Apakah sangat sulit menjadi peneliti yang jujur?

3 kali aku meneliti dengan memakai enumerator orang (mahasiswa) asli aceh, 3 kali pula mendapatkan quesioner yang diisi asal asalan. Apakah sangat sulit untuk jujur? Apakah sangat sulit untuk bertanya Pada respondent, dan mengisi apa adanya berdasarkan jawaban yang Mereka berikan? Kenapa harus mengisi asal asalan?

Aku sangat heran, kenapa mereka, disaat wawancara, mengatakan sangat tertarik untuk terlibat, apalagi begitu tahu salary nya lumayan? Tapi Saat di lapangan nampak malas-malasan?
Alasanku memilih orang lokal menjadi enumerator Bukan hanya karena untuk memberi mereka peluang untuk belajar tentang penelitian, dan memperoleh sedikit income, tapi juga biar para respondent lebih mudah berbicara dengan mereka.
Tapi nyatanya kepercayaan itu sepertinya begitu saja dilupakan. Padahal melakukan penelitian adalah sebuah proses yang harus selalu di balut kejujuran, sejak desain di buat, hingga hasilnya diolah dan dipaparkan. Bayangkan jika para peneliti suka berbohong, maka tak ada lagi landasan ilmiah yang bisa dijadikan pijakan.

Pernah, beberapa tahun lalu saat aku sendiri menjadi enumerator, dan sedang mewawancarai seorang tokoh desa di pedalaman Aceh, sang responden yang juga imam itu bertanya:
“Ini penelitian siapa yang punya”, saya jawab bahwa koordinatornya orang barat, dan saya tidak pernah jumpa langsung dengannya, saya hanya bertugas melaksanakan penelitian berdasarkan proposal yang dibuatnya.
Sang teungku kembali bertanya,”Kalau sudah siap, datanya mau diapakan?”
Saya jawab bahwa data tersebut akan di analisa dan dikirim ke empunya penelitian.
Kurang yakin, teungku tersebut bertanya lagi, ” apakah dia tahu anda benar benar datang ke desa untuk mengumpulkan data ini?” Saya jawab, “tidak, dia tidak akan pernah pernah tahu”.
“Enak sekali kalo begitu, tinggal isi di warung kopi saja, ngapain capek2 masuk kampung” tiba tiba si teungku memberikan kesimpulan.

Saraf dikepalaku membuat dahiku berkerut, tidak kusadari, aku juga terdiam untuk beberapa saat, membisu sambil mencoba mencari jawaban.

Rasa hormatku pada Pak teungku ini pun hilang, justru emosi ku malah Naik, tapi kucoba tahan. Aku sadar bahwa Aku dirumahnya, dan Aku tidak mau diusir lagi Saat data yang ingin ku kumpulkan belum lengkap.

Dengan penuh kesadatan aku menjelaskan, “Itulah bedanya kita dengan ureung kaphe, Mereka kaphe, tak beragama, tapi masih mau jujur untuk Hal sekecilpun. Sedang kita, Selalu mengaku Islam, tapi prilakunya lebih kafir Dari orang yang kita sebut kafir. Wajar jika negara kita tak pernah maju maju, Bukan karena orang kita bodoh bodoh, tapi karena kita tidak pernah Bisa jujur Dan tidak pernah Bisa menghargai kejujuran.

Mendengar ceramahku, sang teungku
merasa terpojok, Dan segera Ia mengganti topik pembicaraan.

Hmmmmm…

Selain kisah dengan teungku Tadi, sangat sering Aku melihat mahasiswa yang mengisi kuesionernya sendiri, duduk di warung kopi, Dan sebagainya. Walau pemelitian ini hanya untuk skripsi Mereka, tidak akan di publikasi, apalagi mempengaruhi kebijakan, tapi tetap saja harus disertai dengan kejujuran, bukankah mahasiswa adalah calon pemimpin Masa depan? Bagaimana mereka Bisa menjadi pemimpin yang Baik jika saat menuntut ilmu saja Mereka sudah pintar berbohong?

Para respondent yang terlibat penelitian juga mulai Mata duitan, yang Mereka incar hanya uang, atau setidaknya Oleh Oleh. Sering kuesioner mereka isi asal asalan, bahkan meminta orang lain untuk mengisinya. padahal sekecil dan sesimpel apapun penelitian akan berdampak kepada mereka di Masa depan, langsung atau tidak langsung.bukankah meta analisis dibuat berdasarkan penelitian penelitian Kecil yang sama sehingga Bisa diambil kesimpulan?

Kasus yang paling sering, Saat meneliti tentang perawat atau dokter di rumah sakit, Mereka malah meminta mahasiswa yang sedang Praktikum disana untuk mengisi kuesioner yang sewajibnya merekalah yang mengisinya.
Kasus baru menjadi heboh saat Mereka protes bahwa aspirasi mereka tak pernah dipersulikan. Wajarkan? Yang isi kuesioner kan bukan Mereka.

Seharusnya, apapun posisi kita dalam sebuah penelitian, nilai kejujuran harus Selalu membungkus kepala kita.

Sekian,
Seulimeum, 28.12.12

4 thoughts on “Apakah sangat sulit menjadi peneliti yang jujur?

  1. kejujuran mrpakan hal terpntg dlm hdp. tp krna mlht realita khidupan shari-hari jadi warga yg ikt mmbntu dlm pngmblan smpel dta tdk mw brlku jujur, salh satunya mgkin mrka brpikir untk apa data ini kita isi secra bnar2, toh kita masih gne2 aj.
    itlah realita yang sya liat bbrapa waktu yg lalu ktika mmbantu tman yng sdg mlakukan pndataan pada saat dia Kkn. jadi akibatnya tdk hran sperti yg pnulis uraikan di ats…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s