Bukan Kado, Tapi Doa

Setiap ada undangan pernikahan kawanku dulu, aku selalu sibuk mencari kado yang sesuai dengan profesi, hobi atau keinginan sang mempelai. Harapanku adalah agar kado yang kuberikan dapat dipakai, dinikmati atau minimal disukainya. Jadinya acara hunting kado merupakan suatu ritual wajib setiap kali mendapatkan undangan.

Walau pun ingin memberikan kado yang terbaik, tapi terkadang harus kusesuaikan dengan keadaan dompetku. Seringkali kado yang kurasa cocok harus kuturunkan grade nya sehingga sesuai dengan keadaan keuangan saat itu. Syukur jika pestanya awal bulan, kadonya bisa kupilih yang lumayan “wah”. Namun, lain ceritanya jika pestanya di tanggal tua, maka aku harus memilih kado seselektif mungkin jika tidak ingin berutang sampai akhir bulan.

Jika kado yang kuberikan sesuai, maka saat di kondangan aku akan dengan bangga menulis namanku di buku tamu. Lain ceritanya jika kado yang kuberikan pas pasan, ada rasa “nggak enak” di benak, padahal kawan-kawan lain juga memberikan kado yang juga tidak lebih baik dariku.

Rasa malu tersebut kadang kurasa berlebihan, hingga aku kadang malu untuk bersalaman dengan mempelai.  Jadi, aku cuma datang, makan dan langsung pulang tanpa ada hasrat untuk setor muka. Toh sampai sejauh itu aku rasa kewajibaku untuk menghadiri undangan telah selesai. Ingat mengundang dalam ke acara walimah seperti ini adalah sunnah hukumnya, sedangkan menghadirinya adalah wajib.

Pendapatku berubah total setelah aku memperoleh giliran menjadi orang yang mengundang. Apalagi ini adalah hajatan keluarga dan seluruh proses undang-mengundang adalah hak prerigatif kedua orang tuaku, sedang aku hanya boleh duduk manis tanpa protes, raja sehari.

Undangan yang kusebar pun hanya beberapa, kepada kawan dekat yang aku yakin akan datang kalau kuundang.  Bahkan ada yang kutanya dulu sebelum undangannya kuberikan, apakah ia bisa hadir di hari yang dimaksud atau tidak. Pertimbanganku adalah seperti yang kusebutkan di atas, bahwa mengundang adalah sunat sedangkan menghadirinya adalah wajib. Jadinya aku tidak mau membuat orang berdosa karena telah menerima undanganku tapi tidak bisa menghadirinya.

Sebagai pengantin, aku dengan istriku hanya duduk di pelaminan, menunggu orang datang, bersalaman pada mereka yang memberikan doa restu dan mengucapkan selamat atas penikahan kami. Acara foto-foto juga menjadi bagian dari proses ini, walau aku sama sekali bukan fotogenik, bahkan selalu salah bergaya saat kamera dibidik, namun kali ini aku tetap harus mencoba bergaya bak model, cukup hari ini saja. 

Dan yang kurasakan adalah bukan indahnya duduk dipelaminan, bahkan aku cenderung grogi sat semua mata menatap ke arah aku dan istri, tapi kepuasan yang luar biasa saat orang orang atau kawan yang kuundang datang, menghampiriku, mengucapkan selamat dan sebagainya. Ada kepuasan batin yang belum bisa kuucapkan dengan kata saat mereka tersenyum kepadaku, melihat wajah ceria para undangan membuat grogiku hilang, bukankah ini hari bahagia?

Saat acara “duek sandeng” selesai, para undanganpun pulang, para tetangga juga sibuk beres-beres sedang aku dan istriku juga sibuk melayani tamu – yang biasanya keluarga besar yang telat datang. Lumrah kurasa.

Malamnya, walau lelah setelah seharian bekerja, tetap saja kepuasan itu terpelihara. Saat keluarga besar memulai ritual buka kado, aku justru lebih senang mengenang siapa saja kawan datang hari itu. Pun begitu kado satu per satu di buka, aku justru lebih senang saat mengetahui mereka memang hadir ke acaraku, bukan hanya titipan kado semata.

Sedang saat aku tahu ada sahabat yang ikut datang, tapi tidak “setor muka” dan bersalaman denganku, aku merasa sedih. Apakah ia malu untuk bertemu dan bersalaman denganku? Kenapa ia hanya datang dan makan saja? Kenapa tidak mendekat dan bersalaman denganku? Berbagai syak prasangka muncuk begitu saja, tapi kuambil kesimpulan; mungkin mereka malu karena tidak sanggup beli kado atau angpow di amplopnya kecil, sehingga hanya memilih hadir, makan dan langsung pulang, seperti yang biasa kulakukan saat posisi keuanganku seperti itu.

Dan kini aku tersadar, menghadiri undangan tidak hanya sebatas hadir dan memberi kado, tapi ada yang lebih penting dari itu; menemui kedua mempelai dan memberikan doa restu kepada mereka. Jika anda sedikit fotogenik, sekalian minta foto dengan mempelai.

Pesanku jika besok-besok mendapakan undangan walimahan, cobalah untuk tetap hadir, jangan risaukan dengan kado atau isi amplop, cukup hadir karena kehadiran lebih bernilai daripada sebuah kado. Jika anda hadir, jangan lupa  untuk setor muka, walau ada ribuan orang undangan yang hadir, si empunya acara pasti akan mengingat Anda. Kalaupun ia lupa, bukti di foto lebih dari cukup bagi mereka untuk mengingat Anda. Jika ingin membuat kedua mempelai lebih senang, berbohonglah sedikit dengan mengatakan bahwa keduanya mirip dan cocok, yakinkan mereka akan sangat senang mendengarnya.

Namun,  jika Anda berhalangan untuk mengahadiri acara tersebut, mintalah maaf kepada mereka sambil memberikan alasan yang jujur dan jangan lupa mengucapkan selamat. Jika perlu undang mereka ke rumah Anda, atau setidaknya dinner atau lunch bersama di waktu yang lain. Meminta maaf ini bisa lewat telepon, lewat sms atau lewan pesan di media sosial, yang penting kedua mempelai tahu alasan Anda tidak hadir, karena ini lebih baik dari anda bersembunyi dan pura pura hadir lewat kado yang dititipkan. Karena di hari itu, mereka membutuhkan kehadiran dan doa restu dari Anda, kado dan angpow hanya pelengkap belaka.

 

Seulimeum 13.12.12

6 thoughts on “Bukan Kado, Tapi Doa

  1. Beautiful photo so happy for you and sorry I could not be there.
    I wish you both much happiness and success in the future.
    Love
    margaret

  2. Maaf ya nis, saya salah satu orang yang tidak bisa setor muka apalagi setor kado di hari bahagiamu berhubung kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan. Tapi yang jelas harapan terbaik selalu jadi doa buat keberkahan dan kebahagiaan kalian dunia akhirat…..nyesal deh gak bisa poto bareng tunis he.he

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s