Ketika para TKI mudik

Laptop yang sudah kumasukkan kedalam tas terpaksa ku buka lagi, ada moment menarik yang sangat sayang jika dilewatkan, mubazir jika tidak dituliskan.

Ya, aku kini berada di tengah para TKI di negara uni emirat,, tepatnya sedang di bandara dubai, menunggu boarding ke dalam perut pesawat, menunggu si bongsor membawa kami kembali bersua dengan keluarga.

Sejak dari subuh, calon penumpang sudah ramai sekali disini, baik penumpang transit, maupun yang memang berasal dari atau bekerja di negara kaya minyak ini. Penumpang transit kebanyakam tidur di kursi, aku juga sempat mencoba untuk memejam mata, tapi tidak jadi, karena ada sebuah paper yang harus ku submit pagi ini. Jadi, waktu transit yang hampir 13 kuhabiskan untuk menulis, menulis dan menulis, dan akhirnya papernya pun jadi dan sudah ku kirim via email tadi pagi.

Dan kembali mencari kursi dekat dengan mbak-mbak TKI. Aku lihat mereka, wajahnya polos sekali, pakainnya biasa saja, raut wajahnya kebanyakan sudah berusia hampir tua (susah kan pahamnya?) pakainnya pun tampak apa adanya, bahkan bisa kubilang tidak modis sama sekali. Ya merekalah para TKI.

Dibalik keluguan dan Ndesonya, kulihat mereka ceria sekali, sesekali tawa lepas terdengar keras dari kumpulan mereka, ada saja yang meraka ceritakan, mulai kisah kerja hingga keluarga di kampungya. Mbak mbak yang tampak lugu justru tampak agresif ketika bercerita. Gosip sana sini berjalan lancar bak autobahn di negeri jerman, sangat lancar tanpa henti. Meilhat lancarnya mereka berdiskusi, aku merasa cemburu, seandainya aku bisa menulis paper selancara mereka bergosip, maka kuliahku akan selesai dalam enam bulan. Sebuah desertasi.

Kegaduhan masih berlanjut saat gate masuk kepesawat di buka, mereka langsung berlarian, menuju pintu, hingga si penjaga kaget dan kewalahan, awalnya sama sekali tidak antri, tapi entah bagaimana akhirnya sebuah barisan berbaris baris (masih tetap bergorobol, tapi sediit memanjang) terbentuk, mereka tampak masih saling dorong, dalam hati saya pikir “ka hawa that ek kapai”. Gerombolan diikuti geobolan selanjutnya, desak-desakan masih tampak, kawan mereka yang lain yang ingin ke antrian sempat ku ingatkan, “santai aja mbak, pesawat gk akan berangkat kalau mbak belum masuk, gak usah buru-buru” aku hanya dibalas dengan senyum, hanya sebagian kecil yang masih memilih untuk duduk. Beberapa menit kumudian mulai tampak para bule yang antri, seperti biasa, mereka jaga jarak, justru kelonggaran ini dimanfaatkan oleh TKI lain, lansung masuk ke depan pak bulek, kudengar dia berceloteh dalam bahasa jerman, tidak setuju dengan sikap potong antri ini, ingin aku jelaskan ke herr yang botak itu, tapi aku ini siapa?

Setelah antrian makin panjang, aku lihat ada yang berlarian, ada mbak2 yang tadinya duduk di tempat lain kini tampak ketakutan, langsung kedepan, karena kawannya sudah dalam pesawat? Ingin kutenangkan sekali lagi, tapi larinya lebih cepat dari kecepatanku untuk befikir, luar biasa mbak ini.

Yang masih duduk di sekitarku aku ajak ngomong, tanya asal mereka, dan berapa lama meraka sudah kerja, mereka tampak senang menceritakan tentang kisahnya, aku hanya tersenyum, mengangguk kecil, entah apa saja ceritanya. Tapi setidaknya aku bisa menangkap satu hal, bahwa mereka bahagia karena akan bertemu dengan keluarga, membangun rumah dengan uang yang dibawanya dan ada yang mau kawen juga katanya..

Senyum iklas mereka membuatku berpikir, apakah mereka pernah merasa membangun negara dengan uang yang mereka bawa pulang? Kita sering menyebut mereka sebagai pahlawan devisa, tapi apakah mbak ini sadar akan hal itu? Aku malah tidak yakin jika mereka mngerti maksud kata devisa?

Setelah antrian hampir habis, aku gunakan kesempatan untuk mengecek lagi apa yang sudah kutulis, dan kututup tulisan ini dengan lagunya TAL “le sens de la vie”.

Sedikit lagi, saat boarding pass aku di cek, kulihat petugas nya berwajah asia negara tetangga dengan nama khas philiphina, sekali lagi aku berhayal, seandainya mbak2 tadi bisa bahasa inggris, maka mereka tidak akan jadi PRT, tapi mungkin kerja di emirates sebagai pengecek boarsing pass, seperti mbak filiphina ini, namun, jika itu terjadi maka tak akan ada acara dorong-dorang dan potong antri, dan tak akan ada juga tulisan ini.

Kini bait lagu berubah menjadi “Why do you cry in in the morning…..VH? “carry on”

Dubai airport jam 11 lewat 11 pagi, Senin 13 august 2012.
Möersalin

One thought on “Ketika para TKI mudik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s