Suatu pagi di atas Becak.

Selesai sarapan nasi goreng putih masakan ibunya, Ami bergegas ke kamar, mengambil tas, merapikan jilbab dan memakai sepatu, siap berangkat ke sekolah.

Aulia, adik satu satunya Ami yang masih duduk di kelas 3 SD sedang kesusahan memakai sepatu yang mulai sobek dan menyempit di depan rumah kecil mereka, sedangkan ayah Rahman sedang mengelap becak mesin kesayangannya.

Beberapa menit kemudian, ketiganya sudah didalam becak yang melaju lamban membelah pinggiran Kota Banda Aceh, mengantar anaknya sekolah dan selanjutnya “narik becak” adalah pekerjaan rutin Ayah Rahman sejak 7 tahun lalu, pasca Tsunami.

Ami yang kini duduk di kelas 1 SMA mulai merasa risih, merasa dirinya sering menyusahkan ayahnya untuk mengantarnya kesekolah setiap pagi. saat teman-teman sekelasnya sudah berangkat kesekolah sendiri, ia masih saja diantar ayahnya, tidak hanya sekarang, tapi sejak dia kelas satu SD dulu.

Rasa risih telah lama dipendam, ingin ia sampaikan ke ayahnya, supaya dia tidak diantar jemput lagi kesekolah, namun setiap kali ia akan berbicara bicara, kata-kata itu tak pernah bisa keluar dari mulutnya.

Entah motivasi dari mana, pagi itu ia nekat, ia ingin bicara ke ayahnya, awalnya ingin bicara di meja makan, tapi sang ayah sedang berpuasa sunat hari senin, jadinya kesempatannya diambil saat mereka sedang di atas becak.

“Ayah, boleh Ami tanya sesuatu?”
“Mau tanya apa?” jawab ayahnya singkat
“Kenapa ayah selalu ngantar Ami dan dek Aulia ke sekolah? Kami kan sudah besar, bisa pigi sendiri,”
“Emang Ami malu karena ayah ngantar pakai becak”?
“Bukan, Bukan begitu” potong ami secepatnya, tidak ingin ayahnya tersinggung.

Sejenak, ketiga insan ini terdiam, becak terus berjalan, melewati jalan di bibir pantai, sebelah kirinya laut Hindia yang terbentang luas, di sebelah kanannya banyak pertokoan yang baru selesai dibangun. Jalan mulus yang mereka lalui ini juga bantuan jepang.

“Kalo ayah tidak ngantar kami, ayah kan bisa narik lebih awal, pagi pagi begini kan banyak penumpang, kami kan bisa naik labi labi sendiri, jalan kaki juga bisa, kan ngak jauh jauh sekali ke sekolah” sebut Ami panjang lebar.

Ayahnya menarik nafas panjang, tersenyum sambil melihat kedua Buah hatinya yang tersisa dan kini terduduk di bangku penumpang becaknya. Ami masih tertunduk, tidak berani menatap ayahnya, sedangkan aulia masih belum mengerti dengan pembicaraan ini, ia sibuk memainkan tangannya, membetangkannya bak sayap pesawat yang sedang melawan angin, tapak tangan dibentangkan, naik turun bak gelombang.

Aneuk, kenapa ayah lebih mementingkan mengantar kalian kesekolah? Karena Itulah tugas seorang ayah, bener kata ami, ayah bisa dapat banyak penumpang pagi pagi, apalagi ini pagi senin, tapi memastikan kalian bisa sampai ke sekolah jauh lebih penting. Seharusnya, kalian ayah sendiri yang mendidik, mengajarkan tentang berbagai pelajaran, tapi ayah hanya sarjana sejarah, tidak mengerti kimia, bahasa Inggris, dan sebagainya”.

“Sayang pada anak bukan dengan membelikan mereka sepeda motor mahal sehingga ia bisa sekolah sendiri, Bukan beli hape canggih sehingga ia sibuk dengan dunia sendiri, bukan beli baju mahal dan perhiasan mewah sehingga dia takabbur sendiri, tapi bisa memastikan anaknya kesekolah dan belajar dengan betul dan jujur, tidak menyontek waktu ujian, itulah sayang anak sebenarnya”.

“Ayah senang, ayah bangga kalian bisa sekolah, ayah Selalu cerita ke kawan-kawab ayah sesama tukang becak bahwa kalian juara, walau tidak punya hape canggih, kalian bisa”.

Suara sang ayah kini mulai berat, matanya juga berkaca kaca. Begitu juga dengan mata ami, yang terus menunduk sedari tadi, ia merasa bangga punya seorang ayah sarjana yang menjadi tukang becak, ia bangga punya ayah yang selalu mengantarnya kemana-mana. Aulia kini sedang menghitung kelereng di tangannya.

Becak berjalan pelan, mencari celah agar tetap bisa berjalan, diantara mobil mobil mewah di persimpangan, diantara sepeda motor yang melaju kencang. Ayah Rahman memarkirkan becak tepat di sudut pagar sekolah. Anak anak berbaju merah putih dan biru putih sangat banyak, menuju satu tujuan, pintu pagar sekolah.
Ada yang diantar orang tuanya dengan mobil mewah, tapi banyak juga yang pergi dengan sepeda motor sendiri, sangat sedikit yang di antar becak, mungkin hanya Ami dan adiknya.

Saat becak berhenti, Aulia langsung berdiri, menyodorkan tangan ke ayahnya, dan saat ayah Rahman menjabat tangan anak bungsunya tersebut, Aulia sedikit menunduk untuk mencium tangan ayahnya, sejurus kemudian dia mengucapkan Salam sambil meloncat, berlari kearah kerumunan.

Ami masih terdiam, masih menunduk, hingga tangan kekar ayahnya mengusap diatas jilbab di kepalanya. Ia tidak berani menoleh.

Sekali lagi Ayah Rahman menyodorkan tangannya ke depan muka ami, kali ini ami mengambil menciumnya.

“Nanti sore Jadi ngaji tilawah?” Ayah Rahman bertanya untuk memecah kesunyian. Ami hanya mengangguk, sambil mengucapkan Salam, ia pun turun dari becak, Dan melangkah lunglai ke kerumunan.

Lama setelah itu baru ayah Rahman menjawab pelan salam anaknya, sambil terus memperhatikan Ami yang mulai menghilang dalam kerumunan. Ia tersenyum, ia senang.

4 thoughts on “Suatu pagi di atas Becak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s