Antara Housewife, Peurumoh dan Queen of the house!

Bergen 1Dulu, lewat sebuah pesan pendek, aku pernah menulis, “seandainya aku dilahirkan kembali, mungkin aku akan meminta menjadi perempuan”,  kalimat ini bukan karena aku tidak senang dengan kelaminku sekarang, tetapi bagaimana yang maha kuasa memberikan kelebihan yang luar biasa bagi lawan jenis yang disebut peremuan. Saat itu, perbandinganku tidak jauh jauh dari kesimpulanku setelah mengahadiri shalat juma’at di sebuah mesjid di ibukota.

Bagi laki-laki, menghadiri jum’at adalah fardhu ain, dan akan mendapatkan pahala extra jika saat sedang berada dalam mesjid (jami’), ia berniat I’tikaf dalam mesjid tersebut, baik saat mendengar ceramah, ada pengajian, khutbah, sekedar duduk saja sambil melamun, atau hanya sekedar lewat (sumber : kitab Sabilal). Namun bagaimana enaknya jadi perempuan, saat si laki-laki harus kemesjid dan berniat I’tikaf untuk mendapatkan sesuatu yang extra, kaum perempuan hanya perlu duduk di rumah, berniat I’tikaf dan mendapatkan hal yang sama….luar biasa.

Kecemburuan jenderku makin menjadi ketika beberapa hari lalu aku berbicara dengan seorang teman yang asal swiss. Saat itu, salju mulai turun dengan derasnya di kota Bergen, Nowegia, dari jendela cafeteria tempat kami rehat sejenak setelah presentasi terlihat jelas gunung2 yang paginya hijau kini mulai memutih tertutup salju. Awalnya pembicaraan kami tidak jauh-jauh dari materi presentasi sebelumnya, bagaimana diskripminasi antar profesi di kampungku hampir tidak ditemukan di kampungnya, semua orang atau pegawai rumah sakit mendapatkan salary yang relatif sama, hanya pengalaman dan masa kerja yang mungkin sedikit membedakannnya, begitu menurut dia.

Namun pembicaraan menjadi lain ketika tiba-tiba dia berbicara tentang pengalamannya vacation  ke negara2 arab, ketika dia mengaku sangat suka dengan konsep bagaimana orang arab menyebut istrinya “rabbatul bait” atau dalam bahasa inggris dia terjemahkan sebagai “queen of the house”.  Bagiku, kata-kata rabbatul bait bukanlah hal yang baru mengingat aku juga pernah belajar bahasa arab di tsanawiyah dulu, tapi mendengar terjemahan dari seorang gadis pirang yang non muslim membuatku berikir dua kali.

Hal ini memang pernah aku dengar langsung dari pengakuan seorang kawan yang asal Palestina tentang perbedaan cara hidupnya di Eropa dan di negeri asalnya. Menurut dia, meskipun kampungnya saat ini sedang bergejolak, namun sebagai seorang perempuan iya merasa sangat nyaman, karena perempuan disana selalu dilindungi, didahulukan dan feelin’ protected, begitu istilah dia, sedangkan di eropa umunya, laki-laki dan perempuan sama saja, karena memang gendernya sudah sama? wallahu a’lam, tapi begitulah kesimpulan dia.

Kembali ke kawanku yang asal swiss, dia mengaku sangat salut dengan cara orang Islam (arab masih menurutnya semuanya Islam) memperlakukan istrinya, berbeda jauh dengan tempat dia berasal (dia dari zurich yang bahasa hari-harinya adalah bahasa jerman) dimana mereka menyebut istri sebagai “hausfrau” atau housewife. Menurut dia, kata-kata “hausfrau” atau “wanita rumah” sudah “tidak enak” atau mulai jarang digunakan karena wanita yang tinggal di rumah tersebut merasa tidak nyaman dengan sebutan tersebut, setidaknya begitulah menurut IRT-IRT dari tempat dia berasal.

Bergen 2Tidak mau kalah, aku bercerita secara singkat kalau dalam budaya dan bahasa dimana aku barasal, kami juga menyebut istri sebagai “po-rumoh/peurumoh” atau “yang punya rumah” dan aku rasa maknanya tidak jauh berbeda dengan bahasa arab tadi, karena di rumah, istri adalah penguasa dapur, mau masak apa saja suami tidak boleh ikut campur, bahkan ada beberapa daerah di aceh dimana suami dilarang ke dapur..hhhmmmmm,  kebatnya wanita di kampungku,capek-capek orang laki kerja dan bawa pulang belanja, sampai di rumah yang ngatur mau masak apa malah perempuan, begitu aku berkesimpulan.

Sorenya, masih jam 4 sore, tapi waktu di Bergen sudah malam, dan suasana memang sudah gelap, hanya lampu penerang jalan yang menjadi penerang para pejalan kaki di pedestrian di samping danau yang aku lupa namanya. Di bawah guyuran salju tipis, aku berjalan kaki pulang ke tempat ku menginap, dan waktu ini aku gunakan sekali lagi untuk berpikir hasil diskusi dengan perempuan Swiss tadi. Jika mereka saja mengagumi dan tau lebih banyak tentang budaya islam, kenapa aku sendiri justru tidak pernah berfikir tentang hal itu? Kenapa kesetaraan jender terus-terus di tuntut justru di daerah yang penguasaanya di kuasai perempuan? Apa maunya?

Melihat boat-boat yang parkir di tepi danau tadi, aku kembali berpikir, kenapa dalam bahasa inggris ada kata-kata “fisherman?”, tapi belum pernah aku dengar “fisherwoman?” Dalam bahasa jerman, nelayan disebut “Fisher”, Sebuah kata maskulin yang khusus ditunjukkan kepada kaum ada, apa tidak pernah ada nelayan yang perempuan? Kenapa pekerjaan berat sering di indentikkan dengan laki-laki? Kenapa tidak ada Fisherfau? Yang sering justru frau Fisher, nama yang umum di kalangan wanita Jerman, seperti umunya Max Munsterman.

Well, sambil terus menapaki pedestrian putih karena ditutupi salju tipis, aku berkesimpulan, betapa beruntungnya aku dilahirkan sebagai laki-laki di masyarakat yang sangat menghargai perempuan. Dan kali ini aku sangat merindukan seorang perempuan yang hobinya nyuci baju pakai tangan dan berkicau kepadaku ketika aku kadang makan sambil jalan.

I miss my mom😀

Bergen – Norway January 2012

12 thoughts on “Antara Housewife, Peurumoh dan Queen of the house!

  1. Tidak semua perempuan berkedudukan enak seperti yg anda tulis ,,,,,,gmana kalo ada perempuan yg cari duit sendiri , masak sendiri, merawat dan mendidik anak sendiri? Apa masih mau berubah jadi perempuan nii……..?

  2. Andai semua yang Bang Tunis bilang tentang enaknya jadi perempuan itu jadi kenyataan yah.. ahaha. Karena pada kenyataannya gak semuanya enak, entah jadi perempuan atau laki-laki..😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s