Juara Lomba Suami Setia

Jika ada kompetisi lomba suami setia, maka gelar itu akan kualamatkan kepada salah seorang tetanggaku. Sebut saja namanya Gani atau tepatnya Yahwa Gani. Aku memanggilnya Yahwa karena memang usianya sedikit lebih tua dari orang tuaku (yahwa: paman dalam Bahasa Aceh, sebutan untuk orang yang lebih tua dari ibu atau bapak, sedangkan yang lebih muda disebut “Apa”). Yahwa Gani bukanlah seorang tokoh yang disegani oleh masyarakat. Ia tidak kaya juga tidak terkenal, yang mengenalnya paling tetangga, teman sesama pekerja dan keluarga tentunya. Hartanya juga tidak pernah banyak, malah selalu menjadi langganan mustahik zakat fitrah setiap tahun. Dengan kata lain, beliau adalah orang dengan kehidupan yang pas pasan.

Aku telah mengenal Yahwa Gani sejak aku masih kecil. Ketika aku masih suka bermain tanah, lelaki itu telah akrab denganku. Anak keduanya adalah kawan sepermainanku. Sayangnya, dia telah kembali kepangkuan ilahi dalam usia yang masih belia. Alasan kematiannya sampai sekarang masih belum bisa kuterima dengan akal sehat; digigit tawon. Memangnya gigitan tawon itu bisa menyebabkan seseorang meninggal dunia? Anak Yahwa yang pertama kadang juga ikut bermain dengan kami, tetapi kami tidak begitu dekat karena ia seorang perempuan.

Yahwa Gani yang kukenal waktu aku masih kecil sangatlah berbeda dengan Yahwa Gani sekarang. Dulu dia adalah seorang ayah yang sukses. Dia bekerja sebagai supir di sebuah perusahaan. Bukan perusahaan bonafit memang, tetapi gajinya sangat besar untuk ukuran orang kampung bahkan mengalahkan gaji orang tuaku yang bekerja sebagai abdi negara.

Yup moh atau bagian bawah dari rumah panggung Rumoh Acehnya adalah arena permainanku dengan anaknya. Kami sering bermain tanah alias sukat abee di sana. Hampir semua mobil-mobilan yang kumainkan waktu adalah mainan anaknya yang dipinjam mainkan kepadaku. Anaknya sama sekali tidak pelit, persis seperti ayahnya.
Sampai suatu hari ketika nyawa kawanku terenggut oleh sengatan lebah, aku pun mulai jarang ke sana. Sebenarnya, adik temanku juga laki-laki, tetapi usianya terpaut jauh di bawahku sehingga ia bukanlah orang yang tepat untuk kuajak bermain.

Ingatan akan Yahwa Gani yang sukses pada masa kecilku hadir setelah malam kemarin ia bertamu ke rumahku. Bukan silaturahmi lebaran, melainkan ia datang untuk meminta saran. Anaknya yang nomor tiga; adik dari almarhum temanku kini punya kelainan. Ia malas bekerja, begitu Yahwa menyebut kelainan anaknya.

Waktu itu Yahwa Gani datang bersama anaknya. Kupersilakan mereka masuk. Lalu betapa kagetnya aku ketika melihat sang anak yang sangat kurus. Sebut saja namanya Mahatir. Mahatir yang kukenal sebelumnya berbadan tegap dan berisi. Profesinya sebagai montir di bengkel mobil memaksa ototnya terus berkontraksi sehingga membuatnya tumbuh bak binaraga. Tapi kini dia tak lebih dari sebuah kerangka yang bergerak dan berbalut kulit coklat nan mengendur. Matanya dulu rada sipit kini berubah besar. Padahal tiga tahun lalu, ketika terakhir kali aku berjumpa dengannya, ia masih sehat wal afiat.

Setelah berbasa basi sekilas, mereka langsung kuajak berbicara. Pertanyaan yang kuajukan untuk Mahatir malah dijawab Yahwa Gani. Aku kemudia diam dan mengangguk sambil sekali-kali membuat probing dan prompting, walau ini bukan wawancara riset tentunya. Informasi yang disampaikan Yahwa Gani kucoba cek kebenarannya ke Mahatir. Awalnya ia hanya tersenyum, tapi terlihat adanya afek datar di wajahnya dan senyuman halusinasi di bibirnya. Melihat gelagat seperti ini, pertanyaanku mulai berpindah ke topik yang lebih khusus. Apa dia sering tersenyum atau tertawa sendiri? Dan seperti yang kutebak, ia sering berhalusinasi. Lalu aku ingin memastikan jenis halusinasi apa yang ia alami. Seperti tadi juga, mereka kaget dengan pertanyaanku. Kenapa bisa langsung menebak ke pertanyaan yang belum pernah ditanyakan oleh dokter atau dukun manapun? Kini giliran aku yang tersenyum😀

Agak sedikit sulit mengajak Mahatir berkomunikasi, karena sering pertanyaan yang sebenarnya kuajukan untuknya malah dijawab oleh sang ayah. Baru setelah aku berikan kode agar pertanyaanku sebaiknya dijawab sendiri oleh Mahatir, Yahwa Gani mengerti dan membiarkan Mahatir menjawab. Walaupun membutuhkan waktu agak lama, tapi akhinya dia juga angkat bicara.

Beberapa menit kemudian, sejumlah diagnosa berhasil kubuat untuk adik temanku itu.. Ingin kulanjutkan wawancara, tapi kali ini tampaknya Yahwa Gani tak sabar ingin “curhat” tentang keluarganya. Tentang istri dan anak-anaknya. Ia memulai dengan kisah-kisah indah setelah ia menikah. Saat ia dan istrinya masih tinggal di desa lain. Waktu itu Mahatir belum lahir dan mereka belum pindah ke desaku sekarang. Hingga tiba pada cerita tentang istrinya yang menderita penyakit yang menurut dia aneh. Meskipun semua orang di desa tahu istrinya mengalami gangguan jiwa, selama berbicara dengan kami, ia tidak pernah menyebutkan kata-kata itu, dia hanya berkata “sakit”, itu saja.

Sejak pertama istrinya mengalami serangan “aneh”, yang berdasarkan deskripsi yang disampaikannnya bisa di ku kategorikan sebagai “aggresif amuk” dan “wandering”, kehidupan keluarganya jadi serba susah. Sejak saat itupun, ia telah membawa istrinya ke seluruh orang pintar yang ia kenal, ke seluruh dokter umum yang ia tahu, bahkan ke dokter saraf, karena menurutnya istrinya mengalami gangguan saraf (salah satu istilah untuk gangguan jiwa dalam Bahasa Aceh adalah “putoh saraf” alias putus saraf, sehingga sangat beralasan jika kebanyakan masyarakat yang membawa keluarganya yang mengalami gangguan jiwa ke dokter saraf). Ia juga mengatakan begitu banyak uang yang telah dihabiskan, bahkan sampai ratusan juta. Tanah keluarga juga banyak yang telah ia jual untuk pengobatan istrinya.

“Kalau dia sedang kambuh, saya tidak bisa berangkat kerja. Malamnya tangannya harus saya ikat. Jika tidak, maka ia akan jalan-jalan, merusak barang. Susah saya. Kadang saat sedang tidur, saya terbangun, tidak terasa air mata saya keluar, kenapa cobaan berat ini harus saya yang menerimanya? Puluhan tahun hanya saya yang tanggung sendiri,” cerita Yahwa Gani dengan mata berkaca-kaca sedangkan aku hanya diam dan menyimak. Ibuku saat itu juga sudah ada di sekitar kami,

“Kalau dia kambuh, semua pekerjaan rumah harus saya kerjakan. Masak, mencucui baju, bersihkan rumah, juga harus kerja cari uang. Saya tidak tahu harus minta tolong sama siapa, padahal saudara istri saya jadi orang sukses semua. Tapi satu resep obatpun tak pernah mereka beli, semua saya tanggung sendiri,” lanjutnya lagi.

“Dan yang paling sedih, ketika kemarin anak paling kecil saya diterima di sebuah kampus, padahal banyak sekali yang tidak lulus, tapi dia lulus. Saya juga ingin ada di keluarga kami yang kuliah, karena abang dan kakaknya hanya sampai SMP atau SMA, tapi saya tidak punya uang, padahal butuh beberapa juta saja untuk pendaftaran ulang. Tapi mau saya ambil dari mana? Saya takut kalau dia (anaknya) jadi stres dan sakit juga seperti ibunya karena ia sangat ingin kuliah,” tutupnya.

Ibuku yang memang mengetahui lebih banyak tentang istri Yahwa Gani mencoba menenangkannya, menyuruh sabar dan sebagainya. Sedangkan aku, disaat seperti ini tidak bisa berbuat banyak, ijazah master yang kuperoleh seperti tidak berguna.

‘###

Well, menjaga dan merawat orang dengan gangguan jiwa tidak akan pernah sama dengan marawat pasien dengan penyakit kronis manapun. Menjaga orang gangguan jiwa adalah menjaga ketidakpastian, ketiba-tibaan, kadang-kadang sangat baik, tapi bisa tiba-tiba mengamuk, walau tidak pernah separah seperti yang ditakutkan kebanyakan orang.

Merawat orang dengan gangguan jiwa butuh kesabaran, ketabahan dan keihlasan. Kemampuan ini tidak dimiliki oleh semua orang, tidak oleh mereka yang telah mendapatkan ijazah sarjana, bahkan dokter atau perawat spesialis jiwapun belum tentu memilikinya. Kemampuan ini tumbuh dari kejujuran dan keihlasan untuk berbagi, berbagi hidup dengan mereka yang “kurang normal” dibandingkan kita. Tanpa kedua hal ini, sangat sulit untuk bisa menjaga mereka.

Aku tersadar, baru beberapa tahun bekerja dan meneliti dalam topik gangguan jiwa, begitu banyak masalah yang aku hadapi. Saat berhubungan dengan pembuat kebijakan, mereka selalu menggap masalah ini sebelah mata, bahkan ada yang menganggap ini suatu yang alpa, baiknya di lupakan saja, padahal mereka selalu ada di antara kita. Dengan kawan sejawatpun sering dianggap pilihan ini sebagai “lapangan kerja kering” karena memang kebanyakan penderita gangguan jiwa adalah orang miskin, dan sangat tidak mungkin untuk mencari uang dari orang miskin, kecuali disaat hati kita tak pernah bisa lagi membedakan penderitaan mereka.

Satu diantara empat orang adalah penderita gangguan jiwa, begitu rasio yang diberikan oleh epidemilog untuk menunjukkan besarnya jumlah penderita gangguan jiwa. Namun sekali lagi, masalah ini sering dianggap sepele, bahkan dianggap tabu untuk dibicarakan. Padahal secara global, penderita gangguan jiwa terus meningkat setiap tahunnya, dan hampir 80% penderita gangguan jiwa secara global tinggal dan menetap di negara miskin atau negara berkembang.

Mengurusi gangguan jiwa tidak hanya tanggung jawab praktisi kesehatan jiwa, bukan juga tugas keluarga orang yang sakit, tetapi adalah tanggung jawab seluruh orang yang sehat. Orang gangguan jiwa adalah kelompok yang paling lemah untuk bernegosiasi dan menyampaikan masalah mereka, karena sebelum mereka bicarapun, mereka sudah di marginalkan. Beda jauh dengan mereka yang sakit fisik, seperti jantung atau HIV. Mereka masih bisa bekerja secara normal dan menuntut orang lain untuk memerhatikan masalah mereka. Penderita HIV contohnya, bisa meyakinkan orang-orang kaya didunia untuk mendonorkan sebagian uangnya untuk kebutuhan pembelian obat-obatan HIV sehingga pengobatan HIV di banyak tempat bisa gratis sekarang ini. Orang yang menderita HIV juga bisa bekerja dengan posisi yang tinggi, jika anda pernah ke kantor PBB di Genewa, jangan kaget jiwa ada pejabat disana yang menderita HIV positif. Kenyataan ini jauh berbalik dengan orang yang mengalami gangguan jiwa. Jangankan untuk menjadi pejabat seperti camat atau kades, jadi kepala keluarga pun dia tidak akan dipilih jika ketahuan orang tersebut gila. Parahnya lagi, mereka malah sering ditinggalkan atau diceraikan saat mereka mengalami penyakit ini.

Lalu jika ada perlombaan suami setia? Saya rasa hanya Yahwa gani, yang layak memenangkan gelar ini.

seulimeum,
syawal 1433 H

6 thoughts on “Juara Lomba Suami Setia

  1. Pantasnya anda ini jadi konsultan orang sakit jiwa ato psycholog……. biar bs menolong banyak orang, napa kuliah jauh2 ke Jerman? jurusannya gak matching dengan kenyataan …………..ku doakan semoga anda sukses di bidang itu……..

  2. Pingback: Tukang Jalan | Moersalins and his world

  3. Aku tidak membaca ini dengan hati, karena pasti akan ada air mata yang keluar, cerita yang menginspirasi bang, setidaknya dari beliau kita mengerti artinya kesetiaaan, bukan cuma perlu saat sehat saja

  4. Pingback: Kisah Backpaker di Eropa | Blog siTunis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s