Kampanye ala Pasien RSJ di Denmark

Nasi dalam china box ditanganku masih setengahnya kumakan, hawa dingin membuat badanku bergetar, mencoba mengimbangi panas tubuh yang hilang akibat tiupan angin. Nasi yang sedang didalam mulut segera kutelan.
Taman di tepi jalan Hans Christian Andersen sore itu tampak ramai, seperti biasa, juma’at malam menjelang weekend. Tampak orang baru pulang kerja, masih dengan setelah jas nya, sebagian berbalut jaket tebal, sebagian berbaju kasual, tapi tak kutemui orang berbaju dinas layaknya pegawai di kampungku, dinas apaupun itu. Beberapa gerombolan anak muda tertawa girang, botol botoh calsberg hijau bergantung di tangan mereka. Sepertinya mereka akan menikmati malam sabtu yang pendek. (malamnya cuma 6 jam, dr jam 10 hingga jam 4 pagi)

Di tengah hall antara jalan HC Anderson avenue dan pusat pembelanjaan, sebuah panggung kecil berdiri disana, seorang bapak tua sedang berdendang dengan gitar kapok nya, sendiri, tanpa musisi pengiring. Walau bahasanya tak aku pahami, aku tebak itu bahasa Denmark, dan walau tak satupun kata-katanya ku mengerti, harus aku akui suaranya cukup bagus, seirama dengan petikan gitarnya.

Di depan pangung, hanya beberapa orang yang menonton, orang orang yang kebetulan lewat sepertiku.
Tidak jauh dari panggung, beberapa buah palang berbentuk salib bertuliskan psykiatri tertulis diiatasnya. Bunga-bunga segar dan beberapa tas plastik juga tergeletak disekitarnya. Seorang pria sedang sibuk menggabungkan beberapa brosur berbeda yang umumnya berwarna orange menjadi satu, dijilid dengan tutup polpen manis yang juga berwarna orange. sambil berobservasi, aku sibuk dengan makan pagi-siang-malamku.

Beberapa orang yang dekat dengan panggung kulihat ikut bergoyang sesuai dengan petikan gitar yang kini berirama country. Sedangkan wanita yang berdiri di sampingku kini sibuk membagikan gumpalan kertas yang disatukan kawannya tadi, aku menebak, mereka sedang kampanye sesuatu

Karena cuma satu kata yang ku mengerti, Psikiatri, membuatku penasaran sehingga mencoba menghabiskan makanan di kotak sesegera mungkin. Setelah semuanya berpindah kedalam perutku, aku melangkah menuju tong sampah yang memang tidak jauh dari situ, membuang bungkusannya dan kembali mendekat ke lelaki yang kini sibuk menyatukan brosur dari tas yang lain.

Ketika aku mendekat dan ingin bertanya, tiba tiba dia langsung menyodorkan kumpulan kertas dan pulpen orange cantik kepadaku, kubatalkan niat bertanyaku, mencoba membaca dulu info yang ada di kertas tadi, tapi semua berbahasa Denmark, tak ada satupun kata yang ku mengerti.

Aku kembali mendekat ke lelaki tadi, membungkuk dan kini bertanya lebih keras, „kamu bisa bahasa inggris“, dia mengangguk, sambil bertanya mau tau apa. Kujelaskan bahwa aku tak mengerti satupun yang tertulis disitu. Dia tersenyum, dan dengan bahasa inggris yang patah patah, dia menjelaskan bawah mereka sedang menuntut agar tidak di paksa untuk minum obat depresi berlebihan. Setelah beberapa kalimat keluar dari mulut dia, aku sadar bahwa kini aku berbicara dengan orang yang biasa aku anggap pasien di rumah sakit jiwa. Gayanya sama persis seperti pasien-pasienku di Banda Aceh. Tapi lebih rapi dan lebih teratur tentunya.

Aku ikutan duduk bersila, seperti dia, biar aku lebih bisa memahami penjelasannya yang putus putus itu.

Setelah lebih 5 menit angguk angguk, kini aku paham, apa yang mereka lakukan disana; rupanya mereka adalah kumpulan pasien jiwa yang menolak untuk dipaksa minum obat, karena menurut mereka obat tertentu yang dipaksa minum tersebut berdampak buruk buat mereka. Dia menunjukkan perusahaan farmasi yang memproduksi obat tersebut, dan semua nama obat paten beserta efeknya masing masing, dia juga menjelaskan efek jangka panjang dari obat yang di berikan kepada mereka, mencotohkan dirinya yang mulai kegemukan setelah minum salah satu jenis obat, dan masalah yang kawannya yang kebetulan berada dekat dengan kami karena minum obat lainnya. Melalui kegiatan ini, mereka mencoba memberi tahu masyarakat umum bahwa ada penyalahgunaan pemberian obat di Denmark.

selain berbicara tentang tuntuna mereka, dia juga memberikan kuliah gratis tentang prevalensi dan penatalaksanaan gangguan jiwa di negaranya tersebut. Menurut dia, angka depresi cukup tinggi di Denmark, dan orang selalu diberikan anti depresi setiap kali melakukan konsultasi dengan dokter, suatu pemberian yang menurutnya berlebihan. Makanya mereka menuntut agar diperlakukan sama dengan orang sakit yang lain, yang memperoleh pengobatan berdasarkan apa yang mereka butuh, tidak berlelihan. “ini hak kami untuk minum apa yang kami mau, inilah negara demokrasi“ kata dia tersenyum.

Kali ini aku berpaling ke panggung, pak tua dengan gitarnya kini berdandung lagu yang sedikit sendu, penonton yang ternyata kebanyakan mantan pasien rumah sakit jiwa, kini ikut bernyanyi, diiringi petikan gitar pak tua diatas panggung.

“kamu dari mana?“ kini giliran dia bertanya padaku,
“Indonesia“ jawabku singkat
“Jakarta?“
“bukan, dari Aceh, ingat tsunami 2004?“
“oh ya. Ya ya.. aku ingat, jadi kamu selamat dari air itu?“
“ya“, jawabku lagi,
“berapa orang meninggal di tempat kamu?”
Aku tidak ingat berapa jumlah pasti, jadi kujawab saja “ratusan ribu“..
“wah…banyak ya?“…

Selanjutnya dia bertanya tujuanku ke Denmark dan berapa lama disini, aku jawab seadanya, bahwa aku ada perlu di universitas kobenhvn dan hanya sebentar di kota ini, sekaligus menjelaskan bahwa di kampung, aku juga kerja untuk orang seperti mereka, makanya aku tertarik ketika membaca tulisan psikiatri tadi.

Mengetahui hal ini, dia makin semangat bercerita, dan diskusi kami ngelantur entah kemana, yang pasti, kali ini aku sama sekali tidak menggunakanm tehnik komunikasi terapetik seperti yang biasa kami lakukan saat berhadapan dengan pasien, kerana memang dia telah terlanjur kuanggap orang biasa, (dan memang mereka orang biasa, hanya kadang2 terlanjur di cap orang gila), dan dia memang seperti orang umum biasanya.

“ditempatmu tidak banyak orang seperti kami kan? (gangguan jiwa, maksudnya), tanya dia sekali waktu,
aku berhenti sebentar, menarik nafas, mencoba memberikan jawaban yan mudah mudahan tepat. Dan kukatakan bahwa “menurut laporan, memang persentasenya lebih rendah dari pada Denmark, tapi itu hanya laporan proyeksi, angka pasti tak pernah ada yang tau, tidak seperti disini dimana setiap orang punya registrasinya (in fact, Denmark adalah salah satu negara dengan sistem registrasi terlengkap di dunia, sehingga banyak sekali uji cohort yang gak mungkin dilakukan dinegara lain, bisa dilakukan di negara 4,8 juta penduduk ini). Aku katakan ke dia bahwa banyak sekali orang di kampungku yang tak pernah di diagnosa, ketemu dokter aja gk pernah, apalagi minum obat, dan orang yang seharusnya berobat tapi tak punya kesempatan ini berjumlah hingga 70-80%, dalam artian, cuma 20-30 yang berobat, sisanya sembuh sendiri, begitu saja atau malah bertambah parah.

Melihat aku berbicara statistik, dia kembali tersenyum, sambil terus bertanya, kenapa mereka tidak minum obat, kujawab bahwa faktornya banyak, diantara yang sering adalah salah persepsi tentang tentang penyebab gangguan jiwa, stigma, dan kemiskinan. Dia mengangguk, dan aku melanjutkan ceramahku. Kukatakan padanya bahwa kita berada di situasi berbeda, disini kalian menuntut agar obat yang diberikan tidak berlebihan, sedangkan kami disana berjuang bagaimana orang yang tidak pernah berobat sama sekali agar bisa berobat, dan obatnya bisa selalu tersedia (secara gratis) untuk mereka.

Kumpulan kertas di depannya tiba-tiba tertiup angin, sebuah kata mutiara tentang benda dalam celana keluar dari mulutnya, tapi dia tersenyum. Aku coba raih beberapa lembaran yang terbang ke sampingku, kukembalikan ke pada dia, sorang teman dia juga mendekat dan membantu mengunmpulkan kertas kertas yang berterbangan.

Kami melanjutkan diskusi.

“Kalau pasien di rumah sakit, apa kalian paksa minum obat?” tanya dia lagi
No, tapi kami obati dengan cara yang sesuai (properly), jawabku singkat dan ragu, dikepala aku berfikir, apakah selama ini kami pernah memaksa pasien minum obat? Dan apa maksud dari properly yang kukatakan tadi, tapi tampaknya dia menerima jawabanku.

Seorang temannya mendekat, dari jauh kulihat biasa saja, baru setelah begitu dekat aku bisa melihat gejala fisik yang di munculkan, afeknya tampak sedikit datar. Selanjtnya mereka berbicara bahasa Denmark, entah apa yang mereka bicarakan, tapi tampaknya memperkenalkan aku kekawannya, karena kudengan kata Aceh, tsunami dan psikiatri keluar dari mulutnya, si kawan tadi juga tampak tersenyum, tapi tak ada ajakan untuk berjabat tangan, akupun terdiam, membalas senyumnya.

Setelah kawannya pergi, akupun pamit pada si orang yang lupa aku tanyakan siapa namannya tadi. Kertas yang dia berikan tadi, dan pulpen orang manis kumasukkan kedalam tas. Akun puas, sebuah ilmu dan informasi baru kudapatkan di jalanan. Produktivitasku bertambah hari ini.

Sambil berjalan pulang, aku coba melamun, membayangkan lagi hasil wawancara singkat tadi, dan juga melihat langsung aksi demonstasi damai mereka, aku terbayang, seandainya pasien pasien jiwa dinegeriku bisa menuntut haknya seperti yang mereka lakukan di Denmark ini, niscaya tugas kami para babu kesehatan jiwa tak akan seberat ini. Melawan ketidak adilan untuk mereka yang termarjinalkan, untuk mereka yang katanya kesejahterannya ditanggung negara, kesejahteraan yang hanya tertulis di UUD 45.

Moersalijn,
Copenhagen, 1 Juni 2012

4 thoughts on “Kampanye ala Pasien RSJ di Denmark

  1. Apa anda sdh pernah melakukan kampanye seperti di Denmark itu? Sekali-kali lakukan dong di negara sendiri…..jangan cuma nulis aja. Kalo bs nulis jg artikel tentang keluhan2 pengobatan orang sakit jiwa, siapa tau tulisan anda di respon oleh pemerintah Indonesia, ok? Good job…….

  2. Pingback: Christiania; Negeri “Bakong Atjeh” | Moersalins and his world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s