Alasan kenapa merokok dapat membatalkan puasa!

“Coba kau liat lah sebentar, aku gak tau dari mana dasar hukumnya” pinta kawan lewat pesan pendek sebuah jejaring sosial,
“bentar, pokoknya aku ingat, itu awalnya tidak membatalkan puasa, tapi belakangan baru (batal)” balasku.
“lon preh beh!” (saya tunggu ya!) titah kawan sekali lagi, yang memaksaku harus berganti topik dalam sekejap. Jika sebelumnya aku sedang membaca tentang online gaming, internet addict, social phobia dan depresi serta gejala somatisnya, yang baru saja dikirim oleh seorang peneliti dari taiwan ke emailku, kini aku harus membaca-baca kitab kuning gundul bertulisan arab jawi bertemakan hukum fiqah. Demi permintaan kawan, harus kulakukan.

Laptop kutinggalkan sebentar, beralih kepada lemari dimana buku-buku lama kusimpan, termasuk kitab-kitab kuning tadi. Tidak terlalu sulit untuk menemukannya memang, karena ukurannya yang lebih besar dari yang lain, serta tulisan bahasa arab jawi yang terdapat pada kulitnya, membuatku mudah untuk menemukannnya.

Kitab yang lebih dari setahun tak pernah kubuka kini berada dalam pangkuanku, mencoba melihat daftar isi di halaman belakang, aku mengincar bab puasa atau “babus shaum”, seperti permintaan kawan, untuk melihat alasan dasar kenapa merokok dapat membatalkan puasa.

Aku ingat persis bahwa masalah ini pernah ku dengar dari teungku rangkang saat mengkaji tentang masalah ini, tapi itu hampir 10 tahun yang lalu, wajar sangat jika aku lupa, bukannkah “aafatul ilmu nisyan”? Atau bencanda dari ilmu adalah lupa? Tapi membacanya lagi juga akan kembali merefresh memori? Belum lagi ini bulan puasa? Mengkaji agama kan juga berpahala?

Kubuka halaman itu satu persatu, sepuluh menit berlalu, tidak kutemukan bab yang membahas tentang hal tersebut. Adik perempuanku yang kebetulan lewat di depan kamarku kupanggil, aku tahu bahwa dia juga memperlajari akan hal ini, kumintakan ke dia untuk mencari hal yang sedang ku cari, hanya jawaban “kamoe ken kitab nyan meu beut, kitab sirus” jawabnya singkat.

Kupaksa dia untuk mengambil kitabnya dan juga mencari hal yang sedang aku cari, sejurus kemudian dia sudah di sampingku, dengan kitab yang berbahasa itu arab tentunya.
“kamoe golom trok bak bab puasa kitab nyoe” (kami belum sampai membahas masalah puasa dalam kitab ini). Aku diam, tidak menajawab tapi terus membaca masalah demi masalah yang semuanya tertulis dalam satu paragraf. Dia akhirnya menutup kitabnya dan ikut halaman-halaman yang sedang kubuka.

“nyan ken? (itu kan?) tiba-tiba dia menunjuk ke halaman kitab di tanganku
“di pat”? ( yang mana?) tanyaku
“nyoe, ci baca” (ini coba baca) katanya sambil menunjuk ke sebuah baris di halaman itu,

Selanjutnya aku sibuk membaca baris yang baru saja dia tunjuk, dan memang, bahagian inilah yang sedari tadi kucari. Selesai membaca, kuminta adikku membaca sekali lagi dengan suara keras, sehingga aku bisa memahaminya lebih baik, maklum, bahasa melayu kuno ini jauh berbeda dengan bahasa indon-4L4Y atau bahasa indo-jakarte yang sering kita gunankan akhir-akhir ini. Salah memahami berarti salah semua, mana tidak ada titik koma nya lagi😀

Berikut pembahasannya:

(dan demikian lagi) tiada batal puasa sebab mencium bunga-bungaan atau asap setanggi (sejenis tumbuhan?) atau barang sebagainya dan jika sampai bau dan asap itu kedalam otaknya atau kedalam perutnya sekalipun karna bau asap itu atsar jua bukan ain pada ‘araf (kata) syeih sibrar malisy diambil daripada yang demikian itu bahwasanya tiada batal puasa dengan mengisap asap tembakau karna asap tembakau itu atsar juwa bukan ain ‘araf seperti asap setanggi juwa (dan adalah) syeih zayadi berfatwa ia dengan yang demikian itu pada mula2 kemudian dibawa ia oleh setengah daripada segala murid syeih akan buluh pengudut tembakau (maksudnya pipa untuk menghisap tembakau) maka dipecahnya akan dia dihadapan syeih itu dan diperlihatnya akan dia ain yang beku didalam buluh dari pada bekas asap tembakau serta katanya baginya inilah ain bukan atsar maka rujuklah syeih itu daripada fatwa yang dahulu lalu berkata ia manakala adalah asap tembakau itu ain batallah puasa menghisap dia…….

(sumber: sabilal mubtadin, karangan Syeih Muhammad Arsyad Al banjari)

Begitulah kisah asal muasal bagaimana asap tebakau atau merokok bisa membatalkan puasa. Secara ringkas, saya coba perjelas, bahwa pada awalnya para ulama menganggap bahwa mengirup asap rokok sama dengan mencium bau bunga, dan bau itu di anggap sebagai atsar (bekas atau bukan benda), sehingga tidak membatalkan puasa. Baru belakangan murid syekh zayadi memperlihatkan alat penghisap tembakau (saya juga tidak tahu sebutannya, secara saya bukan perokok), bahwa di dalam pipa tersebut ketika di belah ditemukan kerak yang mengeras yang merupakan ain (benda) yang terbentuk karena asap. Sejak saat itu syeik ini merujuk kembali fatwa lama dan mengeluarkan fatwa barunya bahwa mengisap tembakau atau merokok dapat membatalkan puasa karena asap yang dihisap tersebut pada nyatanya adalah sebuah benda (ain).
Fatwa ini selanjutnya juga diikuti oleh ulama-ulama lain seperti syeih zaifi, syeih ibnu hajar, syeih barmawi dll, termasuk pejelasan mengenai batas rongga tubuh mana jika asap masuk maka dapat membatalkan puasa.

Sekian, semoga dapat diambil pelajarannya.
Moersalin

Seulimeum 28 Ramadhan 1433 H

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s