Namaku Ismi, Aku Perawan Tua (Bagian 1)

“Si mila ka na ureung lake hai nyak, mak jih peugah lheuh haji acara”, ibuku berkata pelan tanpa menoleh ke aku, ia sibuk menggiling bumbu kuah di bate gileng* di sudut dapur rumah kami.

“Alhamdulillah lah mak, si mila yg saboh glah ngen ismu kan?”

“ya, toh sit laen, sit saboh mila di gampong tanyoe, aneuk yahwa gani”,…//senyap//,

“nyak maneh kana cuco lom, lon leh pajan” ibuku menyambung, suaranya serak, baru kali ini aku mendengar beliau menyebutkan tentang cucu, aku sangat kaget, tapi mencoba untuk tetap tenang.

Sekali lagi aku menoleh ke beliau, anggukannya seirama dengan putaran ’batee peh”, kulihat beliau menaikkan ujung jilbab yang kadang-kadang jatuh. ibu sudah tua rupanya.

Susasana kembali sepi, tak ada suara yang keluar dari mulut kami, hanya bunyi gesekan batee peh asam dan bunyi gorengan di depanku, bunyi ayam berkokok atau bunyi burung yang berterbangan dari pohon ke pohon di belakang rumah kami hanya muncul sesekali. Sisanya adalah sunyi!

“Mak, dek is na dikirem pesan?“ aku coba mengalihkan pembicaraan.
“hom, sue hape na bunoe, kring kring meunan, tapi hana lon teupeu dari adek atau ken”
“hape supo?”
“hape abu keuh sang, bak sue meunan, di lon han lon tu-oh keleh”
“abu hana geu ba hape sajan?”
“boh pajan na tom geu ba hape abu kah, baroe na ureung telepon, di meusui na meu limong blah minet, lah na si man lewat di keu rumoh, ka kuyou cok bak jih, lon pak ku tuoh, rupajih yahwa gani telepon”
“Peu na hai yahwa gani telepon?”
“nye kueh nyan, geulake lumoo tanyoe saboh, gepuekawen si mala“
“ooo…, lon ci kelen, kadang sit dek is, bak hape lon ka trep hana di sms“ aku menjawab sambil mengeluarkan sisa kayu di atas dapur untuk masak lado tadi,
“nyan bek ka peu matee apui dilee“
“hana mak, manteng na, lon peutubiet ngeu manteng”

Aku bergegas menuju tangga, terus naik ke bagian rumah panggung, selanjutnya mencoba mencari dimana ayahku meletakan, ketemu!, di dalam buffet rupanya.
“ka abeh batre mak, nyan sue tanda ka abeh batre kadang bunoe“ teriakku sedikit keras dari tempatku berdiri, berharap ibuku dapat mendengar dengan jelas,
“ka cas treuk siat, lon hana meuphom sit masalah hape nyan“ jawab ibuku dari dapur.

Aku tersenyum, sebenarnya beliau bukan tidak meuphom, tapi memang tidak pernah mau tahu tentang barang elektronik. Pernah aku beli hape untuk beliau, tapi beliau simpan dalam lemari, tak pernah di hidupkan sama sekali, “ureung jak u blang keupeu hape, ngen soe ta sms? Ngen lintah?‘ begitulah jawab beliau berkilah ketika aku menyerahkan hape tersebut, tapi karena tak mau membuatku sedih, beliau tetap mengabilnya, walau, sekali lagi, tak pernah memakainya.

Ketika Aku masuk ke kamarku, kepalaku masih teringat2 dengan ucapan terakhir dari beliau tadi. Aku tahu betul ibuku sangat ingin aku segera berkeluarga, tapi beliau tak pernah memaksanya, bahkan untuk mengucapkan saja pakai sindirin, seperti yang beliau ucapkan tadi, dan itulah sindiran yang paling berat yang pernah aku dengar dari mulut beliau langsung!

Aku juga sangat jarang berbicara tentang masalah nikah dengan Ayahku. Seingatku sampai usiaku kini yang hampir berkepala empat, hanya empat kali kami berdiskusi tentang itu, ke empat-empatnya ketika aku dilamar oleh orang yang sayangnya tak satupun menjadi suamiku.

Sejujurnya, aku sangat bersyukur punya orang tua yang tak pernah mempersoalkan statusku ini, walau tuntutan lingkungan sangat besar, apalagi aku dipandang cukup mapan, seorang sarjana, guru sekolah dan juga PNS, menurut orang orang keadaanku sudah lebih dari cukup untuk berkeluarga. Namun, jodohku entah dimana.

Di kamar, aku sibuk mencari charger untuk nge cas hape ayahku, biasanya charger kubiarkan di colokan listrik yang ada dekat pintu, tapi kali ini tidak kutemukan. Aku jongkok dan coba melihat di bawah tempat tidur, juga tidak ada.”Di belakang meja tulis, mungkin jatuh“ pikirku, sekali lagi aku lihat di tempat yang sempit itu, tapi lagi lagi nihil.

Entah ide darimana, aku menarik kursi, selanjutnya naik keatasnya dan mencoba melihat di atas lemari, dan „yes! Akhirnya kutemukan. Kabel charger itu melilit di kepalanya, kulihat sedikit berdebu, karena memang biasanya ayahku punya charger sendiri, dan aku yakin ada di kamar beliau, tapi aku malas mencari, aku coba pakai charger usang yang pernah kupakai untuk hape jadulku.

Di samping charge, sebuah diary terletak disana, juga sudah berdebu, namaku tertulis kurang rapi di halaman depannyanya, itulah tulisan tanganku saat aku masih SMP.

Keduanya kuturunkan, kursi kuletakkan ke dekat meja dan hape aku coba cas dengan charger lama ini. „alhamdulillah, masih bisa“

Selanjutnya aku terduduk di atas kasur, bersandar ke dinding papan rumoh Acehku. Diary yang sudah lama tak kubuka kini ada di depanku. Kuambil bantal dan kuletakkan dalam pangkuan, selanjutnya aku sedikit tersenyum, melihat sebuah buku berisi kisah-kisah hidupku. Aku ingat, pertaman kali aku menulis diary ketika aku masih kelas satu SMP, hampir 35 tahun yang lalu!
Kini aku bernostalgia!

Halaman pertama bertuliskan namaku, dengan tinta warna biru yang cukup kontras dengan sampul berwarna merah jambu. “ISMI’ itulah nama yang tertulis disana, hanya dua kata, nama pemberian alm nenekku!

Aku membuka ke halaman pertama, sebuah foto aku dan adikku satu satunya “Ismu” tertempel disana. Kami berfoto di sebuah studio, aku berpakaian SMP, baju putih dan rok biru, sedang adikku yang lebih muda enam tahun dariku bercelana merah dan baju putih. Foto yang sangat polos, tidak ada gaya sama sekali, hanya menatap tajam ke arah kamera. Foto yang warnanya kini mulau buram karena dimakan usia.

Aku ingat, kami berfoto saat itu setelah kami membuat membuat pasfoto, di sebuah studio dekat dengan mesjid raya, itu juga kali ke tiga aku Banda aceh, sedangkan adikku, itulah kali pertamanya. Kami juga sempat berfoto di depan mesjid raya, tapi aku tak pernah tahu lagi dimana foto tersebut sekarang.

Kami ke Banda Aceh diantar oleh alm pamanku, karena ayahku memang sangat jarang ke ibukota provinsi ini, selain itu, pamanku yang kerja sebagai harlan juga tau lebih banyak tentang kota ini dibandingkan keluarga kami yang lain.

Dihalaman selanjutnya, aku menulis dengan lengkap biografiku, namaku, tempat tanggal lahirku, nama ayahku, dan nama ibuku. Sedangkan untuk alamat, hanya kukosongkan, karena kampung kami hanya punya nama kampung, tanpa RW/RT, apalagi nomor rumah.

Aku tersenyum kecil, tulisanku lebih rapi saat itu daripada tulisanku sekarang, aku ingat, untuk menulis semua itu, aku pakai rol diatasnya, sehingga bekasnya masih tampak hingga kini.

Aku tidak berlama2 di bagian ini, tapi langsung kubuka halaman di bagian tengah dari diary, bagian berpita putih, karena memang untuk bagian-bagian yang penting buat hidupku, aku membuat catatan lengkap, selanjutkan kuberi pita warna, berbeda-beda, tapi tak punya maksud apa-apa.

Dihalaman bertanda pita putih ini, aku tulis di tahun 1991, ketika aku baru saja menerima ijazah kelulusanku dari SMA. Judul yang kuberikan “kisah kasihku tak sampai“ dan inilah catatanku;

“Wahai diary yang selalu mendengar jeritan hatiku,
setelah pada Rabb, mungkin hanya padamu aku bisa berkeluh kesah
Hatiku wahai teman bisuku begitu gundah
Serasa langit tak lagi sunyi karena kegindahanku.

Diary, kisahku kali ini adalah kisah duka,
Kuharap kau masih mau mendengar ceritaku!

Diary, kau kenal bang fauzy kan?
Aku pernah cerita padamu,
Dia seorang insinyur, satu-satunya insyur di kampung kita.
Dan aku telah mengenalnya 4 bulan lalu, ingatkan saat aku curhat padamu?

Aku kenal bang fauzy sebagai sosok yang baik, pinter, dan juga tampan.
Bahkan kini beliau adalh pegawai negeri di jantho, tapi aku tak tau di kantor apa.
Diary, setelah perkenalan aku dengan beliau, beliau telah 4 kali mengirim surat padaku.
Aku sangat senang menerima surat beliau, dan semuanya telah kubalaskan

Diary, walau kita sekampung, tapi aku tak terlalu kenal dengan kepribadian beliau,
selain usia kami lumayan jauh, beliau lebih banyak menghabiskan waktunya di Banda, dari SMA hingga sarjana, tapi aku kenal ibu beliau. Ibunya „ nyak syam‘ juga kawan jak u blang dengan mamaku! Tapi dia lebih kaya, bahkan bang fauzy punya honda. Abu kan Cuma punya geutangen.

Diary, 4 surat yang pernah di kirim bang fauzy masih kusimpan, kadang-kadang aku baca, dan saat itu aku merasa yakin kalau bang fauzy adalah suami yang baik. Tapi kadang-kadang aku juga ragu. Aku juga ingin kuliah kamu tau kan itu?

Diary, aku ingin jadi sarjana juga, kalau abu tak ada uang, mungkin aku Cuma D3, kalau tidak sanggup juga, mungkin hanya D2, tapi kalau abu bilang juga gk sanggup, mungkin aku pecahkan celeng dan kujual emas yang kupakai sekarang, untuk kuliah D1, pokoknya diary aku harus kuliah, kamu setuju kan?

Diary, bang fauzy pernah bilang, kalau aku mau jadi istrinya,dia mau sekolahkan aku, biar sama-sama sarjana kayak dia, hebat bukan?
Diary, awalnya aku sangat yakin dengan bang fauzy. Tapi kemarin aku ketemuan dia di sungai, ditempat wisata itu. Tapi kamu jangan kwatir, aku jumpa dia dengan si mah dan si dar juga, jadi kami tidak main-main yang bukan-bukan, bang fauzy juga pergi dengan honda dengan kawan kantornya.

Kami duduk di dekat batu, si mah dan di dar juga selalu di sampingku. Aku tahu si mah suka juga sama bang fauzy, tapi dia kan ka di meucewek dengan di muslem?

Diary, bang fauzy kemarin cakap langsung, katanya dia mau melamar aku. Dia mau jumpa langsung sama mamak dan abu, tapi dia mau tanya dulu sama aku. Saat dia bilang begitu, mukaku merah padam, aku grogi, untung ada si dar, dia kan pinter maen lawak, tapi bang fauzy sangat serius.

Trus aku bilang, kalau aku cari suami yang bisa jadi imam. Bang fauzy bilang, malah dia anak mushalla di kampus, aku tidak tahu apa itu anak mushalla, tapi aku angguk saja, malu bertanya aku sama dia.

Trus kami pesan es krem yang lewat, bang fauzy hebat, dia bayar semua kami.

Setelah itu bang fauzy bicara lagi, mau gak aku jadi istrinya, aku tidak bisa kasih jawaban, si dar dan si mah sudah tolak-tolak suruh bilang mau, tapi aku bilang pikir-pikir dulu, soalnya aku juga mau kuliah. Kata bang fauzy, tidak masalah kalau aku kuliah, yang penting tunangan dulu.

Diary, setelah itu ada azan asar, aku tanya bang fauzy tidak shalat? Dia bilang iya, trus dia wuzuk di sungai itu, aku lihat dia wuzuk, sayang, tidak sempurnya, ketika membasuh tangan, airnya tidak sampai ke siku. Aku hanya diam saja.

Kami bertiga sedang tidak shalat, sedangkan kawan bang fauzy tidak tahu kemana, tidak ke mushalla. Aku tidak tahu.

Diary, setelah shalat, aku sebenarnya mau tanya ke bang fauzy kenapa dia wuzuk nya begitu, tapi aku malu, malah aku tiba-tiba ingin mengetes dia, dan saat kami duduk-duduk lagi, aku tanya tentang hari jum’at. Bagaimana orang laki sembahyang, karena kami tak pernah sembahyang di mesjid.

Bang fauzy cerita “ya seperti biasa, kita datang ke mesjid, trus dengar ceramah, trus shalat dua rakaat, trus pulang” begitu saja jawabnya. Ketika aku tanya apa bang fauzy bisa jadi khatib? Dia bilang belum pernah. kami anggok-anggok saja.

Trus aku tanya lagi, kalo khutbah itu tentang apa saja biasanya, dia bilang ceramahnya bisa tentang macam-macam, beda-beda tergantung khatib. Saat aku tanya beda khutbah dengan ceramah, bang fauzy bilang sama aja.setelah itu aku tidak tanya apa-apa lagi

Setelah itu kami jalan ke kedai yang ada di dekat sungai itu, trus makan mie. Kali ini juga di bayar semua sama bang fauzy,
Si dar senang sekali, dia bilang suruh pacaran saja aku sama bang fauzy, kan enak bisa di traktir makan selalu, tapi aku bilang aku gak suka pacaran, kalo jodoh langsung nikah, kenapa pacaran kalau bisa nikah, ya kan diary?

Kemarin melalui surat bang fauzy tanya lagi, bilakah aku mau menjadi istrinya, kalau aku mau, beliau mau jumpa langsung sama abu. Aku balas suratnya, aku bilang „maaf bang fauzy, saya mau kuliah, dan sebaiknya kita jadi saudara saja“ rupanya beliau membalas dan tidak ada marah sama sekali, bahkan mengucapkan selamat untuk aku, semoga aku bisa kuliah tahun depan.

Diary, sebenarnya aku sangat senang dengan bang fauzy, tapi aku harus menolaknya dengan dua alasan, pertama tidak mungkin aku mengikuti imam yang wuzuk nya tidak sempurna, sayang beliau shalat tapi belum beres wuzuknya.
Kedua, aku tidak mau punya suami yang rukun khutbah jum’at saja tidak tahu, jika saat aku tanya beda khutbah dengan ceramah saja dia tidak tahu, bagaimana bisa tahu dengan rukun khutbah itu sendiri. selain itu, seperti aku baca di sirus kemarin, bahwa tidak sah salat jum’at orang yang tidak tahu rukun khutbah jum’at.

Diary, dengan ini aku tidak menyesal menolak bang fauzy.

Agustus tahun 1991.
Ismi

Aku menutup lembaran ini, ingin kuperlihatkan kepada ibuku, tapi lebih baik cuma aku saja yang tahu. Air mataku menetes, terasa sedih, sesak, sepi dan hampa. Tapi alasan yang kuberikan saat itu membuatku yakin akan setiap jalan yang kupilih.

Lamunanku belum habis dan diary kecil itu masih ditanganku. Sebuah suara yang sangat ku kenal memecah kesunyian, „ismiiiiiiiiiiiii….pat droe keuh nyak?

“nyoe pat lon mak“

“Jak kuet boh limeng sunti siat, sang karap reudok“ kalimat memerintah melarangku untuk melanjutkan nostalgia melalui diary kecilku!

“jeut mak, lon jak jinoe“

Dalam hati aku berkata “boh limeng sunti, here I come” :D”

Moersalin
Berlin 291211

4 thoughts on “Namaku Ismi, Aku Perawan Tua (Bagian 1)

  1. nice bang… sangat menyentuh dan sangat dekat dengan realita hidup… saya setuju dengan ismi, bagaimana bisa menjadi imam dalam keluarga jika shalatnya saja tidak benar..

  2. nice story.. but sometimes we just need to think (for those unmarried yet) (including u urself :)) the right man/woman will come on the right time just pray for being the best person for the best person🙂
    mantap🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s