Antara Jilbab dan ……..

Konon, beberapa tahun lalu, setelah seorang kawanku menikah dengan gadis pilihannya, dia pun pindah ke rumah baru dengan istrinya, berpisah dengan kami yang masih jomblo. Dan setahun lebih setelah kami pisah, setelah dia punya seorang anak, aku di undang ke sebuah acara di rumahnya. Kerana sedang tidak terlalu sibuk dan memang ingin bersilaturahmi dengan kawan lama, aku pun memenuhi undangannya.

Di hari itu, akupun berkendaraan ke rumahnya, dengan semangat dan sedikit “bungong jaroe” di tanganku. Tidak terlalu susah mencari alamatnya, walau belum pernah kesana, tapi aku tau dimana dia tinggal.
Singkat cerita, sesampainya aku di depan pintu, akupun mengucap salam sambil mengetuk pintu. Sejurus kemudian dia melihatku lewat kaca jendela, dia membuka pintu sambil berjabat tanganku. Awalnya dia mempersilakan aku masuk, tapi tiba-tiba kudengar teriakan dari dalam “bentar dulu bang, ummi pake jilbab”. Diapun mengisyarakan kepadaku untuk “parkir” sebentar di depan pintu, menunggu “ummi” nya pakai jilbab.

Setelah mendengar insyarat kedua, akupun diperbolehkan masuk. Di ruang tamu, kami duduk di sofa, bernostalgia setelah sekian lama tak berjumpa. Sesaat kemudian, istrinya pun muncul dan bersalaman denganku, aku juga sudah kenal dengan dia sebelum mereka menikah, tapi kini penampakannya berbeda.

Kulihat sekilas, istrinya kini jadi “jilbaber”, beda jauh dengan masa masa mereka pacaran (dan aku jadi obat nyamuk) dimana jilbabnya sering kelupaan dirumah. Ia langsung kedapur setelah bersalaman dan sedikit berbasa basi denganku. Suaminya pun ikut dengan dia, mengambil air minum untukku.

Sendirian, aku menatap foto-foto pernikahan mereka, tertempel beberapa buah di dinding, ada aku rupanya diantara mereka. Masih ganteng dan masih kribo😀.
sambil menatap foto2 tersebut, aku kebingungan dengan dua hal, pertama dengan peristiwa “parkir” di pintu tadi, dan kedua dengan begitu berubahnya istrinya setelah mereka menikah.

Well, harus kucerita disini bahwasanya pacarnya dulu bukanlah jilbaber kelas tinggi, tapi lebih mirip anak gaol atau anak kantin dan sedikit playboy, sedang si kawanku emang dari “sono” ustaz, tak heran ketika mereka menikah, banyak pertanyaan yang muncul “kok bisa ya?”. Itu lah jodoh, bisa jadian ama siapa saja.
Dan aku salut dengan perubahan yang bisa ia lakukan kepada istrinya tersebut.

Tapi, aku masih bingung, siapa sebenarnya “ummi” yang mau pakai jilbab tadi? Karena aku tahu mereka hanya tinggal berdua, dan kalaupun ada ummi lain atau ibu dari salah satu mereka, ia pasti akan keluar untuk bersalaman denganku. Tapi ini “ummi” tak pernah muncul.

Dan ketika baru saja aku mau menebak, jawabannya langsung kudapat, kudenngar mereka bicara saat mau mendekat kembali ke aku kalau kawanku yang cowok rupanya memanggil istrinya dengan sebutan “ummi”, sebaliknya sang istri memanggi suaminya “aby”. Aku kini lebih kaget, tapi mencoba tetap sopan.

Si kawan kini membawa air merah cap patong kepadaku (tau saja dia apa mauku), sang istri menggendong anaknya, mencoba mempernalkan ke aku, tapi si anak sepertinya masih ketiduran, dan kembali di tidurkan di kamar.

Kami kembali bercerita, nostalgia, dan seringnya dia menggoda aku, “kapan ko kawen??” hehe..atra-atra soet sabee.!!
karena bosan di godain dan ingin balik menggoda, langsung saja kutanya penasaranku tadi. “jadi kau panggil istrimu ummi?” tanyaku.
“ya, begitulah” jawab dia sambil mengangguk.

“kau tau kan artinya apa dan hukumnya apa?”
“iya, tau, tapi istriku maunya gitu, ya gimana? Kan mending juga biar dia semangat belajar agama”, jawabnya coba menjelaskan.

Aku hanya diam, mengangguk, ingin rasanya kutanya lagi, apakah dia benar2 masih ingat bahwa seorang suami haram memanggil istrinya dengan sebut “ummi”!! karena dalam bahasa arab “ummi” itu artinya “ibuku” dan memanggil istri dengan sebutan ibu atau menyamakannya dengan ibu adalah sama dengan men thalaq nya?? sama juga dengan tidak boleh menyamakan istri dengan adik kandung yang peremuan, karena itu haram hukumnya (sumber kitab syrus-salikin kalo gk salah).
Tapi aku yakin dia masih ingat dengan hal ini, so kudiamkan sajalah.

Penasaranku yang pertama kini terjawab, bahwa aku diminta parkir sebentar tadi karena istrinya mau pakai jilbab dan karena memang aku tidak diperbolehkan melihat aurat istrinya. Penasaran kedua tak ingin kutanyakan lagi, toh aku sudah bisa menebak, bahwa kini istrinya memang sudah menjadi lebih alim, dan si kawan juga cerita kalau kini istrinya juga sudah lancar mengaji dan tidak pernah bolos sembahyang. Alhamdulillah.

Selanjutnya kami masuk acara pokok, makan-makan. Dan setelah acara minum ie u muda di belakang rumahnya di sorenya, aku pun pamitan pulang.

Tadi, setelah lebih lima tahun, aku mendapat invitation atas nama dia di facebook, karena namanya ku kenali dan ada foto dia disana, langsung saja ku aprove. Kami kembali ‘connected” di dunia maya. Aku coba lihat foto dia disana, ada beberapa rupanya, kulihat satu persatu, ada foto anaknya juga yang kini sudah berseragam sekolah. Kulihat lagi, ada fotonya dengan background sebuah bangunan terkenal di eropa, aku tahu sejak dua tahun lalu di sekolah di sebuah universitas terkenal disana. Kulihat lagi, dan ada foto dia, anak dan istrinya. Tapia kali ini membuatku kaget, karena istrinya kembali bergaya eropa, tak ada jilbabnya lagi.

Aku makin penasaran, apa cuma iseng gk berjilbab? Rupanya tidak, aku bandingkan dengan foto mereka ketika anaknya masih kecil istrinya masih berjilbab, tapi foto2 terakhir ketika anaknya sudah besar, istrinya kembali ke alam semula. Nauzubillah!.

Well, kali ini aku tidak mau bertanya langsung ke dia, tapi hanya ingin menjadikan sebagai pelajaran buat diri sendiri, bahwa menjaga itu lebih susah dari pada mencapai. Dan hati kita bisa berbalik kapan saja kalau tidak mau menjaganya. Dan benar nasehat alm nenekku, untuk sering2 meminta “sabbit qalbi a’la dinika wa’ala thaatika – tetapkan hatiku dalam agamamu dan ketaatan kepadamu”. Berharap semoga kita selalu dalam lindungan-Nya. Thanks nek, ich vermisse dich!

Ya rabbi, sabbit qalbi a’la dinika wa’ala tha’atika.

Wallahu a’lam
London 22-03-2012.

5 thoughts on “Antara Jilbab dan ……..

  1. benar-benar menjadi sebuah pelajaran ya bang. sebenarnya semua itu tergantung dari pribadi masing-masing. peranan orang lain hanya sedikit, termasuk juga suami. jika diri sudah berazzam dan suamipun mendukung insyaallah keistiqamahan akan tercapai,tapi sekuat apapun suami mengajak tetapi jika diri masih tidak yakin maka cerita di ataslah yang akan terjadi. makasih yaaa sudah disuruh baca.

    blog ane lagi sakit nih bang, jadi sedang diisolasi. ke sini saja kalau mau mampir http://daratangse.blogdetik.com/2012/03/26/aku-juga-cinta/

  2. bila keimanan itu karena ALLAH dan mengharap RIDHO NYA…INSYAALLAH ini akan sellau terjaga…WALLAHUALAM…yang bisa kita lakukan hanyalah berdoa moga ditetapkan iman dan islam didalam dada sampai ajal menjemput,,,dengan tetap melaksanakn perintah NYA dengan sebenar benarnya taqwa…AMIN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s