Vincent Will Meer; Ketika 3 Orang Gila Berbuat Gila

Vincent Will Meer, begitu judul film produksi Jerman yang dirilis pada tahun 2010. Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi; Vincent ingin ke laut. Film ini memang mengisahkan tentang pelarian Vincent bersama dua temannya; Marie dan Alexander ke laut. Vincent dan kawan-kawannya melarikan diri dari panti rehabilitasi remaja dengan mencuri mobil dr. Rose, dokter yang merawat mereka.

Vincent adalah seorang remaja yang menderita sindroma Tourette. Ia baru saja diantar oleh ayahnya ke panti rehab tersebut setelah hari ke dua ibunya meninggal. Ayahnya adalah seorang politikus yang saat itu disibukkan oleh kampanye pemilihan anggota legislatif. Sehingga menurut sang ayah, panti rehabilitasi adalah tempat yang tepat untuk putranya.

Di panti, Vincent ditempatkan sekamar dengan Alex, remaja yang menderita Obsesive Compulsive Disorder (OCD) oleh dokter Rose. Awalnya Alex sangat keberatan dengan adanya penghuni baru di kamarnya, tetapi dia tidak bisa menolak “therapi” dari sang dokter. Selain Alex, Vincent juga berkenalan dengan Marie. Marie adalah orang yang ditugaskan oleh dr. Rose untuk memberikan orientasi tentang panti rehab tersebut kepada Vincent.

Konflik di dalam film ini dimulai ketika Vincent memukul seorang anak kecil yang mengejeknya dari luar pagar panti. Saat itu, remaja itu sedang duduk bersama Marie di lapangan bola. Dengan berang, Vincent melompat pagar. Ia mengejar dan memukul si anak sejadi-jadinya. Lalu, Vincent dan Marie dipanggil dr. Rose dan diminta penjelasan atas kejadian itu.

Permasalah berlanjut ketika sang dokter mengatahui bahwa Marie tidak pernah makan seperti yang disarankan. Hasil pemeriksaan laboratorium ditemukan kadar gula darahnya sangat rendah. Marie mengalami hipoglikemi. Oleh karena itu, dokter Rose mengajukan terapi lain yang ditolak Marie mentah-mentah.

Atas kekecewaan tersebut, Marie mengajak Vincent untuk melarikan diri dari panti. Sebelumnya, gadis itu telah mencuri kunci mobil dr Rose. Pada malamnya, dengan mengindap-indap, Vincent berhasil keluar dari kamar. Namun aksi Vincent diketahui oleh Alex, teman sekamarnya. Awalnya, rencana pelarian mereka berjalan mulus. Tetapi semuanya mendadak kacau setelah Alex keluar dari kamar dan menghentikan mobil. Alex marah karena Vincent menganbil kepingan CD “Bach” kesayangannya. Saat itu juga, Alex sadar bahwa kedua koleganya mencuri mobil dr. Rose. Penderita OCD itu mencoba untuk memberitahu sang empunya. Untuk menghindari kegagalan rencananya, Vincent memaksa Alex untuk ikut masuk ke mobil dan lari dengan mereka.

Film arahan sutradara Ralf Huettner ini sangat menarik untuk ditonton. Selain mengedukasi penonton tentang kelainan jiwa yang diderita oleh ketiga tokoh tersebut, film ini juga dibumbuhi komedi dan sindiran politik yang disampaikan dalam percakapan-percakapan para tokohnya.

Sindrom Tourette yang diderita Vincent sangat mengganggu aktivitasnya sehari-hari. Serangan tic yang datang tak terduga membuat orang sekeliling selalu memperhatikan dia. Pernah suatu hari ketika ia dan kedua temannya sampai ke Italia, remaja itu memaki orang-orang yang terus memperhatikan prilakunya.

Marie yang menderita anorexia selalu bermasalah dengan yang namanya makanan. Menurutnya, orang yang memasukkan sesuatu ke dalam mulut dan mengunyahnya adalah sesuatu yang sangat menjijikkan. Akibatnya, hanya minuman dan rokok saja yang “boleh” melewati mulut Marie. Sangking jarangnya Marie makan, Alex pernah mengatakan bahwa uang 7 euro cukup untuk kebutuhan makan Marie dalam setahun.

Sebaliknya, Alex dengan OCD nya ingin selalu bersih, rapi, teratur, dan perfeksionis. Kelainan jiwa yang diderita oleh ketiga pasien dr. Rose ini menjadi menjadikan persahabatan mereka menjadi aneh, unik dan lucu.

Film yang mendapat banyak perhargaan baik di Jerman maupun di luar negeri ini juga banyak menyindir kebiasaan para politikus yang sering menjelekkan orang lain dan merasa dirinya yang paling wah bagi segalanya. Hal ini terlihat ketika dr. Rose dan ayah Vincent mengejar pelarian ketiga anak muda itu. Perselisihan dan perang mulut akrab terjadi antara kedua manusia yang berbeda profesi ini. Akan tetapi, pada akhirnya mereka menjadi akur dan menyadari bahwa apa yang selama ini telah mereka kerjakan belum sesempurna dengan apa yang diinginkan orang lain. Setidaknya begitulah pengakuan dr. Rose ketika dia mengatakan telah menjadi terapist yang gagal untuk mengobati pasiennya. Begitu juga dengan ayah Vincent yang akhirnya membiarkan Vincent menentukan jalannya sendiri yaitu pergi ke laut selatan.

Pemilihan lagu-lagu soundtract untuk film ini juga sangat sesuai. Lagu Hey, Soul Sister- nya Train diputar hampir full di trailernya. Sedang lagu lagu lain seperti Spinner dari Revolverheld, Autopilot-nya Ananda Janssen, hingga Walk on My Own -nya Cargo City membuat suasana saat menonton film ini lebih meriah dan indah.

Shooting film yang dilakukan di beberapa negara Eropa Barat; mulai dari Jerman, Austria hingga Italia, dengan latar belakang gunung yang hijau dan indah membuat cerita petualangan ketiga remaja ini menjadi sangat menarik. Hal inilah yang menjadi daya tarik khusus bagi film drama romantis tersebut.

Terakhir, kredit layak diberikan kepada Florian David Fitz, sang menulis skenario dan berperan sangat baik sebagai Vincent dengan Tourette nya dalam film ini. Sebagai ganjarannya, Florian dianugerahi Schauspieler national oleh Bambi. Sedangkan Jupiter Awards menganugerahi film ini sebagai Film Terbaik Jerman 2011.

Nah, bagaimana kisah film yang berbahasa Jerman dan telah ditonton oleh jutaan orang di Jerman dan Austria ini selengkapnya? Silakan anda tonton sendiri!

#ditulis setelah film ini ditonton untuk kesekian kalinya, dalam penerbangan EK 357 JKT – DBX, Minggu 23 sept 2012.
Moersalin.

4 thoughts on “Vincent Will Meer; Ketika 3 Orang Gila Berbuat Gila

  1. hari saya membaca tentg tlisan dri bang ceudah ttg film orang gla.
    nah sore tdi di metrotv acra kick andy menayangkan tentg org gila yang smbuh dan sukses.
    apa kta harus perlu gla dlu biar ad inspirasi untk skses?hehehe

    • tidak harus menjadi orang gila untuk menjadi sukses, tapi memang dibutuhkan kegilaan dan cara2 gila (tapi halal) untuk mencapai sukses.

      trima kasih sudah berkunjung en salam sukses tanpa harus gila😀

      • “tidak harus menjadi
        orang gila untuk menjadi
        sukses, tapi memang
        dibutuhkan kegilaan dan
        cara2 gila (tapi halal)
        untuk mencapai sukses.”

        nah, kta2 trsbut sngat inspiratf. Jadi tetp percya diri dngan ap yg saya lakukan skrg.

        hai, welcome.
        salam kenal kmbli bang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s