Berlin, London, Genewa, Apanya yang hebat?

Membaca tulisan Cut Zamharira di citizen reporter nya serambi indonesia edisi sabtu 3 maret 2012 yang berjudul “Malaysia, apanya yang hebat?”, saya jadi tergelitik untuk menulis, terutama setelah membaca respon pembacanya yang sangat beragam. Pertama saya salut dengan ibu cut yang berani menulis berbeda dengan biasanya, walau saya yakin tulisan ini telah mengalami proses editing di pihak serambi, dan memang menurut seorang kawan yang membaca tulisan aslinya di sebuah milis, judulnya saja berbeda.

Selanjutnya tentang kritikan yang di sampaikan pembaca, saya rasa disini tidak ada yang salah, tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya. Untuk mereka yang sangat senang dengan Kuala Lumpur, sudah barang pasti jika ada tulisan yang memojokkan, mereka akan membelanya, walau kadang dengan cara sedikit kurang sopan. Saya juga akan melakukan hal yang sama jika ada orang yang menulis sesuatu yang miring tentang tempat dimana saya menghabiskan masa kecil, tempat favorit saya, tempat saya bekerja, dan sebagainya, dan itu adalah fitrah manusia untuk membela apa saja yang di cintainya. Sekali lagi, dalam diskusi lintaspendapat dan lintaswaktu seperti ini, semua orang punya hak yang sama untuk mengungkapkan apa yang dirasakan dan diinginkan, hanya kontrol super ego lah yang bisa membuat ungkapan perasaan tersebut tidak menyakiti perasaan orang lain.

Membandingkan kuala lumpur dengan jakarta, bagi saya ibarat membandingkan beras catu (beras bulog?) dengan beras keumala atau beras blang bintang. Yang pertama murah, banyak di incar orang walau kadang “meubatee” di dalam nya. Sebaliknya yang kedua beras mahal, rasanya enak, dan hanya sebagian orang yang sanggup untuk membelinya. Bagi kami yang “kerja sehari gelap dapat duit dua daun (kerja bungoh supot, murumpok peng dua oen)” makan beras catu adalah kenikmatan yang luar biasa, walau sekali-kali “teukap batee”, tapi tetap saja itu pilihan. Ibarat mereka yang sudah dari “sononya” suka dengan jakarta, semacet apapun, sekumuh apapun, tetap saja ke jakarta, karena disana mereka bisa menggantung hidup dan menghidupi keluarganya.

Sebaliknya buat mereka penggemar beras keumala atau beras blang bintang, jika nasinya bukan dari beras itu, maka nafsu makan mereka berkurang. Dan jika ada yang bilang di depan mereka, “boh panee mangat breuh keumala, mangat breuh catu lah?” seorang kawan saya yang asli keumala dan penggemar berat beras kemala mungkin akan menjawab “ta meulho dua jeut?, takelen toh hebat tenaga breuh keumala ngen breuh catu!”. Kembali lagi, dari sudut pandang mana kita melihatnya.

Beberapa hari yang lalu, ketika pertama kali dalam hidup saya tiba di kota London, saya bingung dengan begitu riuhnya suasanya disini. Saat berdiri di halte bus, saya kaget dengan super aktivnya anak-anak muda disini berbicara, bahkan sudah kayak di teater. Yang berbicara di HP pun seolah cuma dia yang punya hape, bicaranya cukup besar hingga terdengar beberapa meter jauhnya. Di Jerman, dimana saya sudah tinggal untuk beberapa bulan, suasananya justru sebaliknya, di halte, mereka sangat jarang berbicara, apalagi menyapa orang yang mereka tidak kenal, begitu juga di dalam kereta, jika berbicara, mereka seolah-olah berbisik, bicara di hape, mereka selalu mencoba dengan suara yang kecil, bisa saja supaya tidak mengganggu orang lain, atau malah agar jangan di dengar orang. lantas, apakah bisa dikatakan orang inggris suka ribut? Seorang kawan yang asal liverpool justru berpendapat “orang jerman yang kakunya tak jelas”.

Di hari kedua di London, saya juga kaget dengan tidak berlakunya lampu merah disini. Orang bisa potong jalan dimana saja dan kapan saja, tidak harus di zebra cross dan menunggu lampu hijau menyala, dan ketika saya berdiri sendiri di lampu merah seperti kebiasaan kami di jerman, saya justru menjadi pusat perhatian orang, seorang kawan yang sudah lama tinggal di london lantas angkat bicara, “Mau nunggu setan lewat ya?” saya hanya bisa “measek ulee”.
Kasus yang sama juga saya alami ketika berkunjung ke Norway, tiba di lampu merah, saya langsung berhenti, walau tak ada mobil yang lewat disana. Seorang kawan dari Milan langsung menarik tangan saya, “let’s do the italian way” katanya sambil memaksa saya memotong jalan yang memang hanya tiga langkah saja. Sekali lagi kami jadi perhatian orang.

Geneva-Swiss, mendengar namanya saja langsung terbayang gunung, salju, skying, kantor-kantor UN, suasana yang nyaman dan sebagainya. Begitu juga dengan yang saya bayangkan hingga saya berkunjung kesana. Hari pertama tidak ada masalah bagi saya karena tibanya malam dan langsung bisa istirahat. Hari kedua perasaan mulai berkecamuk karena hingga siang saya belum dapat nasi, cuma minum air keran dan buah-buahan. Sore sudah tidak tahan lagi, hingga indomie berhasil saya dapatkan di sebuah toko perbatasan perancis. Hari selanjutnya tidak jauh beda, kota yang saya anggap tempatnya orang-orang makmur, tapi tetap saja ada peminta-minta. Suasana tambah kacau ketika seorang kawan asal jepang kehilangan dompet, uang dan kartu kreditnya di tempat kami menginap, dan belakangan kami dapat info bahwa kejadian seperti itu sudah terjadi beberapa kali sebelumnya disana. Hari keempat, kebetulan libur, kami memilih jalan-jalan ke kota. Dan sekali lagi masalah kami temukan, kawan saya yang sebenarnya asal jogja tapi berwajah mirip jepang yang ketiban sial, beberapa anak muda mengganggunya di jalan, sepertinya memaksa minta uang, karena biasanya mereka tahu turis jepang banyak uangnya. Hasrat saya untuk kota yang cantik ini hilang begitu saja setelah mengalami beberapa misfortune tersebut, tapi buat kawan saya orang jepang yang kehilangan dompet, geneva adalah segalanya bagi dia.

Beralih ke Belanda, di Kota kecil provinsi Limburg, saya pernah tinggal setahun lebih disana. Kotanya asri, bersih, nyaman dan teratur membuat saya jatuh cinta untuk keempat kalinya (1-2-3 jangan tanya ya!), tapi saya pernah kehilangan sepeda disana. Padahal sepeda itu sengaja saya beli dengan harga yang sedikit lebih tinggi karena yang jualnya gadis italy yang manisnya luar biasa (jgn bilang org laen ya? :D), tapi saya tetap memautkan cinta terhadap kota tersebut, terlepas kasus raibnya sepeda saya.

Paris, kota romantis katanya, tapi bagi saya biasa saja, menara eifel bukanlah sesuatu yang “ngeh” untuk di puja-puja. Walau sudah berkunjung kesana, dan teman-teman lain sudah memanjat hingga ke puncaknya, saya cukup berpose di bawahnya saja, karena memang acrophobia masih menghantui perasaan saya. Belum lagi ketika beli tiket metro, dimana petugasnya tidak pernah mau berbicara bahasa inggris, walau mereka mengerti permintaan saya. Lantas apa bisa saya judge orang perancis itu egois karena tidak mau bicara bahasa inggris? Belum tentu juga, karena saya punya kenalan yang awalnya kukira sombong karena sangat jarang berbicara, tapi ternyata kemampuan bahasa inggrisnya yang dibawah rata-rata.

Kembali ke tulisan ibu cut di serambi, jika membunyikan klakson (horn) di Kuala Leuhob adalah tabu, maka itu sangat beralasan, kerana ide dibalik penggunaan klakson dimobil itu awalnya adalah untuk mengusir binatang yang tidur di tengah jalan. Kalau saya tidak salah pertama kali di pakai di amerika, saat itu jalan belum semulus sekarang, mobil masih jarang-jarang dan banyak binatang ber-rehat di tengah jalan, sehingga klakson dibunyikan untuk mengusir binatang tersebut. Jadi cukup beralasan jika membunyikan klakson membuat orang, baik di eropa atau amerika, itu marah, karena mereka tidak mau di anggap binatang. Sebaliknya di kampoeng kita, keseringan klakson di bunyikan trus mengucapkan salam😀. satu lagi, jika di jerman ada warga turki yang menikah dan kedua mempelai di arak pakai mobil yang dihias dan di tengah jalan klaksonnya di bunyikan terus-terusan, itu bukan mengusir orang ya!, tapi cari perhatian alias pemberitahuan “yang di dalam mobil ini sudah ada yang punya :D”

Terakhir, mungkin harus ada study khusus mengenai kenapa orang aceh sangat senang dengan hal-hal yang berbau malaysia, karena hubungan keluarga? Persaudaraan sejak zaman iskandar muda? Karena begitu banyak orang aceh hidup dan bekerja disana? Karena begitu banyak bantuan malaysia ke aceh pasca tsunami dan sebagainya? Atau mau menjaga pasar karena mau jualan ganja disana?😀, wallahu a’lam.

Maaf jika ada silap dan salah kata, hanya bermaksud untuk bercanda sambil berbagi cerita.

Moersalin
London, March 5th 2012.

3 thoughts on “Berlin, London, Genewa, Apanya yang hebat?

  1. ya, tulisan itu sebenarnya hanaya ingin mengangkat keunikan dari menyalakan klakson di kuala lumpur adalah sesuatu yang aib/tdk lazim, ntah apa maksud serambi,mgkn mereka ada maksud2 tertentu untuk menaikkan rating korannya,wallahu’alam…salam kenal

    • Salam kenal juga,

      Iya, karena itulah saya kurang berminat kirim tulisan ke SI, tak tau jg maksudnya apa.
      saya ngerti kok maksud tulisan ibu, cuma ya itu, masyarakat kita belum bisa membedakan mana kritikan dan mana ejekan,…hom lah..

      MFG
      Moersal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s