“Orang dulu” memang hebat!?

Labi-labi arah seulimeum bergerak lamban meninggalkan kota Banda Aceh, tidak banyak penumpang di dalamnya, walau suasana sudah mendekati lebaran. Sejak beberapa tahun terakhir memang, hampir setiap orang memiliki sepeda motor sebagai alat transportasi, imbasnya, angkutan umum yang dulunya sempat menjadi primadona, kini mulai berkurang populasi dan peminatnya.

Seorang pria tua duduk di dalam angkutan tersebut, memakai sarung, baju putih panjang tangan, plus kopiah hitam menutup ubannya. Sekitar satu meter di sampingnya, sorang anak muda sibuk membaca catatan kuliah, mencoba konsentrasi, walau sekali-kali terganggu oleh goyangan labi-labi ketika melewati jalan berbatu yang tak kunjung selesai dikerjakan.

Tepat di depan anak muda, sorang wanita tua, penjual sayur di pasar, juga duduk dengan santainya, sebuah ranjang sisa jualannya terletak di lantai angkot, dalam jangkauan kakinya.

“Anak muda sekarang, capek kuliah sampai tua, tapi gak bisa apa-apa, orang kita dulu, cuma tamat SD tapi bisa mengajar lagi di SD nya”, angkat bicara si kakek tua tersebut sambil melirik anak kuliah yang sibuk dengan bacaan.

“Betul Teungku, dulu kakak saya kelas 6 SD, tapi bisa ngajar saya yang kelas 4, tapi keponakan saya yang sekarang sudah sarjana, mengajar saja dia tidak bisa, padahal sudah capek kuliah” sambung di perempuan tua dengan semangatnya, juga sambil melirik si anak muda.

Merasa menjadi objek pembicaraan, anak muda tersebut hanya melemparkan senyum kepada orang-orang yang layaknya dia sebut nenek dan kakek itu. Ingin ia membalas perkataan tersebut, tapi iya sadar, yang ia hadapi adalah orang tua, yang mungkin pendidikannnya hanya tamat SD, walau bisa mengajar anak SD mungkin. Ia memilih diam, mencoba memaknai perkataan kedua orang tadi.

Melihat si anak muda tidak merespon, si kakek mengalihkan pembicaraan sambil bertanya, “kuliah di darussalam nak?”
“iya kek”
“sudah berapa tahun?”
“baru mau semester tiga kek”
“kenapa gak bawa honda”
“gak punya”, jawabnya kaget, tapi mencoba tenang.
“cucu saya yang SMP saja sudah punya honda mio, masak sudah kuliah kamu gak punya honda?” tiba-tiba sambung si nenek yang didepannya.

Anak muda hanya bisa tersenyum, ingin ia menjelaskan bahwa ia kuliah dengan modal pas-pasan, jangankan untuk beli honda, bayar SPP saja kadang orang tuanya harus menggadaikan kebun. Ingin juga dia memberitahu bahwa ia kuliah bukan untuk pamer honda, tapi memang hanya ingin menuntu ilmu, itu saja.

Suasana sejenak hening, tak ada pembicaraan antara mereka, hingga seorang bapak naik di sebuah persimpangan. Dengan penumpang baru ini, topik pembicaraan mereka beralih ke isu mahalnya harga daging dihari meugang nanti. Ketiga orang tua ini sangat serius dengan topik daging, bak diplomat yang sedang memperjuangkan hak warga negaranya, tapi hanya mereka bertiga sahaja yang tau solusinya, sedang simahasiswa hanya menjadi pendengar yang baik, sambil sekali-kali melirik catatan kuliahnya.

Di sebuah persimpangan, si mahasiswa itu pun turun, meninggalkan para orang tua di dalam labi-labi yang tidak pernah habis topik diskusinya. Setelah membayar ongkos ke bang supir, ia pun melangkah gontai ke rumah orang tuanya, jarak yang hampir satu kilo meter ia temputh dengan berjalan kaki, tak ada lagi bang RBT di sore itu.

Batu kerikil yang ada di jalan dia tendang, begitu juga bekas botol minuman yang berserakan di jalan, entah kegalauan apa yang sedang dialami anak muda ini. Yang pasti, sindiran orang tua di labi-labi begitu mengena di kepalanya, bak palu godam yang di hantam tepat sasaran, bak panah robin hood, menusuk tepat di ulu hatinya.

“Apa benar orang dulu hebat? Kenapa mereka selalu membanggakan masa lalu? Kenapa mereka suka meremehkan kami di masa kini, bukankan kita hidup di waktu di zaman yang berbeda?” pertanyaan-pertanyaan yang terus berteriak di telinganya.

“Jika mereka dulu memang hebat, kenapa sampai saat ini kita harus membeli alat elektronik buatan luar negeri? Tak ada hape merek seulawah? Tak ada sepeda motor merek yahwalah? Tak ada laptop merek nyakwa minah? tak ada baju merek rabumah? Jika dulu mereka memang hebat, kanapa sampai sekarang kita terus terusan menjadi bangsa pembeli, tanpa pernah bisa menghasilkan produk sendiri?” seharusnya pertanyaan ini ia tanyakan kepada orang tua tadi.

“Waktu kecil kita pernah di ajarkan sebuah lagu, “nenek moyangku seorang pelaut, gemar mengarung luas samudra” tapi itu dulu, nenek moyang kita yang mengandalkan angin untuk berlayar, nah, orang yang mengajarkan lagu itu, atau nenek kakek yang tadi di labi2, jangankan untuk membuat perahu layar, membuat rakit pisang saja mereka mungkin sudah lupa caranya” ceramah batinnya.

“Jika yang selalu dibanggakan adalah anak lulusan SD yang bisa kembali mengajar anak SD, kenapa tidak dengan anak sekarang yang lulus kuliah tapi bisa mengajar anak SD, SMP, SMA dan kuliah?, rasanya ini lebih adil perbandingannya” teriak anak muda dalam hati”

Sambil terus berperang dengan kekesalan, si mahasiswa terus melangkah di jalan kecil setapak itu, hingga selembar kertas koran lokal yang terletak di tepi jalan terlihat olehnya, iya memungut, membuka koran yang sebagian sudah sobek itu. Dan, di salah satu halaman koran tersebut ia menemukan jawaban “sudah sewajarnya orang tua selalu membanggakan masa lalunya, tapi seorang anaka muda harus membuat masa depannya membanggakan”.

Ia merobek bagian tulisan tersebut, dimasukkan potangan itu kedalam dompetnya. Ia kemudian kembali bangkit, dan mulai berjalan. kali ini, langkahnya lebih tegap dan bersemangat.

Seulimuem, 090912
Setelah mendengar ocehan seorang orang tuašŸ˜€

2 thoughts on ““Orang dulu” memang hebat!?

  1. Pingback: Posts of the Week #5 | KOLOR INI

  2. “ā€œsudah sewajarnya orang tua selalu membanggakan masa lalunya, tapi seorang anaka muda harus membuat masa depannya membanggakanā€
    ———-

    suka niy *kasih jempol

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s