Haruskah kenaikan BBM di Demo?

“Harus dong, yang sengsara kan rakyat kecil kalo BBM nya naik”, itu jawaban yag pernah kuteriakkan, ketika ikut-ikutan demo saat BBM naik beberapa tahun yang lalu.
Dan sekarang kejadian yang sama terulang lagi, tapi semua aksi demo hanya bisa kutahu lewat layar TV, maklum saya sedang terusir keluar negeri. Terasa sedih ketika melihat kawan-kawan mahasiswa yang kadang “sedikit” anarkis dalam berdemostrasi, merusak fasiltas bahkan sampai harus berdarah-darah. Haruskah ini terjadi untuk menyelamatkan negeri? Tak adakah cara lain yang lebih bijak?

Well, saya yang menulis ini bukan ahli ekonomi, bukan pula ahli politik, bahkan saya selalu golput, saya juga tak paham sama sekali dengan permasalahan BBM, apalagi mengerti energy, tapi sebagai manusia yang masih punya akal dan jari, saya coba mengetik.

Kemarin saya sempat menjadi “penerjemah” seorang pejabat daerah yang melakukan meeting dengan seorang profesor di sebuah universitas yang terkenal dengan technology geothermal di Jerman. Intinya mereka membahas tentang rencana training peralatan explorasi di beberapa titik di bumi pertiwi, walau indonesia punya cukup sumberdaya manusia untuk hal ini, tapi butuh beberapa alih teknologi yang memang (hanya) dipunyai instasi si profesor ini. Dari kerjasama ini, keduanya akan saling menguntungkan, begitulah kesimpulannya.

Yang menarik adalah ketika kadang-kadang saya tidak tahu maksud istilah-istilah yang mereka gunakan dalam diskusi, tapi sebagai orang sombong, keterjemahkan saja apa adanya, toh mereka saling mengerti. Meeting pun selesai, kedua belah pihakpun senang.

Selesai meeting, aku menjumpai seorang kawan yang sedang PhD geothermal di kampus itu, dia asli indonesia, dosen sebuah kampus yang tidak terkenal, tapi negeri, dan juga ikut dalam rapat tadi. Dia tahu bahwa aku tak tahu sama sekali dengan subjek pembicaraan, dan padanya aku meminta untuk menjelaskan kembali, tentang apa sebenarnya yang terjadi, berapa besar sumber daya energi yang kita punyai!.

Dia memulai dengan sebuah kalimat panjang dan wangi bak terasi. “tau gak kamu kalau 60% lebih sumber daya energy terbarukan ada di indonesia? Kita punya persentase geothermal terbanyak di dunia, matahari yang selalu ada, anginnya kencang luar biasa? Ombak laut juga tidak kalah banyaknya? Kalau salah satu saja di gunakan, geothermal misalnya, 26 jam listrik gk akan mati-mati, sebut dia sedikit berhiperbola.

Aku menelan ludah, senyap, dan meminta di jelaskan lagi.

“kita punya kekayaan alam lebih dari apa yang kita butuhkan, sedang jerman cuma punya ini (menunjuk ke kepala), nah, kalo saja dari dulu ini (geothermal) kita garap, gak akan ada demon-terasi kayak di TV, memang biaya awal sedikit mahal, tapi entar kan bisa murah, gk perlu cari BBM lagi, mobil bisa pakai listrik, motor, kereta, tinggal cas waktu malam saja, bisa kan?” jelasnya lagi.

Kali ini aku tidak berkomentar, tapi mencoba mencerna informasi baru yang belum pernah aku tahu. Ya, benar-benar baru, cara berfikir juga baru.

Sampai dirumah, aku masih penasaran dengan penjelasan kawan tadi. Kucoba berselancar di dunia maya, mencoba mendapatkan jawaban sendiri, membaca apa saja yang layak di baca dan memberi informasi tanpa yang netral tanpa menjohok dan memojokkan orang itu dan ini.

Lewat catatan manufakturing hopenya dahlan iskan, aku temukan jawaban, bahwa masalah listrik sudah kronis sejak zaman republik ini berdiri, berimbas pada masalah pangan, ekonomi dan edukasi. Dari tulisan2 lain aku jadi tahu masalah BBM juga dijadikan kendaraan politik oleh penguasa2 negeri. Tapi untuk ini aku tidak mau menyambung bacaan, toh aku tidak akan memilih siapapun dalam pemilu kali ini.

Selanjutnya aku coba diskusi dengan kawan yang ahli akutansi dan keuangan dalam negeri, dan darinya kutahu memang keadaan dunia global yang memang membuat penguasa harus menaikkan BBM, toh di eropa ini BBM tidak (lagi-sepernuhnya) di subsidi.

“BBM naik itu penting untuk mempertahankan ekonomi bangsa, biar gak sekarat kayak di yunani, begitu kata seorang kawan yang memang “ngikut” dengan perkembangan masalah ini. Dia mencontohkan betapa banyak PNS yg gajinya harus dipotong kalo BBM tetap di harga yang sama, petani juga akan kena imbasnya, dan bisa bisa terancam resesi ekonomi”….wah…bahasanya udah mulai tinggi…gk ngerti!

Dan, terakhir kuminta pendapat dia, kalau memang BBM naik itu penting untuk mempertahankan ekonomi, kenapa banyak orang yang demo di sana sini? “ lha itu kan di bayar, demo itu kan juga profesi?”

“Trus kalo mahasiswanya yang demo?” Tanyaku lagi.

“Alaah, itu kan kayak kau dulu yang malas masuk kuliah, demo sana sini dengan alasan sebagai penyambung lidah rakyat, padahal kau tahupun gak apa yang kau demo tiap hari……” jawaban yang membuatku KO dan mati suri.

Well, mencoba berkesimpulan, seharusnya kita coba cermati dengan hati nurani, apakah memang perlu BBM itu dilambungkan lagi? Kalau perlu, apakan pemerintah bisa menjamin agar produksi petani bisa terbeli (bulog misalnya?) sehingga perputaran uang tetap sehat dan terjadi? Kalau memang bisa, kenapa tidak kita terima dengan senang hati, sambil terus bekerja dan terus mencoba menggunakan energi alternativ yang kaya di perut bumi?

Bagaimana dengan tawaran pak iskan agar kita sama-sama memusuhi BBM dan menggunakan energi listrik yang bisa terbarui? Saya sangat setuju. Kalau nanti ada sepeda listrik buatan dalam negeri walau tak sekencang ferari, saya akan jual kambing kakek saya dan beli itu sepeda, biar hemat energi dan BBM bukan masalah lagi.

Sudah saatnya kita beralih ke energi yang lebih mumpuni. Sudah saatnya kita tinggalkan anarkisme dan kembali belajar, bekerja dengan semangat dan terus mengasah kreativitas diri. Sudah saatnya kita berdemonstrasi dengan pikiran dan hati nurani!

Berlin 28-03-2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s