Karena Jujur, Mereka Bisa (Suatu Pagi di Norwegia)

Dengan nafas ngos-ngosan, aku mencoba menerjang salju tebal yang membekukan kota Bergen, Norwegia. Baju tiga lapis yang kupakai belum cukup meredam serangan dingin ke tubuh, sekali2 tubuhku bergetar otomatis, berusaha memproduksi panas agar seleuruh organku dapat bekerja optimal.

Bergen 1Aku terus melangkah, kadang dilewati orang lokal yang memang jalannya lebih cepat dari aku. Jam tangan kulirik, hampir jam sembilan pagi, yang berarti jika aku putuskan untuk tetap jalan kaki, aku akan terlambat di presentasi…aku bingung, tapi berusaha terus bergerak, agar tetap hangat.

Jam 9 pagi tapi masih gelap? Mungkin sedikit aneh buat kita yang tinggal di pundak khatulistiwa (kalo jambul khatulistiwa sudah di patenkan syahrini :D). memang begitu, saat musim dingin, negara2 skandinavia sangat sedikit kebagian matahari, kadang hanya 3 jam, bahkan katanya bisa kurang dari 2 jam, tapi saat aku berada disana, rona merah matahari biasanya muncul di jam 10 pagi. Tidak heran jadinya jika semua penduduk disana harus mengkonsumsi vitamin D saat musim dingin tiba. Tidak heran juga jika setiap hari mereka ke kantor dalam keadaan gelap, pulang kantor juga sudah gelap, dan aku sangat salut karena mereka tidak begitu banyak merubah ritme aktivitas mereka walau perbedaan suasana atar musim cukup kentara.

Sekali lagi aku melirik jam, “gak mungkin jalan, pasti telat“ begitu pikirku. Kemudian aku pelankan langkahku, karena didepan ada sebuah halte, dan menurut penunjuk waktu digital disana tertulis jika bus yang bisa membawaku ke tujuanku akan tiba dalam waktu kurang dari 1 menit, aku putuskan untuk berhenti dan berdiri dalam kerumunan orang2 yang juga menunggu bus. Dan memang tidak lama kemudian, sebuah bus gandeng bertenaga listrik berdiri di depan kami. Seperti biasa, ada 3 pintu masuk, di depan kalau mau bayar tiket, ditengah kalau sudah punya tiket dan pintu belakang untuk turun.

Karena aku belum punya tiket, aku naik di pintu depan, berpapasan dengan bang sopir, dan uang NOK 27 (skitar 42 ribu rupiah) yang sudah kusiapkan berpindah posisi ke dashboar bus, bang sopir cukup mengerti, uangnya di ambil dan selembar tiket sekali jalan keluar dari mesin yang ada di atas dashboard tadi, dia melemparkan senyum, aku membalasnya, tapi wajakhku sedikit kaku karena kedinginan

Tiket kuambil, dan kini berpindah ke saku celanaku, sambil jalan ke bagian belakang bus, aku merepet sndiri, masak untuk sekali jalan, dengan jarak yang sangat dekat, aku harus bayar 42 ribu? Padahal dengan uang segitu bisa keliling jakarta dengan kawan seharian, pake busway atau kopaja. Tapi aku tersadar bahwa kini aku berada di belahan dunia yang berbeda.

Bus pagi itu memang penuh, semua kursi telah terisi dan beberapa orang berdiri, tapi tidak berdesakan seperti busway. Aku berdiri di dekat pintu tengah, sebuah pegangan ada disana. Dan setelah semua penumpang naik, bus kembali jalan.

Di halte selanjtnya, bus kembali berhenti, beberapa orang turun, dan ada juga 2 orang yang naik, keduanya dari pintu tengah, pintu bus kembali tertutup otomatis dan bus kembali berjalan, kedua orang tadi medekat kepadaku, berbica sedikit kepadaku tapi aku hanya membalas senyum, karena tidak mengerti, aku hanya bergeser, rupanya mereka mencari mesin „ceklek“ untuk validasi tiket yang memang sedikit tertutup dengan ranselku. Keduanya mengeluarkan tiket dari dompetnya, memasukkan salah satu ujungnya kedalam mesin tadi, hanya ada sekali bunyi „teet“ dan mereka mengambil lagi tiketnya. penumpang yang satunya lagi juga melakukan hal yang sama. Belakangan aku tahu mereka punya jenis tiket bulanan yang harus di validasi setiap kali naik bus.

bergen 2

Kali ini aku mulai bingung, jelas2 si supir tidak pernah tahu apa mereka punya tiket atau tidak, orang2 yang ada di dalam bus juga sepertinya cuek saja, tapi kenapa mereka terlalu jujur untuk membayar tiket? Sekali supir tidak tahu, dan aku yakin perusahaan bis ini tak akan pernah rugi? Tapi kenapa?

Kembali aku teringat dengan pengalamanku ketika di berlin beberapa waktu lalu. Saat itu kami akan naik s-bahn untuk ke mesium robert koch (penemu TB), dan sebelumnya aku sudah bilang ke kawanku kalau aku belum punya tiket, sehingga ketika tiba di stasiun dan kereta akan segera berangkat, si kawan sibuk membelikan tiket di mesin yang ada disana untukku, „cepat2, masukkan uangmu, aku sudah book, s-bahn mau berangkat“ katanya memerintah. Langsung saja aku masukkan uangku kedalam mesin tersebut, tiket dan uang kembalian keluar, keduanya kuambil dan kami segera loncat kedalam kereta.

Seperti kuduga, sampai kami turun, tidak ada pemeriksaan dalam keretea. Tapi entah kenapa, sikawan yang aseli jerman tetap memaksa untuk beli tiket walau sudah tau tidak akan ada pemeriksaan di jam2 seperti itu, belakangan juga aku temukan jawaban dari dia „saya bayar bukan karena takut di periksa, tapi karena sudah menggunakan fasilitasnya“. Jawaban jujur seorang atheis.

Kembali ke Bergen, bus kembali bergerak mendaki jalan2 kecil yang putih ditutupi salju. Di halte selanjutnya juga begitu, ada orang turun, dan ada juga yang naik, yang tidak punya tiket biasanya langsung menuju ke sopir, walau ada yang naik dari pintu tengah, untuk membayar, walau bang supir tidak menanyakan sama sekali. Saya sangat salut dengan kejujuran penduduk disini.

Aku bisa pastikan, kalau di kampungku, jika begini sistemnya, maka perusahaan bus akan tutup setelah 2 bulan karena tidak ada yang bayar tiketnya. Dan alasannya cukup banyak, misalnya „ini kan punya negara, ngapain bayar?“ atau „ini perusahaan kan sudah kaya, gk usah bayar aja“ bahkan ada beberapa kawan mahasiswa dari indonesia yang kukenal di Jerman dengan bangga mengatakan kalau mereka sangat jarang bayar tiket dengan alasan „ jerman kan sudah kaya, ngapain bayar, atau yang sedikit agamis yang kujumpai usai shalat jum’at berkata „alaah…itu kan punya kafir, ngapain bayar ke mereka“?? aku menatap bingung, membandingkan jawaban2 mereka dengan jawaban kawan yang athies tadi. Mana yang lebih islami?

Kurang dari 5 menit sejak aku masuk, bus kembali berhenti, kali ini di halte dimana aku harus turun. Dan itu kulakukan, sambil membawa dua gejolak yang terus menghantam pikiranku. Pertama aku masih kurang iklas karena harus membayar lebih dari 40 ribu hanya untuk perjalanan kurang dari 5 menit, kedua adalah pertanyaan, apa yang membuat penduduk2 negara kecil ini begitu jujur? Pertanyaan2 itu kusimpan dalam ingatanku.

Sebelumnya aku sudah tahu bahwa negara yang paling makmur (dalam hal ini HDI) didunia adalah Norwegia, padahal penduduk negara ini hanya 4.9 juta atau sedikit lebih banyak dari penduduk provinsi Aceh yang kini mencapai 4.5 juta. Negara ini juga hancur babak belur di hantam jerman di perang dunia kedua, tapi kenapa sekarang mereka bisa menjadi negara termakmur di dunia? Mengalahkan inggris, negara2 arab yang kaya, Jepang, dan juga Amerika. Mereka bahkan mengalahkan jerman yang pernah „menjajah“ mereka. tidak heran memang jika norwegia menjadi destinasi favorit pencari suaka dan pencari kerja. Dokter2 dari jerman sekarang juga menjadikan norwegia sebagai tempat kerja favorit mereka.

Aku tahu, mereka punya kekayaan dalam perut bumi yang banyak, tapi untuk ini indonesia juga punya. Tapi setelah melihat langsung, melakukan observasi dan bertanya lebih banyak ke kawan2 yang aseli dari sana, aku bekesimpulan bahwa mereka membangun negara mereka bukan dengan uang dan kekayaan alam, tapi dengan kejujuran.

Bisakah kita?

Bergen, January 2012

6 thoughts on “Karena Jujur, Mereka Bisa (Suatu Pagi di Norwegia)

  1. aku pernah nganter teman bang, di loket lost and found deket bystationnen… dia kehilangan hape (saat itu) minggu lalu, trus di cek di lost and found sudah ada barangnya, ndak ditanya identitas apa apa… hanya disuruh nge-flash tuh hape (bahasa kita di-misscall)… tu orang bisa nge-flash tuh hape, petugas ndak banyak cing cong…. bungkus dah tu hape…. kuncinya? JUJUR!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s