Retardasi Moral Ureung Aceh?

Ouihh…keringat dingin membasahi pipiku yang kusuk. Setelah menapaki beberapa desa di sebuah kabupaten di naggroe tercinta ini..

Peluh yang mengering diganti keringat yang asin, tapi keindahan alam membuat batinku nyaman, rasa lelahku di puaskan pemandangan yang membetang luas…Aceh lon sayang

Perjalana kali ni emang bukan wisata, bukan pula tamasya, tapi punya misi khusus untuk melihat lebih jauh tentang rakyat naggroe yang hidup disana…yah…survey lah…

Setelah melewati beberapa kampung, kami berhenti di sebuah desa di kaki sebuah gunung, alamnya merdu, anginnya menderu, masyarakatnya bergerak pulang ke rumah, maklum, sang surya mulai redup sinarnya..

Di tengah kerumunan itu, kami memperkenalkan diri, serta maksud kedatangan kami, sebagian mereka menyambut, sebagian lagi “acuh gitu”…

Aku mengeluarkan beberapa lembar kertas berisi pertanyaan2 yang hendak kutanyakan kepada penduduk disitu, setelah kontrak wawancara ku ikat, segera saja pertanyaan meluncur mulus dari mulutku…hmmm

Namun,, tiba-tiba seorang lelaki paruh baya yang mirip orang baru pulang dari berkebun menghampiri respondenku…”nyoe peu buet lom ? (ada apa ini?)…aku mencoba menjelaskan apa yang sedang terjadi, bahwa kami dari Dinas kesehatan yang di bantu oleh sebuah lembaga Internasional sedang melakukan survey di desa ini, tapi jawaban yang panjang lebar kuberikan diacuhkan begitu saja, dia tetap menatap salah seorang responden kami, rupanya itu adalah istrinya, gelagatnya yang sangat tidak kooperatif dan sama sekali tidak sopan membuatku memilih untuk diam sementara….

Diskusi mulai kacau dengan kedangan si pria….sekali lagi aku coba menjelaskan, tapi dia tak mau tau, dia hanya izinkan istrinya berpartisipasi jika kami membayar mereka…? membayar mereka?

Ya, dia bersikeras…”nyoe peu peng diteubeit atau peng tamong? meunyo peng teubeit kajeut jak woe keudeh” Bentak si pria berkesimpulan….lha….gimana ni?

Sang istri tak berani melawan titah sang suami, segera saja dia meninggalkan kami, padahal dia adalah infor-woman utama untuk wawancara ini….(terpaksa cari respondent lain lagi)

Aku merasa sedih, kecewa, bahkan marah…kenapa semuanya harus di ukur dengan uang, kenapa harus semuanya berbayar? sudah begitu mahalkah sebuah kebersamaan di kampoeng ku ini? apakaha semua harus dibayar?

Itu hanyalah sebuah kisah ketir yang kualami kemarin…aku orang aceh…datang untuk melihat keadaan mereka, rakyatku sendiri… tapi di acuhkan. Tapi aku anggap itu masih mending, karena pada kesempatan lain aku malah di tolak mentah-mentah karena tidak membawa bantuan…apakah untuk “ngobrol” aja perlu bantuan? bukankah niatku hanya untuk melihat keluh kesah mereka, kebutuhan mereka, akses mereka terhadap kesehatan, yang ujungnya untuk kesejahteraan mereka, harus kubayar?…hmmm homlah…

Masih teringat jelas di rekaman memori kepalaku ini, setelah tsunami, saat aku menjadi relawan PMI, kami mempunyai misi untuk memebersihkan desa2 yang rusak or hancur akibat tsunami, kami mengajak warga asli kampung itu untuk membersihkan kampung mereka sendiri, tapi mereka lebih memilih cuek dan tetap tinggal di barak tanpa mau bekerja, hanya berharap bantuan dari BULEK polan, NGO pulen, datang ke mereka?

Sedihnya, mereka malah meminta UPAH dari kami UNTUK MEMBERSIHKAN RUMAH MEREKA SENDIRI?….(apakah Acehku se parah ini?)

Belum lagi orang yang tanpa malu-malu datang ke kantor2 NGO, BRR untuk meminta2 rumah,,,padahal mereka bukan korban tsunami, ada juga yang rumahnya udah 10 tapi masih minta di bangun lagi?…apakah acehku udah seperti YAHUDI?

Dulu aku juga banyak melihat anak-anak yang di “paksa” oarng tuanya untuk meminta-minta di pinggir jalan dari orang yang lewat…SEDANGKAN SI AYAH, hanya duduk-duduk di warung kopi, dengan segelas kopi pancung dan sebalut rukok oen, melihat anaknya “bekerja” untuk dia?….TERLALU….

Banyak kisah tentang Retardasi moral yang kini telah melanda nanggroe seuramoe ini. siapa yang harus di salahkan? konflik? Tsunami? I don’t think so…yang harus kita salahkan adalah diri kita sendiri, orang yang bangga dengan keislaman tapi gak pernah islami….(tidak semua tentunya)…

hmmm….

aku menarik nafas panjang, menatap masa depan generasi penerus bangsa ini. bangsa yang besar tapi dikerdilkan oleh penduduknya sendiri, bangsa yang “kemaluannya” terpotong oleh uang-uang yang seharga kwaci……

wallahu A’lam..

Langsa 20 January 2009

One thought on “Retardasi Moral Ureung Aceh?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s