Ketika “Punk Aceh” jadi berita Dunia

Setelah konflik, Tsunami dan beberapa event lainnya, Aceh kembali menjadi berita dunia, tidak terlalu luas memang, tapi sangat layak diperhatikan. Jika tsunami bercerita tentang kepedihan, MoU tentang kesenangan, kali ini sedikit kontroversial. Berita tentang penanganan awak punk oleh pemko Banda Aceh dan Polda Aceh ditanggapi oleh sebahagian masyarakat dunia sebagai sesuatu yang melanggar HAM, walau tidak sedikit yang menudukung langkah ini.

Well, jika masalah ini masih hangat dan menjadi incaran media di dalam negeri, saya mencoba melihat di beberapa koran berbahasa asing di luar negeri.

Dengan bantuan google dan bing, dan kata kunci „aceh punk atau punk in Aceh“ saya temukan bagitu banyak berita tentang hal ini di internet. Di google saja, dengan kata kunci yang saya masukkan, terdapat sekitar 2,120,000 hasil dalam 0,25 detik. Tentu, tidak semua berita berhubungan dengan masalah penangkapan anak punk beberapa hari lalu memang, tapi tetap saja banyak.

Pertama saya coba lihat di Jerman. Di Negara asal pesepak bola Mesut üzil ini, setidaknya ada dua Koran (online) yang menulis tentang hal ini. Welt online pada hari rabu 14 Dezember kemarin misalnya mengankat berita “60 Punks bei Konzert zur Umerziehung verhaftet“ atau dalam bahasa indonesia kira-kira bermakna “60 punk di tangkap di sebuah konser amal“ dengan berita diawali dengan 4 buah foto (yang relativ sama dengan koran2 lain) dimana anak2 punk itu sedang di cukur dan sedang dimandikan. Beritanya juga kutipan dari sumber lain berupa komentar dari wakil wali kota, pihak kepolisian dan salah seorang anak punk yang ikut ditangkap. Menarik karena memang tidak ada komentar masyarakat yang disertakan dalam pemberitaan ini. Dan yang membuat saya terkejut adalah ada salah satu komen pembacanya „seandainya (anak punk) yang di alexanderplatz ikut di tertibkan, maka (Berlin) akan lebih baik“, namun banyak juga komentar negatif yang menyindir tentang syariat islam di aceh, menghubungkan dengan NAZI dan bahkan ada yang menghubungkan dengan batuan jerman pasca tsunami di aceh, walau banyak juga yang cukup fair dalam menanggapi berita ini.

Keesokan harinya, koran yang sama masih mengangkat berita yang bersangkuta dengan judul „Indonesien drangsaliert die eigene Jugend“ atau Indonesia melecehkan pemuda (warga)nya sendiri. tidak banyak yang bisa saya komentara dari berita ini.

Koran (online) Jerman lain yang berbasis di Berlin, Berliner morgenpost tidak ikut ketinggalan. Di hari yang sama rabu (14.12) bahkan koran ini mengangkat dua berita tentang hal ini, masing masing berjudul „Muslimische Umerziehung für Punks“ dan „Polizei steckt Punks in Umerziehungslager“ atau Polisi menempatkan anak2 punk di kamp latihan.

Dari jerman, saya coba ke negara tetangganya, Belanda. Awalnya saya coba search berita di salah satu koran online terbesar negara asal van Bommel ini, nu.nl. tapi saya kaget ketika tidak menemukan berita apa2 dari sini. Selanjutnya saya coba lihat di de volkstrat, dan beruntung radio Belanda NRW telah mensarikan beritanya.

Radio Belanda yang versi indonesia mengangkat judul „Penggundulan Anak-anak Punk di Aceh“. Menariknya, berita yang di sarikan tidak hanya dari de volkstrat, tapi juga dari HLN, koran dari Belgia. Berikut kutipannya: „Seperti De Volkskrant, koran online berbahasa Belanda dari Belgia itu juga menulis bahwa Aceh adalah satu-satunya provinsi Indonesia yang memberlakukan syariat Islam.
“Zina dihukum rajam, homoseksual dipenjarakan atau dicambuk dan jilbab diwajibkan kepada semua perempuan,” tulis HLN.be lebih lanjut. “Mereka juga dilarang mengenakan celana jeans ketat.” De Volkskrant menambahkan.
Anak-anak punk tersebut tidak hanya dicukur rambutnya, tapi mereka “derehabitasi”. Mereka dilatih ala militer dan disuruh mengaji.

Untuk kesimpulannya, silakan anda cerdasi sendiri.

Selanjutnya saya coba ke negaranya Arsene wenger. Yahoonews berbahasa perancis mengangkat berita „Il ne fait pas bon être punk à Aceh en Indonésie“ yang bermaksud kira-kira “tidak baik menjadi punk di Aceh”. Berita ini di sertai dengan video ketika anak-anak punk sedang dicukur, sedang dikumpulkan di suatu tempat dan ketika sedang mereka di mandikan dalam sebuah kolam yang menurut radio Belanda dianggap sebagai „mandi spiritual“, saya menarik nafas dalam, tersenyum ketir.

Selesai dari perancis, saya „nyebrang“ ke negaranya David Beckam, Inggris. Situs BBC.co.uk mengangkat berita „Indonesia’s Aceh punks shaved for’re-education’, sedangkan telegraph menuliskan berita dengan judul “Police shave the heads of punks in Aceh, Indonesia, and force them to bathe”.
Berita dari Telegraph ini sempat saya posting di wall Facebook dengan sedikit komen dari saya bahwa berita ini tidak seluruhnya benar. Seorang kawan yang asal Liverpool langsung memberikan komentarnya di wall saya, syukur dia cukup mengerti ketika saya ajak ketemuan dan saya jelaskan duduk perkaranya.

Dari Inggris, saya sebenarnya ingin mencari informasi lagi dari beberapa negara lain di Eropa, cuma karena belum makan siang, saya langsung terbang ke negara Barrack Obama (kali ini bukan pemain bola :D). The Washington post mengangkat berita “Hard-line Indonesian province shaves mohawks off punk rockers detained at concert”. Memembaca judulnya saja sudah membuat saya geleng-geleng kepala, Peu dipeugah awak nyan?

Tidak jauh dengan Washington post, voice of America (VOA) menulis “Sharia Police Arrest ‘Punks’ in Indonesia’s Aceh”, yang lagi-lagi membuat saya “measek ulee”, judulnya saja sudah salah karena yang tangkap mereka bukan polisi syariah, melainkan polisi biasa. Membaca beritanya, saya dapat informasi yang cukup provokatif, misalnya VOA menulis “Super conservative: Aceh is traditionally more conservative than other parts of Indonesia, bla bla bla, The province has specific Sharia bylaws that outlaw homosexuality and gambling, while adultery is punishable to death by stoning”. Sekali lagi saya terkejut, karena Seumur hidup, saya belum pernah mendengan ada orang Aceh yang dihukum dengan cara dilempat batu.

Sebelum kembali ke kampong, saya coba mengintip pemberitaan di Australia. Salah satu Koran disana, the age.com.au menulis judul “Police shave punks in Islamic crackdown” dan memulai berita dengan kata-kata “Police in Indonesia’s most conservative province raided a punk-rock concert and detained 65 fans, buzzing off their spiky mohawks and stripping away body piercings because of the perceived threat to Islamic values. Dog-collar necklaces and chains also were taken from the youths before they were thrown in pools of water for ”spiritual” cleansing. Selanjutnya silakan anda baca sendiri. Aaacyiih (maaf bersin)

Well, sebenarnya banyak Koran lain yang berbahasa spanyol, portugis, atau italia yang ikut menyebarkan berita (yang kadang-kadang bohong) tentang penertiban anak punk di Aceh. Namun saya sudah cukup kesal dengan apa yang sudah saya baca.

Untuk pemerintah kota Banda Aceh, saya sangat salut dengan kinerja anda, karena sejak kemunculan mereka di kota kita, kami sudah mulai kwatir, so jangan mundur dan jangan takut di tekan. Karena saya yakin, segala sesuatu yang berhubungan dengan islam atau Aceh pasti akan menarik perhatian dan bisa saja ditanggapi dengan cara berlainan.

Untuk pak kapolda Aceh, kali ini saya harus memberikan dua jempol saya untuk bapak, polisi seperti bapaklah yang kami rindukan selama ini. Untuk kawan2 lain warga Banda Aceh dan Indonesia, mari kita dukung apa yang telah kita lakukan aparata Negara kita untuk mengangani masalah punk ini. Karena kalau tidak, takutnya sekolah2 dan pengajian akan kosong karena ketagihan “gaya punk”. Dan jika semua orang jadi anak punk yang tinggal di jalanan, kepada siapa Negara ini nantinya di titipkan?

Ketika ada pemberitaan yang tidak benar atau tidak sesuai dengan kenyataan kita, maka tugas kita sendiri untuk membenarkan, karena kitalah yang paling tahu apa yang terjadi dan apa yang kita inginkan. Jangan langsung esmosi, apalagi anarki, tapi berfikirlah jernih dan berikan penjelasan.

Terakhir, kepada adek kami anak punk, semoga kalian bisa memdapatkan pelajaran di seulawah, dan kembali kesekolah serta memberika pesan ke kawan-kawa punk yang lain, bahwa untuk membangun sebuah bangsa, tidak cukup hanya dengan menjadi anak punk!

Maaf jika ada kesalahan
Wassalam
Moersalin
17 Dezember 2011

UPDATE BERITA
1. Tadi saya sempat bicara dengan seorang kawan yang bermukim di salah satu negara skandinavia, dan menurut beliau, isu penertiban anak punk ini tidak heboh sama sekali di negara2 skandinavia…smoga saja begitu..

2. Semalam, saya coba baca informasi tentang Punk di wikipedia versi bahasa inggris, dan betapa kagetnya ketika saya temukan bahwa isu mengenai punk di aceh ini sudah di hubungkan dengan sharia; berikut tulisan wikipedia:

In December 2011, 59 male and 5 female punk rock fans have been forced to have their hair cut, stripped of dog-collar necklaces and chains, bathe in a lake, change clothes, pray and have to undergo a 10-day moral rehabilittation camp run by sharia police. Police stormed the punk rock venue in Aceh, Indonesia’s most conservative province over perceived threat to Islamic values, but a local rights activist said; “The arrests breached the human rights. What the police have done is totally bizarre. Being a punk is just a lifestyle. They exist all over the world and they don’t break any rules or harm other people

Berita ini mereka sarikan dari sumber2 yang sudah saya sebutkan sebelumnya, dan seperti anda ketahui tidak semua yg diberitakan itu benar. khususnya masalah syariah, karena penertiban ini tidak ada hubungannya sama sakali dengan syariah di Aceh

3. Barusan juga dapat informasi dari sebuah koran online nasional yang katanya sekelompok anak punk di rusia mencoret2 kedutaan indonesia di moskow sebagai bentuk solidaritas karena kawan2 mereka ditangkap di Aceh. di KBRi indonesia mereka menuliskan “punk is not crime”, pertanyaannya, aksi vandalism yang mereka buat apa bukan crime?

Sekian dulu, 18.12.11

30 thoughts on “Ketika “Punk Aceh” jadi berita Dunia

    • apa seseorang itu tidak bisa merasakan kebebasan selain mnjadi anak punk?apa hanya itu pilihan hidup utk bsa mendapatkan kebebasan?dunia ini ga sempit, byk hal yg bsa kta lakukan utk mendapatkan freedom itu….

  1. makasih buat abang yg uda membuat artikel ini. Semoga dengan artikel ini, anak2 punk sadar klo mereka sedang dijadikan alat untuk menjatuhkan pemerintan,,,, apa yg diberitakan oleh media asing mengandung hiperbola yg sangat merugikan masyarakat aceh!! semoga anak punk sadar akan hal ini, jadi tau keputusan apa yg terbaik bagi mereka dan masyarakat aceh…

  2. Well, firstly i’d like to say “sorry” to the author.

    Saya justru merasa beberapa kata2 dari artikel ini justru hiperbola. Tidak semua anak punk itu seperti yang anda bilang. Negatif & merugikan masyarakat. Terlebih lagi dalam artikel anda yg berbahasa Inggris “please do not steal our kids from school!”

    Dalam hal edukasi, sangat banyak anak-anak punk yang berpendidikan (mungkin salah satunya saya). Bahkan personil band punk, seperti Bad Religion, menyandang gelar Master di bidang geologi dari UCLA dan meraih gelar Ph.D dalam bidang zoology dari Cornell University. Hanya saja sebagian besar anak-anak punk memang berasal dari keluarga yang kurang mampu.

    Seperti yang telah disampaikan Mas Marko di atas, dunia tidak sempit. Sebagian besar trend dan kreativitas saat ini berasal dari subkultur punk. Dan banyak sekali pergerakan2 anak punk di Indonesia maupun dunia yang bersifat positif dan membangun. Di Indonesia, salah satunya ada komunitas Punk Muslim. Sedangkan di Amerika Serikat ada “One Life, One Chance” dan banyak lagi lainnya.

    Saya adalah salah satu dari puluhan ribu anak punk di dunia. Alhamdulillah, saya memiliki kehidupan yang baik. Saya mengenal & “menjadi” anak punk dari usia 14 tahun hingga saat ini menginjak usia 26 tahun. Saya tidak merokok, tidak meminum minuman keras, dan tidak menggunakan narkoba. Masih banyak di luar sana anak punk seperti saya, bahkan lebih baik dan lebih sukses.

    Overall, menurut saya (dengan segala hormat) penilaian anda terhadap punk masih sangat dangkal. Ada baiknya jika ingin menilai & berkomentar panjang lebar ttg punk, wawasan anda mengenai punk harus lebih dalam lagi. Karena bacaan seperti ini adalah konsumsi masyarakat yang sangat luas, sehingga dapat menimbulkan persepsi masyarakat yang menyimpang.

    Terima kasih sebelumnya, salam🙂

    • Trima kasih mas Rio Atas komentarnya,

      Untuk lebih jelasnya, di tulisan saya, saya tidak penah menghakimi anak punk, kecuali mungkin di dua kalimat (jelasnya yg dalm versi bahasa inggris), pertama ketika saya menyebutkan kurang senang makan siang saya di ganggu pengamen punk, ini saya tulis krn memang ada sebagian anak2 punk yg “maaf” cara mengamennya sangat tidak sopan, saya yakin anda tau akan hal ini.
      kedua, ketika saya sebutkan, jangan curi anak kami dari sekolah, ini konteknya di Aceh, kenapa? krn banyak anak punk yg sudah bergabung di jalanan banda aceh tidak pernah pulang lagi kerumah, tidak lagi salat dan tidak lagi sekolah, itu tujuan saya.

      seperti yg saya tulis juga (dlm bhs inggris), saya juga penggemar lagu punk, dan saya sangat salut jika ada punk seperti anda, apalagi jika berhasil jd Doktor seperti yg anda sebutkan. tapi apa anda yakin dengan adek2 dan anak2 punk kami di aceh yg tidak sekolah bisa seperti itu?
      apa anda punya statistik brp anak punk yg kini jd jadi katakanlah org sukses secara edukasi atau ekonomi, dan yg masih tinggal di jalanan?

      saya sadar banyak kawan2 punk muslim yg jauh lebih taat, berpendidikian, dan saya sangat salut dengan krativitas mereka, saya sudah melihatnya di Koln, berlin dan beberpa kota besar lain, tp saya belum pernah melihatnya di Banda Aceh.

      terakhir, tujuan utama tulisan saya (sekali lagi yg khusus bahsa inggris) adalah untuk memprotes bagaimana pemberitaan miring yg di berikan oleh media massa barat terhadap kami orang aceh. bayangkan mereka menulis Aceh sebagai provinsi paling konservatif, hampir semuanya dilarang dan jika ada yg buat salah akan di lempar pakai batu hingga mati? siapa yg senang dengan pemberitaan seperti ini?
      sejauh saya tau, kami tidak pernah punya peraturan seperti ini.

      sekian, mohon maaf jika ada yg kurang berkenan dan salam kenal

      moerzal

      • Jujur, saya pribadi excited dengan jawaban Mas Mursalin karena pada awalnya saya melihat lebih mengarah ke anak punk secara umum tetapi jawaban Mas Mursalin barusan menegaskan “hanya” di Banda Aceh. Tentang hal itu saya tidak bisa berkomentar apa2, karena saya tidak mempunyai pengetahuan mengenai kondisi anak-anak punk di Aceh. Tetapi sangat disayangkan cara penanganannya seperti menangkap para kriminal.

        Untuk bukti statistik, mohon maaf saya juga tidak memilikinya. Tetapi pengalaman saya sewaktu di Bandung, anak2 (bisa dikatakan) punk yang bersekolah/kuliah jumlahnya sangat banyak. Beberapa orang yang saya kenal juga memiliki gelar S2, bahkan salah satu dosen senior saya pun berasal dari lingkungan punk.

        Mengenai kreativitas punkers di Aceh, saya rasa acara musik yang mereka adakan itu adalah salah satu bentuknya. Hanya saja tidak semua orang melihatnya demikian.

        Terakhir, saya sangat sependapat & mendukung tujuan utama pada tulisan Mas Mursalin untuk memberi penjelasan mengenai pemberitaan orang2 Aceh ke pihak luar. Saya yakin banyak orang2 yang mendukung tujuan mas tsb.

        Dan terlepas dari topik punk, semoga ke depannya citra Aceh lebih baik di mata dunia. Terima kasih🙂

  3. Ass Moersalin

    saya senang anda memposting beberapa berita dari luar tentang hebohnya berita Punk, setidaknya kita menjadi tahu betapa punk itu begitu tinggi solidaritasnya.

    Perlu saya klarifikasi untuk aceh sebab saya juga orang Aceh tinggal di Aceh dan tidak kemana-mana semasa konflik dan stunami di aceh, apalagi belajar ke negri orang. Saya hanya sedih melihat karakter orang aceh yang selalu menyangkut pautakan Antara Moralita, agama dan paham yang di anut oleh beberapa komunitas.

    Setahu saya Punk di Aceh sudah sangat lama sejak era 80-han, sebagain dari mereka memiliki idiologi punk, xebagain lagi juga ikut-ikutan yang ikut-ikutan ini adalah karena keluarag mereka miskin, Kekersan yang terjadi di rumah (ayah kawin lagi dll) dipukuli oleh orang tua dll. Ketika mereka berada di luar rumah yang mereka temui adalah komunitas ini, dan komunitas punk inilah yang “melindungi” mereka. Mereka sering dilecehkan, malah dihina, oleh orang-oarang yang merasa baik, bersih dan berkuasa malah berpendidikan, malah kami pernah dikata-katai tapi kami gak membalas kak, karena kami tidak mau membuat kekacauan, kami paham mereka orang-orang yang tidak punya hati. kutipan dari seorang punk yg curhat pada saya bilang kami merasa aman dengan kawan-kawan punk kami merasa di hargai layaknya manusia.

    Ini anak-anak punk Aceh, diantara mereka ada yang suka minum (mungkin cap tikus sya kuarang tau soa merek, berganja dll) tapi kami gak sanggup beli shabu2 atau narkoba mahal kak dan kalo ada di komunitas kami yang seperti itu pasti kami usir atau kami hukum. tapi apa bedanya kawan-kawan kami yang hanya minum- minumanan yang sangat murah dengan orang@ yang berpaiakn bersih minum di hotel ditemani perempuan2 wangi dan bawa pulang penyakit untuk istri dan anaknya, belum lagi baiaya yang mereka gunakan untuk nyabu, minum tersebut mungkin hasil korupsi. kami lebih kelihatan dari pada mereka karena kami Tidak Munafik, dan kami bangga bisa hidup tanpa mengharapa belas kasihan orang dan korupsi. setidaknya saya tidak makan uang korupsi kak. dan kami tidak menganut sex bebes kami orang-orang setia dengan pasangan kami.

    Berbagi cerita dengan anak punk yg belum di “garuk” oleh wakil wali kota banda Aceh yang sanagt meng idolakan Aceh bersyariah, namun melupakan esensial syariahnya : mengentaskan kemiskinan, melindungi anak-anak dari kekerasan, membuka ruang-ruang ekspresi bagi generasi muda, kita juga tau siapa walikota dan wakil wali kota toh mereka juga pernah muda dan mereka juga pernah merasakan “gairah muda” sebagai orang muda. maka sudah selayaknya bila ingin kota bnada Aceh benar-benar islami, mari kita bersama-sama menjaga kualitas layanan masayarakat (bukan hanya mengejar tropi) dan juga bukan hanya membentuk komite ini dan itu yang hanya menghabiskan anggaran belanja negara. bukan kah tugas negara Melindungi, memenuhi dan mempromosikan hak-hak manusia sebagai manusia.

    Semulia-mulianya manusia adalah yang memuliakan manusia itu sendiri .

    semoga kita tidak terjebak dalam kenaifan dan ke munafikan syariah islam yang besar dan rahmatan lilalamin ini hanya karena kita berbeda yang masih dapat didikusikan dan di ajak berdialog.
    Bukan kah berbeda itu Rahmad. Pak moersalin jangan gusar dengan masa depan anak aceh lainya, kalo bapak yakin bahwa wali/wakil wali kota harus memperjuangkan anggrannya untuk menangani fakir miski, melawan korupsi, meningkatkan pelayanan kesehatan dan memberikan perlindungan bagi anak-anak dan perempuan korabn kekerasan dan bila polisi tidak ada yang menjadi agen sabu, pemakai narkoba dan benar-benar menerepkan hukuman tanpa pandang bulu, serta tidak bisa di order tuk menjadi tukang pukul…. maka anak-anak bapak tidakan protes…..bapak bisa hidup dengan nyaman….. dana saya pun berharap yang sama

    salam

    Evi

    • Salam bu Evi,

      Jawaban saya terhadap mas Rio dan tulisan saya yg versi bahasa inggris merupakan tujuan utama kenapa saya menulis artikel ini. Intinya, saya merasa sangat2 iritated dengan pemberitaan yang tidak sesuai dengan realita.
      untuk jawaban yg ibu berikan, saya ucapkan terima kasih. smoga ada jalan yg lebih baik untuk adek2 punk kita.

      salam
      Moersalin

    • Kak evi yg saya hormati…
      hanya ingin mengingatkan kakak bhwa sharusnya kakak lbih teliti lgi dlm memberi komen…sya khawatir dgn komen kakak “semoga kita tidak terjebak dalam kenaifan dan ke munafikan syariah islam yang besar dan rahmatan lilalamin ini hanya karena kita berbeda yang masih dapat didikusikan dan di ajak berdialog.”… sharusnya kakak jgn mengkambing hitam syariah islam. Islam dtg sbg rahmat bgi seluruh alam, ia agama yg murni…kakak tdk shrusnya mngatakan syariah islam itu munafik dan naif….Islam tdklah sprti yg kakak bayangkan, nmun org yg mengiplementasikannya msih kurang optimum…smoga kta slalu di jln yg benar….trims….

  4. Pingback: Pro-Kontra Penangkapan Punker Aceh « Koki Kata

  5. Pingback: Berita Pelanggaran HAM Terhadap Anak Punk Di Aceh Sampai Ke Luar Indonesia. « infomed3b

  6. tidak boleh ada punk di Aceh. tidak boleh.tetap tidak boleh.. Kalau tetap mau jadi anak punk g usah di Aceh. tidak sesuai dengan aceh. aceh sopan santun. rapi, rambut tidak hancur-hancuran. kalau memang anak aceh asli insya Allah dia akan mengatakan tidak untuk punk di aceh. tetap tidak. punk titak sesuai dengan kami.

  7. K.E.B.E.B.A.S.A.N.
    Hargailah jerih payah Rasulullah SAW menyebarkan dan menyampaikan agama Islam,, pernahkah qt fikirkan saat Beliau menangis siang malam,berdoa siang malam, bersujud dan memohon ampunan untuk qt kepada Allah S.W.T siang malam, berkorban nyawa membawa qt menjauh dr jaman jahiliyah,dan banyak lagi,, bukan bersyukur tp malah masih saja MEMINTA KEBEBASAN? celana HARUS street,gak street,gak punk,apa itu kebebasan? rambut HARUS mohawk,gak mohawk gak punk,apa itu kebebasan? Rasulullah SAW mengajarkan qt banyak hal,salah satunya adalah berpenampilan rapih,,inikah balasan KITA terhadap air mata,do’a,bahkan nyawa Beliau ?
    oiya, PUNK itu gak dilihat dari “style dan fashion”nya bung,,

    • Maaf sebelum nya
      disini banyak kejanggalan dalam melihat sisi punk itu sendiri, seperti celana street atau rambut mohawk dan lain2, itu hanya simbol, hanya fashion semata..
      Punk hanya sebuah bentuk ideologi.. kami gak mesti harus street atau mohawk atau gembel..

      ya memang saya sesali banyak anak punk saat ini sudah jauh dari ideologi2 punk itu sendiri.. mereka hanya mengcopy paste penampilan luarnya saja..terus hidup dijalan,dan melakukan sesuatu yg merugikan orang lain dengan alasan kebebasan..

      saya pribadi juga tidak suka dengan hal itu.. mereka itu yg memberi stigma negatif dalam punk..padahal jauh didalam diri mereka bukan punk, hanya sekedar mencari kebebasan yg absurt..

      dan ideologi punk bukan anti tuhan.. kami memiliki tuhan..

      Saya muslim saya solat 5 waktu, saya berkeluarga dan punya anak 2, saya berkerja, saya menafkahi kelurga saya.. dan SAYA PUNK..

      kebebasan yg di maksud dalam punk bukan seperti yg anda tulis.. sangan sangat salah.. punk bukan sekedar aliran musik atau sekadar style berpakaian, melainkan sebagai konsep pemikiran atau ideologi dalam menjalani kehidupan, keritis dengan keadaan. dan dapat saling menghargai..

      dan kebebasan yg di maksud, kebebasan dalam arti pemikiran, kami bebas mengatur diri kami sendiri tanpa ada campur tangan dari orang lain atau pihak lain. tanpa merugikan atau mengganggu orang lain atau pihak lain..

      Kami melihat seseorang yang hanya menggunakan baju koko dan sarung, tapi seseorang itu menunjukkan perlawanan yang konkret sikap itu bisa dibilang juga seorang punk.

  8. tw ap dgn punk anda,,
    emng punk dilihat semua org ,dipandang sebelah mata,

    cba anda knli punk bgmna n ank” bgmna terjunlah,,
    jgn asal fonis punk bgmni bgtu,,
    dri crita yg g tentu,,,

    ingat bang sblum berkomentar lhat dulu ap yg ad tulis itu benar n g menggagu org,,,
    penilaian punk tentang artikel ini g setuju sama sekali,,,

    terikan oyoyoy dihatimu,,,
    maju trus sampai drah penghabisan,,,

    slam dri qw (WANTED SBY)

  9. MAJU KAWAN JGN TERTINDAS LAGI.,.,.,

    JGN SLAH MNILAI PUNK DARI SEGI NEGATIV COBA KALIAN LBIH DETIL LAGI DLM MNILAI,.,.,

    PUNK HNYA MNCARI KBEBASAN UNTUK BER EKSPRESI.,.,
    BUKAN BUAT KEKCAUAN .,.,.,

    BEBAS MERDEKA

  10. apa seseorang itu tidak bisa merasakan kebebasan selain mnjadi anak punk??
    klo hatinya ingin menjadi punk, apa hak anada melarang?? apakah ada orang lain yg melarang anda untk memeilih agama,
    klomasalahnya hanya punk tidak pantas hidup di aceh,,apakah di aceh tdak dapat menerima perbedaan??apakah krn punk bukn bag dr budaya kita?? trus apakah syariah itu termasuk budaya kita?? ( negara kita di bangun dgn perbedaan bung)
    cara mengekspresikan diri orang berbeda” bgtu juga dngan mrasakan kebebasan,.,.,
    PUNK hidup selama da penidasan, diskriminasi, kemunafikan.,.,

  11. indonesia adlh negara yg bragam suku,bangsa,budaya dll
    itulah indonesia. berbeda tpi tetap satu, bhwa sanya kita smua dilahirkan berbeda2..

  12. Yang pro Punk, terserah kalian mau menilai gimana.. Tapi ingat, Ini Aceh. Aceh harus terbina dari bibit Islam, bibit para singa, bibit pejihad. Kami tidak rela teman-teman kami menjadi pengikut kaum borjuis dengan pemikiran/ideologi yang jauh dengan syariah dan tauhid Islam.

    Bukan kami yang meminta Aceh bergabung dengan Indonesia, kami tidak pernah mengharapkan Indonesia menjadi sekuler sehingga menerima perbedaan tanpa filter. Kami mentoleransi apapun yang kalian lakukan, asalkan jangan di Aceh. Kami menghargai kebebasan kalian, tapi kalian juga perlu menghargai kebebasan kami.

    Rio: kami Aceh bung, syariah budaya kami. Harga mati kaum Islam, seseorang yang menyangkal syariah, maka lunturlah iman seseorang. Kalau anda bangga dengan perbedaan yang anda miliki, maka ikutilah perbedaan itu, tidak perlu membawa doktrin tersebut ke generasi kami.

    Kami tidak melarang generasi Indonesia menjadi Punk, asalkan jangan generasi Aceh. Kalau kalian berkunjung ke Aceh, kami menyambut dengan tangan terbuka asalkan tidak membawa embel Punk beserta ideologinya.

    Hiduplah dengan ideologi punk kalian, asalkan jangan di Aceh.

    • Monza yng terhormat
      apa anda sadar sikap penentangan dan perlawan atas sesutu yg bertentangan dengan diri anda sendiri, itu punk..

      kami tak pernah menyangkal syariah2 agama..
      punk bukan agama.. punk bukan kepercayaan.. Punk bukan kebudayaan..
      punk hanya sebuah ideologi atau pola pikir perlawanan atas sesuatu yg mereka rasa merugikan mereka dan kelompok nya. sama seperti yg ada terikan ini..

      yang membedakan pemikiran perlawanan ini datang nya dari dari kaum2 subcultur, kaum2 minoritas, kaum2 yg merasa termarjinalkan, yang tertindas.. makanya mereka menyebut nya PUNK,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s