Jika Ali Hasjmy masih muda!

Majalah yang terletak diatas meja di pojok ruang makan kini berada dalam jangkauan bacaanku. Kulihat judul, aku tak mengenalnya, tapi dari gambar cover dan nama majalah, aku coba tebak kalau itu adalah majalah remaja. Rasa malas dan rasa lapar kini bersekutu dalam tubuhku, tapi masih kupaksakan tanganku untuk membuka lembaran majalah itu satu persatu, dugaanku benar, tipikal majalah remaja, lebih banyak gambar dari pada informasinya. Dari daftar isi yang kulihat, informasinya bukan untuk golongan usiaku, tapi, sambil menunggu makananan datang, tak ada salahnya kemalasanku kutumpahkan dengan membolak balik halaman majalah itu.

Rasa malasku perlahan keluar dari tubuhku, setelah kulihat setiap judul tulisan dimana nama penulis dan umurnya juga disertakan, aku jadi tertarik. Aku salut dengan usia rata-rata penulis yang masih remaja, ada yang 16 tahun, 18 tahun dan sepertinya yang paling besar masih 25 tahun, tidak begitu kupastikan, yang pasti mereka masih muda-muda. Redaktur dan ilustratornya juga rata-rat anak sekolahan. Wah, hebat sangat. Aku kagum, rupanya anak muda sekarang justru jauh meninggalkan kami generasi setengah tua.

Kekagumanku akan kreativitas anak muda ini membawaku ke masa SMP, saat aku pertama kali membaca sebuah puisi karya Ali Hasjmy yang berjudul “penyesalan”. Puisi tersebut berkisah tentang penyesalan penulis yang menghabiskan masa mudanya dengan sia-sia, dan saat ia sudah tua, ia hanya bisa meninggalkan harapan kepada yang muda.

Memang, tidak semua bait puisi itu aku hafal, hanya paragraf terakhir saja yang sangat aku ingat, “kepada yang muda kuharapkan, atur barisan di pagi hari, menuju arah padang sakti”. Dan pesan ini tertancap tajam dikepalaku, hingga kini.

Saat aku pertama kali membacanya, aku juga masih sangat muda, belum mengerti tentang sastra dan hanya mengenal sekilas tentang karya Hasjmy. Saat itu beliau masih hidup, walau tidak lagi aktif bekerja. Dengan sumber yang terbatas, belum ada internet, koran juga jarang-jarang masuk ke kampungku yang di pelosok, aku berhasil mendapatkan informasi tentang beliau. Aku jadi tahu bahwa asal beliau juga sama dengan kampung orang tuaku, montasik. Membaca kisah-kisah perjuangan beliau membuatku semakin kagum, diusia mudanya, disaat kawan sebayanya yang lain sibuk dengan aktualisasi diri, beliau justru memilih menjadi guru honor tanpa bayar di seulimeum, kampungku.

Saat beliau menjabat jadi gubernur Aceh, beliau juga yang mengusulkan agar di Aceh di bangun sebuah “kopelma”; komplek pelajar dan mahasiswa, dan beliau mengusulkan agar komplek ini di bangun di Darussalam. Jelas saja ide ini ditertawakan oleh elit politik jaman itu, mereka beralasan, “siapa yang mau kuliah ke darussalam? Itu kan jauh dari kota”? dan memang saat itu darussalam masih berupa sebuah kampung kecil yang belum ada jalan aspalnya. Tapi bukan Ali hasjmy jika tidak bisa meyakinkan idenya, dengan santai beliau menjawab, “mungkin dalam beberapa tahun kedepan, kopelma akan sepi, tapi saya yakin, puluhan tahun kedepan, Darussalam benar-benar akan menjadi kota pelajar dan mahasiswa”, jawabnya mantap. Dan kini terbukti, puluhan tahun setelah beliau telah tiada, Darussalam benar-benar menjadi sebuah kota pendidik ilmuan, walau belum kelas dunia. Dengan dua universitas utama didalamnya, Unsyiah dan IAIN Ar-raniry, Darussalam selalau menjadi harapan ribuan calon ilmuan baru setiap tahunnya. Sekali lagi, aku salut dengan pandangan visioner beliau, tipe seorang pemimpin sejati, yang selalu berpandangan jauh kedepan.

Mengingat pesan Ali hasjmy tersebut, teringat pula chatting dengan seorang kawan kemarin. Saat itu dia bercerita kalau dia baru saja mereview program komputer yang dibuat kawannya, program ini memungkin kita untuk mencari kandungan qur’an dengan mudah (kalo gk salah begitu kata dia). Dan setelah dia membaca tafsir yang dia punyai untuk perbandingan, dia juga berkesimpulan, bahwa seharusnya manusia yang menjadi khalifah di muka bumi, harus berbuat baik dan bermanfaat bagi orang lain, toh kita cuma hidup sementara di persinggahan ini. Tulisan chat yang dia tinggalkan membawaku kembali ke masa SMP, saat membaca karya Ali hasjmy tadi, ada juga menemukan sebuah mahfudhat (kata-kata mutiara dalam bahasa arab) yang berbunyi,”khairun-naas, ma anfauhum lin-naas”, sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain.

Jujur, saat aku menemukan dua tulisan yang berlainan asal itu, satu dari Aceh dan satunya dari arab, aku tidak menemukan sikronisasi antara keduanya; tapi setelah membaca majalah remaja tadi, aku kembali berpikir, seandainya semua pemuda, bisa belajar dan bekerja secara kreatif, niscaya mereka akan memberikan manfaat yang lebih besar kepada orang lain, dan kreatifitas ini akan bertahan lebih lama, karena pemudalah aktornya.

Well, makanan yang dihidangkan kini telah berpindah posisi kedalam perutku yang busy (buncit tapi seksi). Aku mencoba membuat sebuah kesimpulan, dari sebuah hadis yang juga aku baca saat SMP dulu, yang bunyinya kira-kira “antum syabbanul yaum wa rijalul ghad, wa fi aidukum……naas (aku lupa lengkapnya). Yang bermakna kira-kira, kalian adalah pemuda saat ini dan pemimin dimasa yang akan datang, dan di tangan kalianlah kemaslahatan ummat di percayakan…… Dan sekali lagi, saat membaca hadis ini pula, aku belum mengerti duduk perkaranya, tapi kini jelas, negara kita, seluruh manusia di muka bumi, suatu saat nanti akan dipimpin oleh mereka yang saat ini adalah pemuda.

Dan, walau belum setua Ali Hasjmy saat menulis puisi tadi, aku juga mencoba berpesan, agar para pemuda yang suatu saat akan menjadi pemimpin dunia, supaya tidak hanya semangat dalam berkrativitas dan menulis seperti di majalah tadi, tapi juga perlu mempertahankan nilai-nilai kejujuran yang sering mudah terkikis oleh godaan duniawi.

Tersadar, aku rindu akan sosok seperti Hasjmy, masih adakah orang seperti beliau?
Dan jika saat ini beliau masih muda, kira-kira apa yang akan beliau lakukan? Menulis puisi? menjadi polisi? menjadi politisi? atau menjadi guru ngaji?

Restoran Nusantara-Berlin, 30-04-2012.

Oleh: Moersalin
Lulusan Unsyiah dan Pernah kuliah di IAIN Ar-raniy.

6 thoughts on “Jika Ali Hasjmy masih muda!

  1. bagi saya intinya : ” juga perlu mempertahankan nilai-nilai kejujuran yang sering mudah terkikis oleh godaan duniawi.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s