa trilyun tiap tahun uang negara dibakar hanya untuk subsidi BBM, dan sakitnya untuk subsidi itu katanya negara harus berutang.

Jika saja negara kita mau sedikit berinvestasi untuk menggunakan sumber daya yang selalu ada, panas bumi dan angin misalnya, maka tidak akan ada lagi orang yang masuk neraka setelah menyumpah karena listrik sebentar bentar mati. Uang subsidi BBM yang sekarang ini bisa digunakan untuk investasi membuat atau mengumpulkan sumber energi listri yang selalu tersedia. Sisa investasi ini juga masih bisa dipakai untuk memberikan kesehatan dan pendidikan gratis bagi seluruh rakyat Indonesia.

Bayangkan juga jika suatu saat kita punya mobil listrik sendiri, dimana sumber listriknya adalah panas bumi, kita bayar murah, tidak ada polusi dan pasti tidak akan ada demonstrasi akan BBM lagi.

Dan saya percaya, alasan kenapa pak DIS kekeuh dengan mobil listrik nasional, karena untuk mengejar mobil BBM seperti esemka atau mobil hybrid lainnya, kita sudah jauh ketinggalan teknologi, sedang penggunaan mobil listrik masih dimulai dan kita bisa jadi salah satu pemain atau produser, bukan konsumen semata seperti selama ini.

Sekian

100313

Möersalijn

2 thoughts on “Mobil Listrik Dahlan Iskan, Kenapa?

  1. Ketika semua hal di Indonesia dipolitisasi, yah susah sih. Misal soal subsidi BBM, keputusan harga BBM naik atau enggak, pemerintah mau naikin harga, sebagian kecil rakyat demo, dan partai oposisi membela rakyat yg demo. Politis sekali bukan?

    Tapi aku yakin, suatu saat kita bisa punya teknologi utk mengolah panas bumi dan matahari menjadi energi yg lebih bermanfaat. Bukan cuma punya sumber daya yg melimpah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s