Tukang Jalan

Tukang jalan. Begitu julukan yang sering diucapkan ibuku kepadaku.

Ada benarnya memang, karena dari seluruh anggota keluarga besar kami, akulah yang paling banyak jalan-jalan. Tidak hanya di Aceh atau di Indonesia, negara-negara di Eropa juga banyak yang telah kukunjungi.  Sebagian karena urusan pekerjaan atau pendidikan, tetapi kebanyakan adalah karena hobiku; travelling.

Kembali ke masa kecil, saat ibuku menampi beras atau dalam bahasa aceh disebut “tampoe breuh”, Aku sering duduk di depannya. Ibuku sering mengingatkanku agar menjauh. Tidak duduk tepat di depannya. Namun, aku malah sengaja setor muka disana. Jelas “dhöo breuh” berterbangan ke muka dan rambutku dan karena alasan itulah aku diusir. Untuk mengusir, ibuku sering bilang “meunyo ta duek di keu ureung tampoe breuh, nyan jioh intat linto.” Maksudnya, kalau suka duduk di depan orang tampi beras, nanti kalau sudah besar dapat jodohnya jauh. Mendengar kata-kata jauh seperti itu, aku bukan pergi, malah betah duduk disitu, sambil  menjawab, “hayeu lah jioh, jeut ek moto manyang” (enaklah kalau jauh, bisa naik mobil bus).

Memang, waktu kecil salah satu hal yang paling kusukai adalah naik bus. Bahkan kalau mau ke Banda Aceh saja, aku merengek minta naik bus. Padahal jarak  kampungku ke Kuta Raja hanya 40 km alias sejam perjalanan dan  transportasi yang tersedia adalah labi-labi.  Tapi sering aku minta naik bus. Sampai ke ke kota ini pun, aku tidak menuntut untuk dibeli ini itu, cukup hanya melihat “kapai meuret” yang ada di Blang Padang dan kadang kadang minta makan cindoi. Kalau ortu lagi ada uang, aku minta dibeliin bakso.

Dan kini tersadar,  aku sebenarnya memang senang jalan-jalan. Dari kecil aku senang dengan yang namanya bandara, mobil, kapal laut, kereta api, dan pesawat. Tidak seperti teman-teman sebayaku saat itu yang lebih suka main pistol-pistolan, aku lebih senang dengan mainan alat-alat transportasi tersebut. Walau tidak semua mainan itu bisa kumiliki, paling pinjam main punya anak tetangga yang kebetulan lebih beruntung secara ekonomi dari pada orang tuaku saat itu (baca tulisanku yang lain; juara lomba suami setia). Dan setelah kuperhatikan sekarang, walau hanya berapa kawanku kecilku yang menjadi polisi atau militer, tapi hampir semua mereka pernah ikuit tes polisi. Sesuatu yang tak pernah kulakukan, bahkan terlintas dalam pikiran pun tidak.

“Panyang gateh” adalah istilah lain yang juga sering diucapkan ibu kepadaku. Dalam Bahasa Aceh kata ini bermakna konotasi “suka jalan atau sering jalan jauh”, dan itu kini sudah terbukti. Masa kuliahku lebih banyak kuhabiskan untuk ikut baksos dibandingkan belajar di kampus. Aku hanya ambil mata kuliah kalau ada kawan dekat (umumnya cewek) yang mau memberikan catatanya untuk kufotokopi saat dekat ujian final semester. Aku juga tidak suka organisasi yang lebih banyak ngomong dan ngomong. Aku tidak berbakat jadi organizer, sehingga sering saat ada kegiatan atau bakti sosial mahasiswa (baksos), jabatanku hanya itu itu saja, Sedang untuk urusan rapat, aku hanya hadir jika dipaksa.

Jika kebanyakan orang senang dengan masa SMA karena buat mereka adalah masa penuh kisah kasih cinta, persis seperti lagunya Obbie Mesakh, maka bagiku masa kuliah adalah salah satu bagian yang paling bahagia dalam hidupku, karena aku bisa keliling Aceh secara gratis, dengan dalih melakukan bakti sosial tentunya.

Entah berapa banyak baksos yang pernah kuikuti. Tak pernah kuhitung. Tapi di antara memang masih sangat kuingat hingga kini. Ada baksos angkatan di fakultas dimana aku belajar saat itu, baksos anak BSPD, dengan anak PEMA Unsyiah, hingga dengan anak BEM IAIN Ar-Raniry. Saat tsunami pun aku bisa selamat karena sedang ikut baksos dengan anak PMI Unsyiah ke Pulau Aceh. Jika tidak, mungkin tulisan ini tak akan pernah ada.

Baksos pertama yang kuikuti tentu baksosnya anak fakultas. Di sini aku tidak punya peran apa-apa selain sebagai penonton. Baru pada tahun selanjutnya, di saat aku punya junior dan aku menjadi senior, aku merupakan bagian dari tim yang pertama ditugaskan untuk persiapan baksos di Simeulu, tahun 2003.

Di baksos pertamaku ini, aku mulai mendapat kepercayaan menjadi PJ sunatan, kerjanya cuma itu-itu saja, memastikan semua peralatan untuk sunatan tersedia, obatan-obatan, mencari anak-anak yang akan disunat, mengontak dan mengatur jadwal operator sunat dan asistennya, memastikan alat yang di pakai steril, dan sebagainya. Karena tugasku hanya itu-itu saja, aku sudah hafal benar berapa jumlah alat, operator, asisten, obat-obatan yang dibutuhkah hanya dari jumlah anak yang akan disunat dan waktu yang diberikan. Sejak saat itu entah berapa ratus “burung” yang sudah pernah kusunat, tak pernah kuingat.

Setelah itu aku ikut baksos ke Aceh Singkil, masuk ke pedalaman Danau Bunggara dengan anak-anak BSPD. Tugasku kini mencakup mengobatan massal, selain sunat tentunya. Di sini banyak sekali pengalaman menarik yang ingin kuceritakan, termasuk ketika memasak nasi tiga generasi, berebut sinyal handphone di bukit sinyal, hingga kisah tenggelamnya kapal van der wick….eh, tenggelamnya sampan kecil milik warga disitu.😀

Baksos selanjutnya yang masuk catatanku adalah baksosnya anak IAIN di Bener Meriah dan juga baksos BEM Unsyiah ke Terangon. Banyak kisah menarik yang wajib kutulis dari kedua baksos ini. Termasuk ketika aku dikerjain habis habisan di hari ulang tahunku saat sedang di Blang Kejeran. Jujur aku bukan orang yang ingat dengan hari ulang tahun, karena hingga sekarang, aku belum pernah perayakan ultah seperti yang orang-orang lain lakukan. Tapi karena di hari ultah ini aku dikerjainm, aku jadi ingat tanggal hari ulang tahunku.

Lulus kuliah, aku beruntung bisa mencicipi pengalaman bekerja di WHO. Awalnya aku kira pekerjaanku tak lebih dari “paperwork” di kantor, karena memang jenis pekerjaan yang dilakukan kantor atau organisasi tersebut adalah seperti itu. Tapi aku salah. Aku justru ditugasi untuk keliling Aceh, memberikan training, mengecek pengiriman barang, dan sebagainya. Daerah2 ynag pernah kujelajahi selama kuliah kini kembali kukunjungi saat aku bekerja.

Kini, aku sedang menuntut ilmu di benua biru, dan rupanya studiku juga tidak jauh dari kegiatan jalan dan  jalan. Semoga saja aku bisa menulis kisah – kisah tersebut suatu saat nanti.

Kini, aku ingin menikmati perjalanan pertamaku ke benua Amerika,

Moersalin

Penerbangan KLM dari Amsterdam ke Vancouver, September 2012.

6 thoughts on “Tukang Jalan

  1. Pingback: Bus Antar kota di Aceh Kalahkan Pesawat Airbus A380 | Moersalins and his world

  2. Pingback: Bus Antar kota di Aceh Kalahkan Pesawat Airbus A380 | situnis.com

  3. Pingback: Bus di Aceh Kalahkan Pesawat Airbus A380 | situnis.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s