Menyisir Eropa dengan „Moto Panyang“

Jam 22.00 lewat beberapa menit, aku baru saja selesai memasukkan pakaian kedalam ranselku, laptop, buku & alat tulis serta buku bacaan juga aku sertakan. Aku pastikan tidak ada barang-barang kecil tapi penting yang tertinggal; pasport, tiket dan beberapa makanan ringan juga sedah bergabung bersama pakaian kedalam ransel tadi, hanya kamera yang tidak muat, ah seperti biasa, bisa ku jinjing.

DSC_0386Selanjutnya kakiku kupakaikan sepatu, tubuh kebalut dengan jaket hitam, tak lupa topi kain kupakaian untuk membungkus rambut di kepalaku. Siap berangkat.

Aku berjalan lunglai menyusuri jalan di ibukota jerman ini. Tidak seperti hari biasa, Berlin malam ini mulai sepi, weekend. Ditengah jalan aku berhenti di depan toko kebab langganan, dari luar aku bisa pastikan bahan untuk doner masih ada, dan langsung saja kupesan „ein doner bitte“.

Si penjual yang berwajah turki kini sibuk mempersiapkan pesananku, daging ayam itu gulungan itu di dekatkan kembali ke api panggangan, sambil menunggu daging itu matang, dia menyiapkan mie goreng ala china „nuddle box“ untuk pembeli lain yang berdiri di sampingku. Beberapa saat kemudian, uang 2.5 euro dari kantongku berpindah tangan, berganti sebuah doner kebab berbungkus kertas aluminium berada dalam genggamanku. Tak lupa dia mengucapkan selamat makan dan Tschuss….aku beranjak dari sana.

Kembali ke pedestrian yang membawaku ke stasiun S-bahn, aku sebenarnya bisa saja naik bus yang di halte jalan itu, hanya saja harus menunggu sekitar 15 menit, maklum saja, sekarang weekend dan sudah malam, bus mulai jarang, padahal biasanya setiap 5 menit pasti ada bus yang lewat. Aku putuskan jalan kaki, toh tidak terlalu jauh. Setelah menghabiskan waktu berjalan sambil menghayal selama 15 menit, aku tiba di stasiun s-bahn. Tas ransel kuletakkan diatas kursi hijau dari besi, tas kamera di sampingnya. Selanjutnya aku ke mesin tiket, dan kini godaan mulai berbisik di kepalaku, „ngapain pula beli tiket? Toh ini malam senin, tak akan ada pemeriksaan!“ begitu bisik setan sebelah kiriku, aku hampir setuju, karena memang aku yakin tak akan ada pemeriksaan malam itu, tapi aku ingat kata2 kawan yang orang aseli jerman, „kita bayar tiket bukan karena takut pemeriksaan, dan kalau ketangkap harus bayar 50 euro, tapi kita bayar karena menggunakan fasilitas“, pesan paling jujur yang pernah aku. Susah memang untuk menjadi orang jujur.

DSC_0501Aku masukkan uang 2.50 euro kedalam mesin tersebut, sejurus kemudian, sebuah lembaran tiket kecil jatuh ke loci di bawahnya, beserta kembalian 20 euro cent. Tiket dan kembalian tersebut kuambil, selanjurnya mendekati mesin validasi yang ada disampingnya. Setelah sekali „jeglek“, aku secara hukum dinyatakan sah dan layak untuk menggunakan fasilatas transportasi umum, apapun itu, mulai dari s-bahn, u bahn, bus, hingga tram yang ada di berlin selama 3 jam kedepan. Walau aku hanya butuh untuk kurang dari 10 menit, hanya butuh s bahn yang membawaku ke ZOB am Funkturm atau stasiun bus utama kota berlin, tapi itulah harga yang harus aku bayarkan, sekitar 30 ribu rupiah.

Tiba di terminal, suasana juga sepi, hanya ada 2 bus disana, satunya aku tidak lihat jurusan kemana, sedangkan satunya lagi bus dari praha, yang malam itu akan membawaku ke kopenhagen. Beberapa calon penumpang sedang antri di depan pintu depan bus. Sebagian sedang memasukkan barang bawaannya kedalam bagasi, semuanya dilakukan sendiri, tidak ada kenet apalagi harlan. Tiket juga cuma di cek oleh pak sopir sendiri, nama di cocokkan dengan print out yang ada sama mereka, kemudian terserah kita mau duduk dimana, tidak ada ada nomor kursi dalam tiket, kalah keren dari pada bus PMTOH.

Disaat orang memilih antri, aku memilih santai, toh masuk awal atau belakangan juga sama saja, kursinya pasti ada, bedanya mungkin karena mereka ingin duduk di kursi tertentu, yang di depan, dekat jendela dan ada colokan listriknya misalnya, sedang aku terserah mau dapat tempat duduk dimana saja, asal lam moto panyang.

Di tiket bus yang ku booking dan bayar secara online tersebut tertulis bahwa perjalanan antara dua ibukota negara eropa ini akan memakan waktu sekitar 7 jam 30 menit, berangkat jam 23.00 dan tiba esok pagi jam 6.30. pertanyaannya, kenapa aku lebih memilih untuk menggunakan bus dalam perjalanan sejauh ini? padahal pesawat kan ada? Jawaban utamanya mungkin karena sejak dari kecil aku suka naik „moto panyang“, dan kedua tentunya karena lebih murah di bandingkan tiket pesawat. Teringat waktu kecil dulu aku sering merajuk ke orang tua untuk naik „moto pelangi“ walau dari banda aceh pulang ke seulimeum, dan seperti anda tebak tidak selalu permintaan tersebut terpenuhi, karena saat itu labi-labi masih primadona antar desa.

Bus yang aku naiki adalah eurolines, selain perusahaan ini, ada beberapa perusahaan lain yang biasa digunakan backpacker untuk keliling eropa, namun setahuku perusahaan inilah yang paling luas jaringannya dan juga, paling enak untuk booking online. Aku sudah menjadi „langganan“ dengan bus ini sejak dulu kuliah di belanda, saat itu perjalanan pertamaku dari eindhoven ke paris PP. Setelah itu sepertinya aku merasa ketagihan untuk menggunakan service dari bus ini, mungkin karena teringat atau representasi dari impian masa kecil yang sering tertunda untuk naik bus pelangi?

Masuk kedalam bus, hampir semua kursi telah terisi, tapi aku tidak harus berdiri seperti di lagunya godbless, di barisan belakang masih ada yang kosong, langsung saja aku mendekat kesana, duduk disamping keluarga india dengan dua anaknya. Didalam bus, yang pertama kali kucari adalah colokan listrik, und ja…I found it, kedua adalah wifi gratis dalam bus, ku hidupkan setting wifi hapeku dan, yes, ketemu juga, kucoba tes kecepatannya sambil membuka beberapa website, lumayan kencang, lebih kencang dari bus yang terakhir kali kugunakan untuk ke praha pertengahan bulan lalu. Saat kedua kebutuhan primer bagi traveller ini kutemukan, akupun merasa nyaman.

Tepat jam 23.00 bus pus berjalan perlahan, meninggalkan Berlin yang kini mulai terlelap dalam pelukan malam, akupun juga coba memejamkan mata…

Setelah sekitar dua jam tertidur kurang pulas, aku terbangun, karena bus kini berhenti, sampai mesin di matikan. Kulihat jam, masih 2.30, kemudian ku cek posisi kami dengan gps di hape, rupanya kini sudah di Lübek, berarti sebenatar lagi kita akan menyeberang ke Denmark melalui laut….??

Mesin mobil kembali di hidupkan, rodanya kembali ke jalan tol tampa bayar, melalui odometer di hape, kulihat mobil hanya berjalan sekitar 100 km/jam, tidak lebih dari itu. Walau jalan sepi dan satu jalur. Tapi mungkin itu peraturan perusahaan ini. Aku yakin kalau sopir L300 yang kebagian jalan tol seperti ini, pasti mobil dikebut sampai habis gas nya.

Aku coba buka laptop, mencoba menulis perjalan ini, tapi aku merasa pusing, laptop kututup kembali, tapi aku tidak bisa tertidur, sehingga waktu tersebut kuhabiskan untuk membawa tweet pak dahlan iskan di akun twitter yang baru dibuatnya. Kubaca ada tweet yang complain tentang jalan tol yang penuh dan minta pak dahlan membukanya,..hmmm…ku tutup laptop dan kedua mataku.

Tepat jam 6.30 bus berhenti di stasiun kota kopenhagen, semua penumpang dipersilakan keluar, termasuk aku, ransel kupakaikan, begitu juga dengan tas kamera. Aku melangkah keluar. Dengan GPS, aku berjalan ke kampus kopenhagen University. Setelah sekitar 30 menit jalan kaki, aku tiba disana. Masuk ke perkarangan kampus, suasana juga masih sepi. Hanya beberapa sepeda terparkir indah disana.Aku mutar-mutar saja di pekarangan, saat melihat peta kampus di dinding sebuah bangunan, seorang bule mendekat ke aku dan berbicara bahasa Denmark, jelas aku tidak mengerti, melihat aku kebingungan, dia kembali bertanya dalam bahasa Inggris, kali ini aku bisa menjelaskan dengan lancar tujuan kedatanganku kesana. Aku menunjukkan nomor ruangan yang aku tuju, dan dia memintaku untuk ikut dengannya, dan rupanya ruangannya ada di samping pintu masuk utaman, dia menjelaskan sekilas maksud dari urutan nomor tersebut. Dengan ini, aku lebih mudah memahaminya.

Well, sambil menunggu peserta lain tiba di ruangan, aku membuka laptop dari ransel yang setia ikut kemana saja aku pergi. Dan mencoba menuliskan kisah singkat ek moto panyang ini. Setumpuk agenda juga telah kupersiapkan, ikut presentasi dengan professor-profesor yang sebelumnya hanya kukenal leawat publikasinya di journal, diskusi tentang penyakit tidak menular, khususnya di negara berkembang seperti di kampungku, dan juga siap2 jika diminta untuk presentasi tentang program bebas pasung aceh yang cukup sukses dan di saluti banyak negara. Well, agenda jalan-jalan juga telah kutulis dalam Reiseplan, menyebrang ke kampungnya bang Him (Ibrahimovic) di Malmo, Swedia, ke Universitas Lund, atau ke Helsingborg. Yang pasti dalam kesempatan ini aku tidak akan jalan jauh ke kota idamanku, Taalin, Estonia. Karena jika kesana, pasti perjalananku akan kusambung ke St Petersburg, Rusia, atau menyeberang ke kota yang aku yakin semua orang aceh pernah mendengarnya, Helsinki.

Sekarang aku mau cari makan pagi dulu!

Möersalijn
Half blogger, half writer and half photografer, and full traveller
Dalam bus eurolines di perjalanan malam Berlin-Kopenhagen
14 Mei 2012

3 thoughts on “Menyisir Eropa dengan „Moto Panyang“

  1. Bulan Maret kemarin saya sempat seminggu menyambangi museum-museum besar di Berlin. Kota yang luar biasa, kita bisa melihat bagaimana setiap perkembangannya mengundang diskusi yang panjang. Museum dan heritage lainnya merupakan bagian dari diskursus perkembangan kota.

    (dan setelah hampir seminggu, baru menyadari jika setiap sore menggunakan karcis yang telah expired … )

    Salam!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s