Di balik budaya „Intat Bu“

Pernahkan anda bertanya kenapa budaya „intat bu“ ada dalam kehidupan masyarakat Aceh? Dari mana asal usulnya dan apa maksud dan tujuannya? Sejak kapan budaya itu ada dan sebagainya?

Saya sendiri pernah beberapa kali mencoba mencari penjelasan dari tetua yang ada di kampoeng, kampoeng saya yang tidak ada dalam peta, namun hanya jawaban „cit ka meunan adat, ka dari indatu tanyoe meunan geu peubuet“, yang sering saya dapatkan, kalau sedang beruntung, dapat sedikit tambahan „Adat bak po teumeureuhom hukom bak syiah kuala“, dan jika para tetua yang saya tanya merasa kesal karena juga tidak bisa memberikan jawaban, saya di hadiahi nasehat „kajak tanyeung bak po teumeureuhom keudeh“, jika masih maksa, justru kata-kata indah yang keluar „kajak beumeuasap keudeh, atau “kajak pileh boh sidom keudeh“!

Well, sebagai aneuk nanggroe yang baik (sorry jampok siket, dilarang protes :D), saya mencoba mencari sebab serta mencari alasan (ka lagee lagu awak kuala leuhob), kenapa budaya “intat bu” eksis dalam masyarakat Aceh.

„Intat bu“, atau dalam bahasa keulayu bisa diterjemahkan sebagai „antar nasi“, merupakan suatu adat dimana pihak keluarga suami mengantar nasi, buah-buahan, kue dan makanan lainnya ke pihak keluarga istri atau ke rumah pasangan dimana si istri sedang hamil sekitar 7 bulan. Bisa saja definisi yang saya buat ini salah, karena memang saya sendiri belum punya pengalaman, dan bisa saja budaya satu daerah/kampoeng berbeda dengan kampoeng laen, sekali lagi defini yang saya buat ini berdasarkan kebiasaan yang ada di kampoeng saya yang memang tidak ada di peta, tapi intinya ngantar nasi dan makanan lainnya ke ibu hamil 7 bulan. Istilah laen yang sedikit keren dan berBanda siket mungkin “tujuh bulanan”, Tapi saya lebih memilih menyebut istilah „intat bu“ karena itulah bahasa yang ada di kampoeng saya yang tidak ada dalam peta.

Seperti „syae“ diatas, bahwa bisa saja budaya ini telah ada sejak zaman Iskandar Muda, karena yang di maksud po teumeureuhom disinai adalah sang raja. Asumsi saya, raja membuat peraturan/atau adat seperti tersebut dengan maksud dan tujuan tertentu, namun alasannya tak pernah atau belum sempat di beritahu kepada masyarakat, atau mungkin hanya diketahui oleh kalangan ilmuwan atau ulama saat itu, namun apapun alasan, maksud dan tujuannya, menurut saya budaya ini sangatlah besar manfaatnya. Nah lho? How come?

Untuk diketahui, saat seseorang hamil maka setiap harinya dia membutuhkan intake kalori sekitar 150 kalori lebih besar dari pada biasanya, dan bisa terus bertambah hingga 250 kalori saat mau melahirkan. Begitu juga dengan intake 10 gram protein yang harus tetap dipertahankan sepanjang kehamilan. Kebutuhan seperti air, vitamin, calsium, zat besi, asam folat dan mineral lainnya juga meningkat. Dengan terpenuhinya kebutuhan ini, seharusnya si bumil sehat wal afiat selama kehamilannya begitu juga dengan janin yang di kandungnya.

Balik ke topik, gambaran singkat diatas cukup menjelaskan kenapa budaya „intat bu“ sangat bermanfaat selama masa kehamilan. Mungkin si ibu sebelum kehamilannya kurang mendapatkan asupan makanan yang bergizi, namun dengan adanya tradisi intat bu, maka akan mendapatkan makanan extra yang ia perlukan kerena memang sedang berbadan dua dan butuh asupan yang extra pula.

Seharusnya lah makanan yang di antar cukup bergizi dan sesuai dengan kebutuhan si ibu, tidak berlebihan dan tidak harus mahal. Dan yang paling penting supaya makanan yang di antar itu di makan oleh si bumil, bukan di santap oleh orang lain atau malah di bagi-bagi.

Hmmm….saya jadi mikir, apa zaman dulu staf ahli kerajaan sudah punya nutrisionist sehingga bisa merekomendasikan hal2 seperti ini? Atau budaya ini muncul begitu saja? Atau saya yang salah nebak? Pingin saya tanya lagi kepada tetua yang ada di kampoeng saya yang tidak ada di peta, tapi saya takut jawabannya „kajak lam..(censored) keudeh”.😦

Whatsoever deh, yang penteng, selamat hamil en selamat makan😀

Berlin, 191111, jam 00.00😀

4 thoughts on “Di balik budaya „Intat Bu“

  1. Tapi ibu hamil perlu nutrisi bukan di bulan ketujuhnya saja lho, melainkan sejak ia mulai konsepsi. Kalau baru usia kehamilan di bulan ketujuh baru nutrisinya cukup kemarin-kemarinnya nihil, uda hampir bisa dipastikan anak itu mengalami defisit nutrisi, bisa jadi perkembangan terganggu dsb.🙂

    • Lha di bawah kan ada saya tulis kalo emang si bumil mulai butuh tambahan nutrisi sejak mulai hamil dan bertambah banyak sampe melahirkan. kalo maslah kebutuhan di bulan2 laen mungkin bisa di hubungkan dengan budaya “ngidam”, mungkin nuril aja yg nulis ttg ini. saya jg pernah nanya knp hrs di bulan ke 7, tp gk pernah ada jawaban. so apapun dia, kita anggap saja sebagai sesuatu yang positif…:D

  2. Yang menarik dalam tulisan anda kali ini ialaaaaah ….. kampung saya yg tidak ada di peta wakakak……. kesian banget. Jangan di ulang2 dong peristiwa itu. Trus yg berikutnya ni….. asupan utk ibu hamil yg paling penting bukan nasi … Mas, tapi asupan dr bapaknya …….tauuk! Makanya jangan sok tau dong….. kawen sana….. baru nulis masalah ini, ok? Saya dulu gk pake acara 7 bulanan……. alhamsulillah kedua anak anak sehat2 dan baik2 aja, coz asupan dr bapaknya sangatlah lancar…….3 kali se minggu ni….wakakakak…..!

  3. HOaaaammmmmmmmmmmmmmmmmmmm….
    *intat dara baroe aja saya belom, pa lagi yg ini wkakakakakak😛

    Intinya sang ibu dimanjakan dengan nutrisi yg baik,,begitukah?😀
    bahkan pengalaman kawan, makanan yg dibawa pas acara “Intat bue” harus dihabiskan di hari itu juga….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s