Kereta Terlambat, Uang Kembali

Rasa kantuk benar-benar menjadi musuh saya kali ini. Serangan jetlag memaksa mata untuk beberapa kali tertutup tanpa sengaja. Kalau di tanah air, saat ini adalah jam tidur malam. Perjalanan udara yang lebih dari 15 jam dari tanah air ke Jerman harus kusambung lagi dengan kereta cepat ICE dari Munich Hbf ke ibukota Jerman, Berlin. Jadinya, perjalanan darat lebih banyak kuhabiskan untuk tidur, sambil sekali-kali membaca jika aku bisa tersadar-sadar ayam.

Di antara ambang kesadaran itulah, aku mendengar pilot kereta beberapa kali mengumumkan bahwa perjalanan dari kota Munich ke Berlin kali ini akan terlambat karena beberapa alasan, salah satunya karena adanya perbaikan rel kereta. Beberapa kali pula aku merasa kereta melambat hingga benar-benar berhenti total di pinggir sebuah desa dekat dengan kota Jena. Lebih dari setengah jam kereta berhenti di sana dan sopir juga terus-terusan mengumumkan progres pekerjaan dan rencana perjalanan selanjutnya. Penumpang dibagikan air putih, tapi tak ada makanan. Bebeberapa saat kemudian, kereta ditarik ke sebuah stasiun kecil terdekat dari sana, saya lupa menulis nama stasiunnya. Di sana penumpang dibiarkan untuk turun dan menikmati udara bebas yang mulai mendingin. Saya juga keluar, membeli roti yang ada di toko kaca tanpa penjual. Lumayan untuk mengisi perut yang memang terakhir kali terisi lebih dari 4 jam yang lalu. Penumpang lain juga melakukan hal yang sama, tapi lebih banyak yang menjadi ahli hisap sepertinya.

Setelah 30 puluh menit lebih berhenti di stasiun kecil itu, kereta beranjak. Pak pilot kembali mengumumkan bahwa secara total kereta akan tetap terlambat sekitar satu jam lebih, penumpang yang menuju arah lain juga telah disiapkan “verbindung” nya, sehingga tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Selama masa menunggu yang hampir 2 jam tadi, kulihat tidak ada penumpang yang marah, apalagi sampai memaki-maki. Padahal, kutahu betul karakter orang Jerman yang serba “punklich” alias tepat waktu. Namun, karena sang pilot benar-benar mengomunikasikan permasalahan yang mereka hadapi secara terus menerus dan apa adanya, sangat wajar para penumpang bisa mengerti dan tidak perlu memaksakan emosi dan energi terbuang percuma.

Beberapa menit setelah kereta berjalan normal, seorang petugas mendatangi semua penumpang sambil membagikan sebuah amplop yang berisi form pengaduan karena keterlambatan. Saat kuterima amplop tersebut, saya sama sekali tidak tahu apa maksudnya, tapi setelah membaca dengan seksama ternyata isinya adalah tentang pemberitahuan tentang pengembalian uang akibat keterlambatan kereta. Jika terlambat lebih sejam, penumpang akan dikembalikan uangnya mulai dari 25%, jika lebih dari 2 jam maka bisa sampai 50%, tergantung keadaannya, apakah penumpang harus ganti kereta, menginap atau sebagainya.

Membaca “uang kaget” ini, kantukku segera saja hilang. Pulpen yang entah dimana kusimpan kini sudah ada ada ditangan, mencoba mengisi form sambil berharap uang tiket minimal 25% benar-benar dikembalikan😀

Sambil mengisi form ini, aku teringat dengan masalah delay pesawat yang sering terjadi di negara SBY. Di sana penumpang sering kali menjadi pihak yang selalu merugi jika pesawat delay, walau sekarang sudah lumayan setelah pemerintah berani membuat peraturan jika pesawat delay lebih dari 4 jam maka ada uang yang dikembalikan, tapi 4 jam kan waktu yang relatif lama? Bagaimana jika delaynya 3 jam 55 menit?

Memang sangat tidak fair membandingkan Indonesia dengan Jerman, tapi demi proses pembelajaran, perbandingan itu selalu dibutuhkan, bak sebuah obat yang baru ditemukan harus dibandingkan dulu efektivitasnya dengan obat lama yang sudah di gunakan. Dan walau membandingkan sistem transportasi Jerman dengan Indonesia adalah ibarat membadingkan jalan tol dengan jalan ke tempat lembu beol, tapi bisa saja kan suatu hari jalan ke tempat beol bisa di buat tol?

Walau sistem perkereta apian di Jerman hanya dipegang oleh perusahaan “Deutsche Bahn” yang notabene adalah punya pemerintah, tapi dalam pelayanannya mereka sangat profesional, buktinya adalah seperti contoh yang saya sebutkan tadi. Bandingkan saja dengan bisnis pesawat udara Indonesia, walau saat ini sudah cukup banyak operator swasta, tapi pemerintah sebagai regulator seolah sangat takut untuk untuk membuat peraturan. Perlindungan konsumen dan warga negera seperti selalu menjadi nomor kesekian.

Bayangkan jika pemerintah Indonesia berani membuat peraturan, jika ada transportasi berjadwal apapun yang telat 30 menit, maka mereka harus memberikan makanan buat penunmpang, telat satu jam maka harus membayar 25% dari total ongkosnya, telat 2 jam bisa sampai 50%, jika keberangkatannya dibatalkan, maka uang tiket 100% harus dibayarkan, ditambah biaya kerugian yang telah dialami calon penumpang tersebut. Dengan peraturan “terpaksa” seperti ini, maka tidak hanya penumpang yang diuntungkan, tapi perusaahan transportasi, dalam hal ini maskapai penerbangan yang paling sering mendapatkan sorotan, juga akan menjadi lebih baik, karena mereka juga akan memaksan untuk memperbaiki manajeman mereka. Dan yang paling penting, bangsa kita mulai bisa menghargai waktu, yang memang selama ini sangat murah harganya.

Form telah kuisi, tulisan juga sudah kubuat, tapi mata kembali memerah, tidur lagi lah.

Dalam ICE Jena – Berlin
23 sept 2012

# Beberapa hari kemudian, aku menerima sebuah surat yang dari DB (Deutche Bahn) yang menyatakan bahwa uang tersebut sudah dikirim ke rekeningku, dan setelah rekening aku cek via internet, uangnya memang sudah masuk sejak beberapa hari yang lalu:D

Enaknya negeri nyakwa anjela merkel ini😛

3 thoughts on “Kereta Terlambat, Uang Kembali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s