Depresi, Akhir Dari Salah Asuhan

Setiap saya pulang kampung, selalu saja ada cerita baru tentang orang kampungku yang kudengar. Ada beberapa kisah indah, seperti ketika si A menikah, si C punya anak, keluarga si D akhirnya punya mobil baru dan sebagainya, tapi tak jarang aku mendengar kisah sedih.

Cerita sedih tentunya ketika saya diberitahu bahwa seseorang telah meninggal, tetangga yang lumpuh, orang tua yang menderita stoke, dan sebagainya. Namun ada juga kisah sedih yang kadang diceritakan sambil tertawa, aneh memang, tapi begitulah kenyataanya.

Cerita sedih tapi gembira yang kumaksud adalah saat para tetangga bercerita tentang tetangga lain yang tiba-tiba mengalami gangguan jiwa. Gangguan jiwa atau gila atau dalam bahasa Aceh disebut pungo memang penyakit yang lazim ditemukan di masyarakat dan sering digunakan sebagai bahan candaan. Ironis memang, saat orang lain menderita kita malah membuatnya menjadi bahan tertawaan.

Dari sekian banyak alasan kenapa orang gila sering menjadi objek olok-olokan, hanya satu yang benang merahnya jelas, literasi mereka tentang masalah ini sangat kecil, bahkan hampir tidak ada sama sekali, akibatnya para pasien ini sering dicibirkan, dimarjinalkan, bahkan dianggap sampah dalam masyarakat. Padahal mereka juga manusia yang memiliki nyawa, perasaan, rasa dan raga yang sama, bedanya mereka mengalami gangguan pada jiwanya, itu saja. Tidak hanya penderita yang menjadi korban dari penyakit ini, saya yang memutuskan untuk terjun kedalam bidang ini tak jarang menjadi mangsa. Misalnya ketika saya memutuskan untuk mempelajari bidang ini, saya kerap dianggap “salah jurusan”. Padahal seharusnya mereka tahu, bahwa semua manusia punya bakat untuk mengalami gangguan jiwa, sekecil apapun itu.

Well, tentang gangguan jiwa orang-orang di sekitarku, saya pernah menulis tentang Yahwa Gani dan keluarganya yang menderita psikosis. Tentang Bang Midun yang menarik diri dan berakhir depresi. Saya pernah juga bercerita tentang Kak Syam yang menderita OCD. Padahal orangnya manis, pintar, tapi harus dicerai suami karena OCD -nya tidak pernah diobati.

Saya juga pernah menulis tentang Kak Ainon yang sangat ingin sekolah, bahkan rela membeli baju sekolah bekas tetangganya, cuci baju orang kampung supaya dapat uang, semua agar bisa sekolah, tapi harus berakhir dengan gangguan jiwa karena cita-citanya tak pernah sampai. Prosesnya juga secara teoritis sama. Awalnya merasa minder karena meilhat kawan-kawannya sekolah, kemudian mulai menarik diri, depresi dan berakhir dengan gangguan jiwa berat.

Saat saya ingin melihat contoh kasus bipolar langsung, bahkan sampai mutar-mutar di rumah sakit jiwa, tapi kasusnya tak kunjung kutemukan, justru aku tersadar bahwa ada tetangga yang rumahnya berselang beberapa rumah dari rumah orang tuaku ternyata menderita gangguan bipolar. Diagnosanya kutegakkan setelah mendengar cerita ibuku yang memang rajin berkunjung untuk merawat si tetangga yang “i-lhap” tersebut.

Hmm….begitu banyak orang dengan gangguan jiwa di kampungku.

Well, pulang kali ini, sambil duduk duduk dengan orang kampung yang sedang masak di belakang rumahku, waktu acara asyura kemarin, saya mendapat cerita baru. Cerita tentang anak Kak Wahid (bukan nama sebenarnya) yang kini sudah mereka diagnosa dengan penyakit aneh. Saya tidak tahu banyak tentang si anak, selain bahwa dia anak tunggal dan pastinya sangat di manja. Mereka pun kini tidak tinggal di kampungku, melainkan desa lain yang lebih dekat dengan tempat kedua orang tua anak tersebut bekerja. Tapi keluarga besar mereka masih di kampung ini dan sering pulang kalau ada acara keluarga.

Inti dari cerita dari mulut ke mulut yang saling bersambut itu adalah bahwa si anak sangat di manja, hampir tidak pernah disuruh untuk kerja berat. Wajar aku rasa. Tapi keadaan si anak kini berubah drastis. Menurut cerita mulut tersebut (karena sudah lama sekali saya tidak berjumpa dengan si anak, terakhir kali saat ia masih SD, dan kini seharusnya ia sudah kuliah), ia kini berprilaku tidak sesuai dengan umurnya. Entah berapa jenis diagnosa lokal yang mereka buat, belum pernah kudengar sebelumnya, dan tentunya bukan diagnosa medis.

Saat saya terakhir kali berjumpa si anak, dia masih hidup normal seperti anak seusianya. Dan saya tahu memang orang tua sangat memanjakannya, tapi saat itu saya anggap wajar, tidak ada yang berbeda selain kemanjaan tersebut. Namun manja itu ternyata berlanjut hingga ke usia remaja, disaat ia seharusnya lebih harus dibiarkan mandiri, lebih bergaul dengan kawan-kawan seusianya.

Ihkwal penyakit tersebut, menurut warga yang memasak di belakang rumah itu, bahwa karena ia terlalu dimanja, ia menjadi target ejekan oleh teman-teman di sekolahnya. Kata-kata “anak manja atau anak mama” menjadi hal yang selalu ia dengarkan, kemanapun ia pergi. Rupanya, ejekan ini berakibat fatal bagi si anak. Terus terusan mendapat ejekan membuat ia merasa minder dan mulai jarang bergaul atau bermain dengan temannya. Di sekolah, ia menjadi pendiam dan selanjutnya mulai malas ke sekolah. Proses selanjutnya sudah bisa kutebak. Ia akan menarik diri, depresi, dan…..gangguan jiwa.

Well, sebuah proses yang sangat singkat untuk dituliskan memang, tapi entah berapa lama dan berat beban tersebut harus ditanggung si anak, ibu bapak dan keluarganya. Anak satu satunya yang seharusnya menjadi kebanggan dan harapan di masa depan, tapi kini berakhir dengan kesendirian dan dunia kehampaan. Sedih dan tak adil, bukan?

Saat mendengar cerita mereka, saya hanya perlu mendengar, tidak ada yang perlu kutanyakan atau minta diperjelas, apalagi pakai tehnik probing, semua cerita akan muncul begitu saja dari para tetangga super talkative ini. Saya hanya perlu membuat kesimpulan sambil mencoba untuk menduga-duga korelasi antara satu event dengan event yang lain. Meski saya tak yakin dengan diagnosa yang telah kubuat, tapi berdasarkan cerita mereka, saya yakin prilaku yang di alami si anak tersebut berlatar belakang dari cara asuh di rumah dan intimidasi yang ia terima di sekolah dan lingkungan bermainnya.

Penelitian tentang bullying pada anak-anak memang sangat banyak dilakukan akhir akhir ini, walau saya belum pernah membaca penelitian tersebut dilakukan di Indonesia, apalagi di Aceh. Berbagai faktor resiko, determinant, output, outcome serta konsekuensi dari prilaku bullying pada anak dan remaja tersebut sudah dipublikasikan, namun tidak separah yang di alami anak Kak Wahid. Jelaslah bahwa perhatian terhadap masalah bullying atau intimidasi, ejekan dsb pada anak mulai harus mendapatkan perhatian khusus dari para stakesholder kita.

Well, kadang saya dongkol dengan cerita sambung menyambung para tetangga, tapi kali ini saya harus berterima kasih kepada mereka. Dan tak lupa saya berharap kepada Kak Wahid untuk segera membawa anaknya berobat ke psikiater-psikolog, bukan ke dukun atau orang pintar seperti yang kini mereka lakukan. Saya yakin, semakin cepat diobati, semakin besar peluang si anak untuk sembuh.

Seandainya orang tua tidak terlalu memanja dan kawan-kawan tidak mengejeknya…..

Seulimeum 1.12.12

2 thoughts on “Depresi, Akhir Dari Salah Asuhan

  1. pak psikolog harus cepat edukasi warga tetangga nih, gelar workshop bareng keuchik dan tuha peut agar semakin banyak masyarakat tahu betul pola asuh dan jangan sampai meutamah korban lom🙂

  2. Gw jga depresi gara2 sekolah diolok2 dri kelas 1 mts smpai klas 2 bnyk hal yg gw alami mulai buku disobek dicoret2 baju,dihina diejek,dikroyokok smpai parah lah,smpai gw gk konsen belajar dan nilai turun drastis,dan gk naik kelas 3 dan itu smakin terpuruk,kucoba utk bnggkit kuat memulai hidup bru dgn tman baru tpi iti smua sia2 krna itu hnya kepuraan2 pribadi gw …itu smua mrubah hidupku,dri sd yg aktif bermain,skrng gw ngomong sma anak2 ja gagu,gk nyambung,gw jdi susah brgaul,jga trauma gw sma perempuan..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s