Christiania; Negeri “Bakong Atjeh”

Suatu siang, di kampus universitas kopenhagen, Denmark.

“You must go there, it is a must“ begitu seorang kawan asal meksiko berpesan kepadaku. Dia sendiri mengaku telah berkunjung kesana dengan istrinya. Kata-kata must tersebut membuatku penasaran, kucoba tanya ke dia apa spesialnya, dia hanya menjawab, “datang saja sendiri, nanti kamu akan tahu apa spesialnya tempat itu. Penasaran tersebut kupendam hingga seminggu, walau aku bisa bertanya sama om bing, tapi kubiarkan saja penasaran itu berlangsung lama, awet muda.

Sabtu pagi tadi, aku sudah siap dengan perlengkapan huntingku. Malmö – Swedia, kota tempa bang him (Zlatan ibrahimovic) berasal merupakan tujuan perjalananku hari ini. Sebuah brosur berbahasa Denmark dalam genggaman, info tiket bus murah antara kopenhagen dan malmö ada disana, tapi tidak seluruhnya kumengerti. Aku mendekat ke meja resepsionis hostel tempat ku menginap, brosur itu kutunjukkan ke dia, sambil bertanya, kalau mau menýeberang ke malmö sana, halte bus mana yang paling dekat? Dia melihat sekilas, “ini yang paling dekat, tapi kamu tidak bakalan mengejarnya, karena busnya akan segara berangkat“, katanya memastikan sambil melihat jam di dinding. “bus selanjutnya ada sekitar jam 1 atau jam 2, sudah agak telat“, terangnya lagi. Tapi kamu bisa naik kereta api, harganya juga tidak terlalu beda.

Aku menghela nafas, belum bisa memutuskan, walau sebenarnya bisa saja aku naik kereta kesana, tapi sebagai penggemar moto panyang, aku selalu memilih bus, biar lebih lama, tapi lebih murah, dan lebih bisa melihat banyak hal.

“Bagaimana kalau ke Christiania“? Tanyaku ke dia sesaat kemudian.
“You must go there“, sekali lagi kata penekanan membuat penasaran semingguku kambuh. “ok, tapi bagaimana aku bisa kesana, mungkin aku ke Malmö minggu depan saja“ kataku
Dia selanjutnya mengambil peta dan menunjukkan tempatnya kepadaku, sambil berpasan agar tidak membawa kamera, karena mereka tak akan mengizinkan foto disana, dia bernasehat sambil melirik ke DSLR-ku.

Penasaran ingin kutanya kenapa, tapi kudiamkan saja. Sambil mengucapkan terima kasih, aku kembali ke sofa merah yang ada di depan resepsionis itu, mencoba mencari info sedikit lagi tentang Christiania dengan hapeku.

Dengan bantuan GPS, aku tahu kalau jaraknya cuma 3,8 Km dari tempat ku berada, dan aku bisa jalan kaki atau naik bus. Jalan kaki membutuhkan waktu sekitar 45 menit. Info tempat dan waktu tempuh kini ada dalam hapeku, tapi batrenya sudah melemah, aku baru sadar, dari kemarin belum ku cas.

Kini aku memutuskan untuk membatalkan wet wet ke Malmö, tapi memutuskan ke Christiania, toh minggu depan masih bisa ke Malmö, sambil melihat orang Swedia nonton bola piala Eropa bareng di tempat umum, begitu pikirku.

Batre hape ku cas, laptop kubuka, walau bosan dan tidak konsen, paragraf paper yang masih belum setengahnya kutulis ku cek lagi satu per satu, sambil menunggu batre penuh.

Jam satu lewat beberapa menit, aku sudah siap berangkat, GPS di hape kuhidupkan, biar hobi lamaku “tersesat“ tidak kambuh lagi. Tas ransel dan kamera kuputuskan untuk tidak kubawa, “ba droe tok“, begitu nyanyakku sering menyebut. Sambil menunggu konnek, beberapa komentar google user yang pernah kesana kubaca, “BEVAR CHRISTIANIA“; “Don’t miss this place when you visit Copenhagen, it’s a must”, sebagian komentar berbahasa inggris, komen berbahasa planet lain kulewatkan saja.

Setelah rutenya ketemu, akupun melangkah, melewati jalan Vesterbrogade, kemudian belok kanan ke jalan H.C Andersens Beulevards, disini aku kembali melewati taman dimana aku melihat pasien jiwa melakukan demo damai kemarin (baca: Kampanye ala pasien RSJ di Denmark), tapi kali ini tampak lebih ramai, sebuah panggung besar juga ada disana, beberapa petugas berwajah Turki juga sedang melakukan sound check, musik berirama Turki dari sound system mengalahkan bunyi lagu “kepiting laut” di headset telingaku, beberapa toko payung kecil juga berdiri melingkar di tepi hall tersebut, menjajakan makanan serba manis ala negeri Hakan Sukur. Bagiku yang menarik bukan makanannya, tapi para dara penjualnya, manisnya luar biasa, menggoda mata untuk selalu memandang (astagfirulah…ingat…:D)

Tidak berlama lama di kerumunan warga imigran Muslim ini, aku melanjutkan perjalanan, menyusuri pesedestrian di samping jalan terkenal ini. Kemudian berbelok ke Ny Kongensgade, Princens Bro, Tojhusgade, Rigsdargarden, Borsgade, Knippelsbro, dan jalan jalan lain yang menyebutnya aku susah. Singkat cerita, setelah di Pusher street, sampailah aku di depan pigura dengan tulisan CHRISTIANIA.

Baru beberapa langkah masuk kedalam, aroma khas yang sangat familiar menusuk hidungku yang mancungnya pas pasan, BAU GANJA; sebuah aroma yang sangat sensitif buat orang Aceh. Dan benar saja, ketika masuk sedikit lebih kedalam, awalya aku menemukan beberapa toko payung yang menjual pernah pernik khas Christiania, tapi didalamnya rupaya penuh toko payung penjual ganja. Sambil jalan kulihat berbagai jenis dan bentuk daun ganja dijual disana, ada yang masih baru dipetik, hijau, tapi ada juga yang sudah kering. Aku coba mencari biji ganja, tapi tidak ketemu, alhamndulillah😀.

Aku terus melangkah kedalam, melewati toko-toko kecil yang umumnya menjual cimenk ini, kemudian sebuah bar pub besar, orang-orang kebanyakan duduk di luar, masing-masing botol bir di atas meja dan balutan ganja di tangan mereka. Sebagian mereka kulihat kesusahan menyalakan rokok pembawa nikmat ini, aku yakin, kalau ada kawanku si ahli bakong atjeh ini disini, dia pasti berkomentar “hana carong di balot, atau “bakongnya kualitas rendahan, taloo ngen produk tanyoe :D”, hehe.

Dari bar ini, aku menuju ke bukit yang ada di belakangnya, lagi-lagi kutemukan orang yang sedang fly dengan bakong ini, sambil melihat ke danau di depannya, kulihat sebagian mereka sedang membalut, sebagian sedang menghisap, sebagian lagi sudah terlanjut fly duluan. Sepasang manusia sedang romantis-romanstinya, mungkin sedang bulan madu, membalut bakong hijau ini, tapi kulihat mereka tak seahli kawan-kawan di kampoeng dulu.

Aku terus melangkah pelan, seorang gadis berjaket merah sedang menikmati ganja juga, beberapa metar ada seorang pria, juga sedang fly, plus botol bir di depannya. Aku duduk diantara mereka, masing-masing sekitar 4 meter dariku, dengan ini bisa kulihat jelas prilaku mereka.

Si laki-laki tampaknya sudah benar-benar teler, kepalanya tertunduk, hanya sanggup mengangkat saat akan menghisap, sedangkan si cewek tampak masih baru memulai. Aku lihat wajahnya, cukup manis, bahkan mengalahkan penyanyi dadakan yang suka mencari alamat palsu, rambutnya tampak beratakan, begitu juga pakaiannya, padahal kukira, aslinya cukup cantik, sayang sinyak dara di jak beuh beuh droe, begitu aku berkesimpulan.

Tidak berlama-lama disana, aku kembali melangkah, menuruni bukit dari sisi yang lain, dari sini aku bisa melihat hampir seluruh area kecil yang di sebut Christiania ini.

Sekilas tentang christiania

Freetown Christiania atau Fristaden Christiania merupakan micronation yang berada di Copenhagen, Denmark dengan jumlah penduduk sekitar 1000 orang. Komunitas ini terbentuk sejak tahun 1971 dilengkapi dengan bendera, lagu kebangsaan (athem) dan mata uangnya sendiri. Walau wilayahnya hanya seluas sekitar 34 hektar, namun negara kecil ini cukup menarik, karena selain menjadi salah satu destinasi turis di Kopenhagen, mereka juga punya peraturan sendiri yang terpisah dari peraturan di Denmark.

Sejarah Christiania berawal dari tahun 1682 saat raja Christian IV menjadikan daerah itu sebagai daerah pertahanan dengan barak-barak militernya saat mereka berpeang dengan swedia pada tahun-tahun tersebut. Barak militer Badsmandsstraede merupakan bagian dari kota ramparts pada tahun 1967 hingga 1971 sempat terbengkalai setelah ditinggalkan militer Denmark, namum ada beberapa penjaga yang tinggal hingga pada tanggal 4 september 1971 penduduk sekitar daerah tersebut mengambil alih sebagai tempat main anak-anak mereka. Baru tanggal 26 september 1971 christiania di deklarasikan secara terbuka oleh Jacob Ludvigsen, sorang jurnalis pada koran Hovedbladet yang kebanyakan pembelinya adalah anak anak muda menulis arikel dengan tajuk “civilians conquered the ‘forbidden city’ of the military”. Dalam tulisan ini ia menyerankan untuk mebentuk sebuah komitas sendiri, peraturan sendiri dan sebagainya. Tulisan tersebut dianggap sebagai awal terbentuknya komunitas micrionation ini.

Terlepas kisah kontroversi tentang Christiania, disana juga terdapat peninggalan sejarah, yang tidak ada di tempat lain di dunia. Sistem pertahanan perang abad 17-an misalnya masih bisa di jumpai disana. Bangunan-bangunan unik bin nyeleneh juga bisa di jumpai disana, rumah kaca misalnya, dikenal sebagai bangunan tanpa arsitek karena bentuknya yang memang asal asalan.

Dengan bisnis ganja yang mereka jalankan, beberapa kasus kekerasan juga pernah di hubungkan dengan micronation ini. Begitu juga dengan protes dari pihak pemerintah. Yang paling heboh mungkin beberapa tahun lalu ketika polisi Denmark memaksa masuk ke daerah ini dan mendapatkan perlawanan ketat dari penduduk setempat. kisah kisah menarik lain tentang christiania sudah banyak di bukukan.

&&&&

Turun dari bukit, aku masih sempat berkeliling ke daerah perumahan penduduknya, kulihat anak kecil di dalam rumah sedang disuapi makan oleh ibunya, sedangkan seorang laki-laki, yang mungkin ayah anak tersebut, sedang membuat perabotan di ruang sebelahnya.

Di bagian jalan yang lain, kutemui seorang orang tua yang sedang berjualan pohon-pohon ganja kecil setinggi 7-10 meter dalam pot dengan sepeda barangnya. Aku lihat dia menjelaskan cara menanam dan merawat pohon ganja tersebut, dan pada usia berapa bisa di panen, aku tersenyum sendiri, teringat kawanku yang kalau dia ada disitu pasti akan berkata “nyan ilme kana lam ulee lon, hana payah peurunoe lee..hehe”.
Beberapa orang duduk di dekat si kakek tadi sambil menghisap ganja dan minum bir seperti orang-orang lain, namun yang menarik adalah ada anak kecil yang ikut dibawa mereka. Aku perhatikan dengan seksama, memastikan apa mereka ikut memberikan ganja untuk balita2nya tersebut? Rupanya hanya kue yang mereka berikan, sedangkan kedua ortunya sibuk menjadi ahli minum dan ahli hisab.

Puas berkeliling dan terus terusan terhisap asap ganja, aku mulai merasa pusing, sehingga aku putuskan untuk keluar dari sana. Di jalan yang sama dimana aku masuk, kembali aku lihat papan yang menulis larangan untuk berlari dan memotret, sedangkan di dinding bangunan disampingnya tertulis “welcome to green light district”, dan kini aku sudah paham maksud dari green ini.

Melangkah keluar, aku sempat tertarik dengan pernak pernik yang di jual di pinggir jalan kecil tersebut, namun, melihat harganya yang kurang bersahabat, aku memutuskan untuk tidak membeli apapun.
Sambil mengayunkan langkah menjauhi negeri kecil ini, aku kini makin paham, kenapa kawan dari meksiko mengatakan “a must for you to visit this place”, karena dia tahu aku orang Aceh, dan Christiania adalah negeri bakong atjeh.😀

Copenhagen, 2 Juni 2012

2 thoughts on “Christiania; Negeri “Bakong Atjeh”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s